Oleh : Siti Syamsiyah, 
(aktivis mahasiswi UNEJ?)

Mediaoposisi.com-Proporsi millennial di Indonesia menduduki angka 34,45% yang artinya menempati sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia. Generasi milenial atau gen Y merupakan generasi yang lahir antara 1980-2000. Beberapa peneliti mengungkapkan, generasi ini merupakan generasi yang uni. Keunikannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya pop/music yang sangat kental, kreatif, dan open mind (kompas.com). Millennials rata – rata mengalihkan perhatiannya pada PC, smartphone, tablet, dan televisi  27 kali setiap jamnya. Sehingga generasi ini sangat akrab dengan seluk beluk teknologi.

Tentu hal ini menjadi potensi yang luar biasa. Kemampuan kaum milenial banyak dilirik untuk mengusung ide ide sebuah perubahan. Bahkan sebuah pembangunan, kesuksesannya banyak dipercayakan pada kaum muda milenial ini. Kemampuannya yang mumpuni dalam bidang teknologi mempunyai potensi yang besar dalam menciptakan sesuatu yang baru, revolusioner dan solutif, dan menciptkana perubahan pada arah yang baik, sesuai dengan julukannya, agent of change.

Namun, tentu saja tak hanya potensinya yang dilirik dalam menciptakan pembangunan. Kaum millennial menjadi sasaran empuk pengusung ide ide bathil. Karakternya yang open mind, menerima secara terbuka dan toleran terhadap ide apapun, menjadi ancaman terhadap tergerusnya sebuah akidah, terutama muslim milenial.

Maka wajar, banyak pemuda muslim masa kini kehilangan identita kemuslimannya, karena tercemar dengan ide ide kebebasan yang digaungkan dalam produk produk fun, food and fashion, yang menjadi idaman milenial. Banyak dari pemuda muslim sekarang lebih tertarik menjadi social influencer dibandingkan peduli terhadap masalah umat.

Contoh paling banyak yang bisa dijumai adalah fenomena e commerce yang digerakkan oleh para pemuda. Ini hanya strategi para pengusaha membidik pemuda menjadi objek atau pasar dari produk produk mereka. Kegiatan e commerce kemudian menjadi ajang konsumerisme semata demi memenuhi kebutuhan sesaat pribadi dibandingkan melihat lebih dalam kemanfaatn dan pengaruhnya terhadap masalah umat (berandainovasi.com)

 Milenial dibidik dalam agenda dunia untuk menjadi dutanya, sebut saja Revolusi Industri 4.0. dengan segala kemudahan teknologi yang ditawarkan RI 4.0, menjadi idaman milenial untuk berkecimpung dalam agenda global demi sebauh eksistensi dan popularitas. Bukan menjadi sosok yang solutif lagi. Ia sibuk dalam kegiatannya, hingga lupa harapan umat menantinya.

Islam memandang pemuda bukan hanya sekedar sebuah wadah mengembangkan atau menjalankan sesuatu. Islam mencatat, kemajuan peradaban Islam masa dulu banyak diusung oleh pemuda. Sebut saja yang paling fenomenal kisahnya, Mush’ab bin Umair. Rasulullah SAW mempercayakan Mush'ab menjadi untuk mengenalkan Islam kepada penduduk Madinah, dan ia pun menunaikannya dengan cemerlang dan pantaslah ia mendapat julukan Duta Islam yang pertama. Tak hanya cakap dalam dakwah, ia juga seorang kesatria tangguh dalam medan peperangan (islampos.com).

Keadaan ini tak berbeda dari sekarang. Milenial muslim diharapkan dapat menjadi duta Islam selanjutnya. Sebab pada tangannya, pemikirannya dan idealismenya kebangkitan Islam akan tercapai. Dikala usia senja tekah renta dan tak mampu berfikir produktif, milenial dengan segala potensinya menjadi penggerak peradaban Islam selanjutnya. Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’I rahimahullahu Ta’ala kepada para pemuda;

……Eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketaqwaan
Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya
(Dalam Diwan Al Imam Asy Syafi’I halaman 33-34, Maktabah Ibnu Sina, tahqiq : Muhammad Ibrahim Salim).

Maka tak berlebihan jika muslim millennial menjadi energizer, seorang penggiat, pemberi dorongan ide ide segar demi tercapainya kebangkitan Islam, sesuai dengan kabar gembira Rasulullah SAW.
..kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam (HR. Ahmad).

Bahkan, sosok Khalifah yang dikenal dengan ketegasannya tak segan untuk meminta pendapat pemuda saat mengalami kesulitan.
Jika aku sedang mengalami kesulitan, maka yang aku cari adalah pemuda.
(Umar bin Khattab RA)

Pada masa inilah, seharusnya muslim milenial mengarahkan perhatiannya, demi bangkitnya peradaban agung dunia, yang melindungi segenap insan dan menebarkan rahmat ke seluruh penjuru bumi. Dan bukan lagi menjadi penggerak agenda agenda yang sejatinya menggerus potensinya sebagai seorang muslim.

Muslim milenial tidak boleh terjebak dalam ajang konsumerisme dan harus waspada dalam agenda global untuk menjatuhkan potensinya. Sebaliknya, minelial harus memanfaatkans segala potensinya demi terwujudnya kembali kebangkitan Islam yang telah lama tertidur. Kelak, inilah yang akan menjadi hujjah di hadapan Allah, bagaimana peran muslim milenial terhadap agamanya.[MO/sr]

Posting Komentar