ilustrasi milenial dan pergaulan fatal

Oleh: Hana Rahmawati
Mediaoposisi.com-Pernikahan dini masih menjadi polemik ditengah masyarakat Indonesia. Meski demikian, hal tersebut masih terus terjadi dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi. Beberapa daerah di Indonesia menyumbang tinggi deretan kasus pernikahan dibawah umur.

Seperti yang tercatat di wilayah Tangerang, angka pernikahan dini meningkat tajam. Dalam catatan Pemkab Tangerang pada tahun 2016, angka perikahan dini mencapai 10-11 ribu pasangan. Angka ini melejit dibandingkan pada tahun 2015 yang hanya berjumlah 9.000 pasangan dan tahun 2014 yang berjumlah 7.500 pasangan. (Indopos.co.id, 31 Mei 2017)

Maraknya kasus pernikahan dini tidak hanya terjadi di Tangerang. Menurut catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang merujuk pada data Kantor Urusan Agama, Kementrian Agama Lampung Utara menyebutkan bahwa sepanjang 2 tahun terakhir, 2016-2017 terdapat 239 pasangan yang masih terkategori anak-anak menikah dini.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya kasus pernikahan di bawah umur. Seperti kebiasaan suatu daerah, faktor ekonomi dan mirisnya seringkali disebabkan karena pergaulan bebas. Faktor pergaulan bebas inilah yang menyumbang angka terbanyak alasan pernikahan dini terjadi.

Ada anak yang tidak tinggal dengan orangtua nya alias kos. ujar Rahmatulail Kabid Pemenuhan Hak Anak, di ruang kerjanya, selasa 17 April 2018. Tribunlampung.co.id

Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang pernikahan telah menyebutkan batas usia menikah. Usia ideal untuk menikah adalah 21 tahun. Tetapi jika mendapatkan izin dari orangtua, maka batas usia bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi laki-laki adalah 19 tahun.

Dampak pergaulan bebas antar remaja juga menyebabkan tingginya angka Kehamilan Tak Diinginkan (KTD). Faktanya KTD juga turut menyumbang tinggi deretan angka-angka pernikahan dini. 

Dilansir dari Liputan6.com, hasil Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) 2018 yang dikeluarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat, angka KTD di Indonesia mencapai 34,1%. Sungguh memilukan, di saat para pemuda seharusnya berkarya positif demi peradaban justru malah terkotori dengan membebek budaya kebebasan ala Barat.

Peran Orangtua dan Lingkungan Bagi Pergaulan Remaja

Faktor globalisasi sangat mempengaruhi sikap para remaja masa kini. Pengaruh budaya Barat yang tidak selalu positif dapat merubah pola tingkah laku generasi. Di perlukan andil berbagai pihak dalam mengendalikan dunia para remaja kearah positif bukan mengekor kepada budaya Barat yang serba bebas tanpa aturan.

Untuk itu, pendidikan mengenai batas-batas interaksi pria wanita telah diatur dalam Islam. Pengajaran akan hal ini sangatlah penting. Terlebih kita dihadapkan pada pertarungan ideologi yang sedikit demi sedikit meracuni pola fikir generasi.

Peran orangtua dirumah sangatlah penting sebagai agen pertama pembentuk akhlak. Keluarga adalah madrasah pertama mengawali pendidikan ini, terlebih pendidikan yang diberikan orangtua kepada putra-putrinya. Pengajaran ini tidak boleh terpisah dari penanaman akidah. Dengan begitu, pergaulan remaja dapat di arahkan.

Tidak hanya orangtua, peran masyarakat dan Negara juga di perlukan. Lingkungan luar harus ditata agar berkembang nilai-nilai ketakwaan bukan kemaksiatan. Kontrol masyarakat harus berjalan agar mampu menebar amar makruf nahi munkar. Negara pun memiliki kewajiban untuk menghapus peredaran konten-konten porno yang mampu membangkitkan syahwat para pemuda serta menyediakan sarana-sarana untuk meningkatkan kreativitas positif para remaja.

Solusi Islam

Islam mengatur tentang naluri-naluri yang ada pada manusia dan kebutuhan jasmani secaramanusiawi beserta cara pemenuhannya. Islam tidak mengekang dan juga tidak membiarkannya liar. Begitu juga dalam memenuhi kebutuhan terhadap naluri nau (syahwat) pada manusia. Islam memberikan jalan pemenuhan ini dengan melewati pintu gerbang pernikahan bukan dengan zina.

Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-israa: 32)

Sebenarnya naluri kasih sayang merupakan hal yang fitrah pada manusia. Rasa ketertarikan pada lawan jenis merupakan salah satu bentuk perwujudannya. Islam telah jelas memberikan jalan yang sesuai dengan fitrah manusia dalam memenuhi tuntutan naluri tersebut. 

Namun realita yang terjadi saat ini kebanyakan para pemuda salah arah dalam meluapkan rasa yang menjadi fitrah. Ikatan haram dibingkai judul pacaran Islami yang seharusnya dihindari justru menjadi kebutuhan. Dengan dalih memberi semangat dan sebagainya akhirnya maksiat menjadi terbiasa dikerjakan.

Sejatinya tidak pernah ada kebahagiaan dalam kemaksiatan. Maksiat hanya akan mendatangkan kerugian. Seperti yang di beritakan diawal Oktober lalu bahwa 12 siswi suatu sekolah di Lampung dalam kondisi hamil. Hal ini akibat dari pergaulan bebas antar remaja yang merajalela.

Disinilah Islam memainkan peranan penting. Islam menganjurkan pemuda yang telah sanggup menikah untuk segera menikah. Dalam Islam, tidak ada istilah nikah dini, karena Islam tidak membatasi usia pernikahan. Yang menjadi bahasan dalam Islam mengenai pernikahan adalah kemampuan dan usia akil baligh.

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. (Q.S. Annuur: 32)

Semestinya memutuskan menikah pada usia muda bukan hanya karena tuntutan hawa nafsu. Seorang muslim apabila telah berazam hendak menikah dengan tujuan menjaga diri, maka dia sedang berusaha tunduk kepada Allah SWT. Pemuda tersebut sedang memenuhi tuntutan nalurinya dijalan taat kepada Rabb-nya.

Pembatasan usia nikah sesungguhnya memberi peluang pergaulan bebas menjurus zina merebak. Hal ini karena di dukung oleh media-media sekuler yang mencontohkan kehidupan serba bebas tanpa aturan. Menyegerakan menikah juga telah di anjurkan oleh Rasulullah dalam haditsnya,

Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu memikul beban, hendaklah ia segera menikah. Karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Sebaliknya siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena hal itu dapat menjadi perisai baginya. (HR. Jamaah dari Ibnu Masud)

Oleh karena itu, Islamlah sebaik-sebaik aturan. Jika nikah muda dihambat, perzinaan melesat maka tiada yang sedang ditunggu kedatangannya oleh kaum tersebut melainkan azab yang kian mendekat.

WallahuAlam[MOvm]

Posting Komentar