Oleh : Ummu Aqeela

Mediaoposisi.com-Pornografi, kata yang berkonotasi negatif dan menjadi momok serta ancaman umat akhir-akhir ini. Bagaimana tidak menjadi ancaman jika pada saat ini mulai dari media sosial, media elektronik, surat kabar, majalah ,dan lain-lain , mengeksploitasi wanita menjadi objek dan sorotan untuk menarik perhatian.

Seperti kasus baru di Surabaya yang beberapa hari ini menjadi perbincangan dimedia. Berawal dari seringnya melihat video porno seorang pria warga Gresik ketagihan meminta pacarnya mengirimkan video ataupun gambar-gambar aurat kepadanya. Tak cukup satu kali, dia pun melakukan hal yang serupa terhadap enam mantan pacarnya.

Pelaku yang merupakan mahasiswa pasca sarjana di salah satu kampus negeri di Surabaya itu mengaku sudah melakukan perbuatannya sejak tahun 2013 hingga 2018. AKBP Arman Asmara Wadirkrismus Polda Jatim menyebut, tersangka melakukan perbuatannya untuk kepuasan batin semata. Hingga saat ini Polda Jatim masih mendalami terkait dugaan motif lain. ( Surabaya.net 06/08/2018 )

Hawa nafsu, memang itu adalah musuh terbesar manusia. Hawa nafsu dalam berbagai hal termasuk dalam menjaga kemaluan. Dalam Islam sendiri Allah begitu memuliakan umatnya dan memberikan rambu-rambu sebagai antisipasi penjagaan diri dari hal menyimpang syariat.

Misal saja kewajiban berhijab untuk wanita dalam QS Al Ahzab :59, dan perintah untuk menunduk-kan pandangan untuk kaum laki-laki dalam QS An Nur  :30. Namun di era sekulerisme sekarang ini memang menggenggam Syariat seperti menggenggam bara api karena begitu banyak suguhan-suguhan yang memang disiapkan untuk merusak umat dengan tujuan menjauhkan dari agamanya.

Fasilitas dari gadget pun semakin mempermudah seseorang untuk berselancar di dunia maya dan mencari informasi dalam berbagai bentuk video ataupun tulisan. Bahkan informasi dan video tidak pantas pun juga mudahnya kita dapatkan. Hal ini memperlihat betapa rapuhnya umat saat ini untuk menghalau hal-hal negatif dari luar.

Harusnya dari kejadian diatas membuat kita sadar dan mawas, mulai mengintropeksi diri dan bertanya mengenai peranan kita dalam pendidikan keluarga dan umat. Banyak hal yang menyebabkan berbagai peristiwa seperti diatas bisa terjadi, mulai dari lemahnya peran orang tua, cueknya lingku-ngan sekitar bahkan sampai mandulnya peran pemerintah dalam mengayomi seluruh rakyatnya.

Ini adalah pecutan untuk semua pihak dan sudah seharusnya bekerjasama untuk berubah dan merubah  menangkal situasi yang semakin parah. Perubahan kearah positif itu hanya bisa terjadi ketika semua pilar saling bekerjasama dan memfasilitasi satu sama lain. Ada tiga pilar yang diharapkan dapat berdiri kokoh menopang segala goncangan negatif dari luar.
Antara Lain :

1. Pilar Keluarga
Sebagai tampuk pertama dalam pendidikan dasar anak-anaknya keluarga menjadi pemeran yang sangat penting. Penanaman nilai-nilai agama dan rambu-rambu antara halal haram mulai diperkenalkan sedini mungkin. Akidah Islam yang kuat haruslah ditancapkan sebagai pengendali ketika terfikir melakukan hal yang melanggar batas agama. Sharing and Caring adalah dasar dalam pendekatan orang tua kepada anaknya.

Kedekatan secara emosional dan spiritual menjadi bekal yang mumpuni untuk menghadapi lingkungan luar. Peran ibu sebagai madrasah pertama terhadap anak-anaknya haruslah dikembalikan dan dterapkan secara sempurna, ibu adalah guru pertama dan utama untuk anaknya. Ketika seorang Ibu mencurahkan 100% waktu dan kasih sayangnya maka ini menjadi modal besar dalam perkembangan emosinal buah hatinya.

2. Pilar Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat adalah tempat kedua dimana umat menghabiskan banyak waktunya selain dirumah. Masyarakat menjadi tampuk kedua yang diharapkan bisa mengkontrol perkembangan secara moral. Sebagai lingkungan diluar rumah masyarakat berperan aktif sebagai CCTV dalam pergaulan luar.

Saling mengingatkan dan menasehati ketika hal negatif terlihat, karena perkembangan akhlaq tidak bisa hanya dibebankan 100% ke pihak keluarga. Ketika masyarakat pun menjadi kontroler maka kesempatan untuk melakukan hal yang bertentangan dengan syariat akan menjadi bahan pertimbangan lebih bagi pelaku.

3. Pilar Negara atau Pemerintah
Negara menjadi pemeran yang sangat penting untuk mewujudkan kokohnya pilar-pilar diatas. Ibaratnya adalah negara sebagai lahan yang luas haruslah menjadi lahan yang subur dan sehat. Ketika bibit remaja kita sudah unggul namun ketika negara tidak menfasilitasi dengan lahan yang subur makan akan sulit juga bibit itu tumbuh dengan sempurnanya.

Pengontrolan media televisi dan media sosial adalah menjadi peranan negara, karena negaralah yang mempunyai otoritas untuk masalah itu. Perhatian dan pemilihan terhadap tenaga didik yang mumpuni dan loyal tidak lepas dari kesejahteraan yang diberikan oleh negara untuk mereka. Kedua pilar keluarga dan lingkungan masyarakat tidak bisa berfungsi secara maksimal ketika negara lepas tangan untuk memberikan naungannya.

Cita-cita berdiri kokohnya ketiga pilar diatas, tidak bisa terwujud jika tidak berlandaskan Syariat Islam. Karena Islamlah sebagai pondasi kuat dalam mewujudkan kerjasama ketiga pilar itu. Ketika semua disandarkan ke syaria’at-NYA, maka kesadaran bahwa setiap pilar mempunyai peran masing-masing dan mempertanggung jawabkan peran kelak kepada Allah akan memotivasi diri berbuat semaksimal mungkin untuk Umat.[MO/ge]

Posting Komentar