Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jika Anda melihat air dalam tempayan bergolak, maka dasar tempayan dahulu yang memanas barulah energi itu meluap keseluruh permukaan air yang direbus. Air permukaan yang bergolak, menandakan air di dasar penampang tempayan lebih dahsyat lagi.

Kemarahan umat terhadap rezim atas abainya rezim melayani umat, mengurusi kemaslahatan umat, melaksanakan kewajiban menderma dan berbakti kepada umat, masih dapat ditahan. Sementara, bergolaknya militer, kemarahan mereka terhadap penguasa yang zalim, melebihi kemarahan yang dirasakan umat.

Bagaimanapun, militer yang lahir dan dibesarkan dari rahim umat dapat berdiam diri melihat semua ini ? Setelah penghinaan rezim begitu nyata didepan hidungnya? Ia adalah bagian dari umat, merasa sedih dan bahagia bersama umat. Militer juga putra terbaik Islam, karena itu rasa ridlo dan marahnya, selalu bersandar kepada Islam.

Apa yang dilakukan rezim saat ini kepada umat, masih belum terlalu membuat umat bergolak ketimbang penghinaan yang dialami militer. Militer pemegang senjata, penjaga kekuasaan, atas restu militer lah kekuasaan tegak, dan atas pelepasan loyalitas militer kekusaan akan tumbang, ternyata juga mendapat penghinaan yang lebih dahsyat dari rezim yang represif dan anti Islam.

Militer disudutkan pada pojok ruangan, tidak bisa bergerak kecuali atas restu rezim, sementara beberapa pucuk pimpinan militer telah menjadi penghamba rezim. Tidak lagi berbakti dan berkhidmat kepada umat.

Sesungguhnya, militer sangat ingin melepas rantai komando itu, agar segera melepaskan ketaatan kepada rezim dan segera melebur menjadi benteng umat. Militer sadar, jika umat sudah muak kepada rezim. Hanya saja, rantai komando itu masih kokoh dikendalikan rezim.

Jika rantai komando itu terlepas, dan mendapat tambatan untuk berkhidmat kepada umat, maka terbebaslah militer dan umat dari kezaliman rezim. Militer, tidak mendapat posisi dan andil dalam perubahan bersama sistem demokrasi, demokrasi telah meminggirkan peran strategis militer kecuali hanya sekedar menjadi satpam kekuasaan.

Kunci-kunci militer harus segera mengambil posisi, untuk menyongsong perubahan revolusioner, dalam upaya penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Daulah khilafah. Militer wajib mengambil peran, sebagaimana Sa'ad Bin Muadz yang menyerahkan loyalitasnya kepada Rasulullah SAW, mendukung beliau, untuk bersinergi bersama umat, menubuhkan Daulah Islam yang pertama di Madinah.

Pasca penubuhan Daulah Islam, militer Islam akan kembali pada peran sentralnya, bukan lagi menjadi satpam kekuasaan. Tetapi menjadi martir pengemban dakwah Islam, pembuka rahmat bagi semesta alam dengan ekspedisi jihad fi Sabilillah atas dukungan negara, dibawah kendali seorang Khalifah.

Saat ini, wahai militer mengendaplah ! Carilah tempat dan suasana untuk mengikrar baiat Aqobah pertama di era milenial ini. Pastikan, Anda memahami rincian perubahan sehingga Anda tenang dan Qonaah, memberikan dukungan dan pembelaan.

Wahai militer, rezim represif dan anti Islam ini tidak akan mampu menghina Anda, jika saja Anda paham posisi dan kedudukan Anda. Anda pemilik tali kekang kekuasaan, Anda adalah pilar kekuasaan kedua selain pilar umat sebagai penopang utama kekuasaan.

Rezim ini kehilangan legitimasi, pilar umat mulai meninggalkannya. Karenanya, tinggal pilar militer menggeser posisi maka kedudukan rezim ini pasti jatuh, semua ikatan politik buyar, dan semua pengkhianat negeri ini akan lari mencari suaka dan penyelamatan. Karena itu, tunggu apa lagi wahai militer ? Segeralah, berhimpun bersama ulama dan umat untuk mengembalikan Kemulian Anda, kemuliaan umat, kemuliaan Islam dan kaum muslimin.[MO/sr]

Posting Komentar