Oleh: Indriyatul Munawaroh
(Aktivis Mahaiswa) 

Mediaoposisi.com- Tanggal 2 Desember atau 212 menjadi moment yang takkan terlupakan bagi kaum muslim di negeri ini. Momen apakah itu? Ya, reuni 212 kali ini bertemakan Aksi Bela Tauhid 212 yang bertempat di tugu Monas, Jakarta. Reuni 212 bukanlah sekedar reuni, akan tetapi ajang silah ukhuwah dan pembelaan terhadap Islam atas penistaan-penistaan yang masih terus berlanjut.

212 dua tahun lalu yang diawali oleh penistaan agama oleh Basuki Cahya Purnama alias Ahok menjadi titik tolok persatuan kaum muslim di Indonesia. Kaum muslimin di Indonesia yang selama ini terkenal toleran sudah tidak dapat menoleransi perbuatan Ahok tersebut. Dan karena iman yang tertanam dalam hati kaum muslimin maka terjadilah aksi ini.

Moment inilah yang banyak ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Persatuan atas dasar aqidah, tanpa pandang harokah semuanya saling sambung ukhuwah dan saling ta’awun (tolong menolong). Peserta yang hadir tentunya sangat merasakan ghirah (semangat) yang membara dari persatuan ini.

Biaya pribadi untuk ke tempat aksi, bahkan sampai-sampai ada peserta aksi dari Sumatra Barat yang mencarter pesawat demi hadir dalam momen spesial ini, menjadi bukti keseriusan umat ini. Tentu perjuangan dan biayanya tidaklah mudah dan murah. Jika bukan karena bekal iman, mereka tidak akan sampai di Monas.

Terlebih lagi saat di tempat acara banyak hal-hal luar biasa yang tidak pernah dijumpai dalam momen lain. Misalkan saja peserta difabel dengan kekurangan fisiknya tetapi tetap semangat turut serta dan juga kaum lansia yang tak kalah semangatnya hadir. Selain itu tak ada yang kekurangan pangan sedikitpun karena para peserta juga berlomba-lomba menyediakan shodaqoh terbaiknya, bahkan para penjual juga menggratiskan dagangannya untuk peserta.

Bahkan yang paling haru adalah seorang bapak-bapak dengan membawa permen dengan tulisan yang berisikan “silahkan ambil, maaf tidak bisa memberikan apa-apa selain permen”. Dan juga seorang pria dengan tas ransel yang bertuliskan “di sini menyediakan obat diare, pusing, masuk angin dll”. Sungguh mengharukan sekali bukan? Terlebih lagi ada sekelompok orang dari peserta yang siap untuk membersihkan tempat acara. Jangan dikira hanya sebatas itu saja. Masih banyak lagi kisah heroik yang tak terekam oleh pengelihatan, dari para santri sampai lansia.

Tak lupa Liwa dan juga Rayah (bendera putih dan hitam milik rasulullah bertuliskan laaillaha illallah) menjadi atribut utama dalam even ini. Puncak dari pembelaan terhadap bendera tauhid yang telah dinistakan dengan cara dibakar oleh sekelompok ormas. Dulunya yang tidak pernah mengenal bendera rasul ini menjadi sangat bangga dengan kehadiran Liwa dan Rayah di genggamannya, karena sejatinya ini adalah salah satu lambang persatuan.

Ada semangat persatuan ada pula yang nyinyir melihat harmoni ukhuwah ini. Ada yang mengatakan pesertanya dibayar, jumlahnya tak lebih dari ribuan, ditunggangi kepentingan politik, menambah kemacetan, buang-buang uang dan nyinyiran-nyinyiran lainnya. Itulah ketika Islam mulai bersatu, mulai menampakkan kekuatannya maka orang yang tak senang dengan bersatunya kaum muslim mulai membuat propaganda keji. Mereka yang tak pernah merasakan nikmatnya ukhuwah dan cinta berlandaskan aqidah, mereka yang tak merindukan Islam berjaya akan selalu berusaha membuat makar.

Tapi ini tiadalah berarti jika kita berpegang pada syari’at-Nya. Karena iman tak membutuhkan pengakuan manusia tapi hanya membutuhkan ridhonya Allah SWT. Suksenya Reuni Aksi 212 dengan kibaran jutaan bendera tauhid dan iman yang membara di hati para peserta menjadi bukti sekaligus tamparan keras pada pemerintah.

Bahwasannya yang selama ini dikalim bendera HTI oleh pemerintah tidaklah dipercayai oleh umat. Karena umat sadar dan paham jika bendera tauhid tersebut adalah milik seluruh umat muslim berdasarkan hadits diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu majah, kaanat rayatu rasulillahi sauda’ wa liwa’uhu abyadh, keberadaan panjinya rasulullah berwarna hitam dan benderanya berwarna putih.

Walaupun menggunakan kekuasaan untuk mengaburkan kebenaran tapi kebenaran itu pasti akan terwujud. Maka seberapapun usaha untuk mereka untuk merusak bunga yang berkembang mereka tidak akan pernah bisa menghalang datangnya musim semi. Allahu A’lam.[MO/sr]



Posting Komentar