Oleh: Novita Sari Gunawan
(Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Gemuruh suasana aksi reuni 212 lalu begitu mencengangkan. Walau derasnya pemberitaan kemeriahan aksi ini hanya bisa kita lahap melalui kanal media massa. Pasalnya, media-media nasional yang menjadi corong rezim ini seolah tiba-tiba mandul atas peristiwa spektakuler ini. Partisipasi dari netizen virtual lah yang membahanakan gaung  persatuan umat Islam yang berkumpul dengan kesamaan gelora iman Islam dalam dada-dada mereka.

Begitu banyak hal menarik yang tak habis-habis untuk diungkapkan terkait aksi tersebut. Salah satunya ialah suasana yang tertib dari sejak dimulainya aksi hingga di penghujung acara. Seolah tiap-tiap peserta menjadi komando bagi dirinya sendiri juga senantiasa saling menginstruksikan pada yang lain untuk selalu menjaga kebersihan dan melindungi fasilitas umum di sekitaran monas. Sebuah icon kebanggaan ibu kota tempat berlangsungnya aksi tersebut.

Tampak sekilas sederhana, namun hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Mengingat jumlah massa yang begitu besar, datang dari berbagai sudut wilayah tanah air ini. Walau berdesakan, jalannya acara khusyuk tanpa ada yang saling mendorong. Area aksi pun sekejap bersih tak berbekas sampah. Rumput-rumput tetap rapi tak tersentuh pijakan kaki. Begitu indah akhlak yang dipancarkan oleh mereka.

Perihal ini menunjukkan bahwasanya umat Islam memiliki kontrol sosial yang tinggi. Dimana fakta diatas berkaitan dengan kontrol sosial yang disandang oleh individu dan masyarakat. Disini menjadi gambaran yang terang, ketika kontrol sosial ditegakkan maka akan berimbas pada keteraturan. Tiap individu bertanggung jawab terhadap dirinya. Tak cukup disitu, saling menasihati dan mengingatkan terhadap sesama massa aksi dilakukan dalam rangka aktivitas ammar ma'ruf nahi munkar.

Kontrol sosial merupakan salah satu denyut nadi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanpa adanya kontrol sosial, maka kondisi carut-marut tentunya tak akan terelakkan. Dalam tataran individu dan masyarakat, jika kontrol sosial ditegakkan tak lagi setiap orang berperilaku sekehendak hati. Begitupun dalam tataran negara, para penguasa akan terhindar dari kezaliman karena senantiasa ditegakkan kontrol sosial oleh rakyatnya terhadap berbagai kebijakannya.

Namun yang terjadi pada masyarakat saat ini, kontrol sosial tak terejawantahkan akibat setiap manusia dijamin oleh hak asasi manusia untuk bebas menentukan keputusan dan memilih sikap. Akalnya sendiri yang menjadi hakim, tanpa menimbang perkara moral terlebih wacana halal dan haram. Maka tak heran, kerusakan bertubi-tubi menghujam tubuh tanah air ini. Jajaran penguasa pun mati hatinya dan memilih tutup telinga atas kritik dari rakyatnya. Mereka justru membuat perundang-undangan demi melindungi kebijakan dan kepentingan mereka.

Dampaknya, inilah yang terjadi kini. Reuni akbar 212 menjadi wujud dari kekecewaan rakyat atas gerak tangan-tangan penguasa saat ini. Seolah mereka menginginkan udara segar setelah begitu sesak oksigen yang dihirup selama ini. Ketidakadilan, fitnah, persekusi, dan kriminalisasi menjadi kado yang dihadiahkan kepada rakyat yang selama ini menegakkan kontrol sosial pada pemerintah. Hanya sudi menggandeng siapa saja yang satu haluan dan tunduk atas apapun kebijakan mereka.

Keindahan wujud aktivitas pada reuni akbar 212 hanyalah sekelumit saja. Keteraturan kehidupan sosial akan terwujud jika kontrol sosial tersebut benar-benar bisa ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kalau pertanyaannya, bagaimana bisa melihat mustahilnya hal ini tegak dalam sistem saat ini? Maka jawabannya adalah haruslah melalui sebuah institusi yang dapat melahirkan aktivitas kontrol sosial ini.

Umat Islam patut menyadari bahwasanya hanya dengan menerapkan sistem Islam, maka kontrol sosial sebagai sisi penjagaan syariah akan terkondisikan dengan maksimal. Karena benar-salah bukan lagi berdasarkan pendapat manusia. Melainkan berdasarkan hukum yang Allah turunkan untuk manusia. Kontrol sosial dalam Islam sebagai mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial yang bertentangan dengan syariatNya. Bukan sekadar norma dan nilai yang berlaku atas dasar perspektif manusia.

Khilafah merupakan sebuah institusi yang menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai dasar hukum. Aktivitas kontrol sosial akan berpijak pada kebijakan tersebut. Penguasa hanyalah sebagai pelaksana agar syariat ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Sebuah keniscayaan akan terwujud keadilan karena sumber peraturan berasal dari Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya. Menyatukan perbedaan sudut pandang yang lahir dari akal manusia. Tak tersekat oleh batas golongan, suku, adat istiadat, mazhab, harakah bahkan agama. Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a'lam biashshawab.[MO/sr]





Posting Komentar