Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Ah, entah kenapa setiap benak ini mengingat moment Reuni 212 di Monas, lantunan merdu derap langkah kaki yang saling berayun, riuh takbir, kibaran bendera tauhid, seakan mengonggok dihadapanku. Sebuah tayangan kolosal yang kukira mimpi, tapi mau bagaimana lagi ? Ini memang nyata.

Jutaan umat Islam berhimpun dalam satu semangat membela bendera tauhid. Dibawah naungan bendera tauhid, umat Islam mengadukan seluruh kezaliman yang dialami umat kepada dzat Illahi rabbi. Hambatan dan Ancaman menjelang reuni, dari yang halus, diplomatis sampai gaya preman, nyatanya tak mampu mengurungkan niat dan langkah kaki kaum muslimin untuk berhimpun di Jakarta.

Himbauan politisi demi keamanan, ujaran menkopolhukam yang anggap tak relevan, nyinyiran pendukung Jokowi, sampai ancaman 'akan ada peristiwa' jika reuni tetap diadakan tidak mempan dan gagal menciutkan nyali peserta. Bahkan, ada ancaman bagi yang berani membawa wanita dan anak-anak. Ancaman dan intimidasi itu tidak saja pada peserta, tapi juga pada ajaran Islam khilafah.

Lagi-lagi, khilafah dianggap ancaman, pemecah belah, bahkan reuni dianggap bagian dari agenda khilafah yang diusung HTI. Aneh juga, HTI mereka sebut telah dibubarkan, tetapi setiap kegiatan dakwah apalagi mengerahkan massa dan mengemban isu-isu keumatan, mereka terus dihantui HTI. Apalagi, kezaliman terhadap HTI tidak juga menghentikan mereka dari upaya menuding dan terus mendeskreditkan ajaran Islam khilafah.

Khilafah dituding pemecah belah, anti kebhinekaan, anti persatuan, anti NKRI. Padahal, tidak ada satupun nyawa bahkan setetes darah tertumpah oleh khilafah. Barisan peserta aksi reuni 212 yang rapih dan tetap menjaga adab, membuktikan tudingan dan klaim busuk atas aksi reuni 212 terbantahkan.

Tidak berselang lama dari aksi reuni, Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan pembantaian terhadap 31 pekerja Istaka Karya yang sedang mengerjakan proyek jalan di Papua. Anehnya, gerombolan yang getol menolak reuni, menuding khilafah anti NKRI, anti Pancasila, anti macam macam tak sepatah katapun mengutuk aksi brutal teroris OPM.

Wiranto selaku menkopolhukam tidak pernah menyebut OPM sebagai teroris. Menteri yang menuding Khilafah sebagai penyakit canser yang menggerogoti bangsa ini, hanya menyebut OPM kriminal, KKB, KKSB. Padahal, jika aksi brutal ini terjadi dan dilakukan umat Islam, pastilah label teroris segera disematkan.

Ya, tak lama setelah reuni 212 sukses, Habib Bahar bin Smith juga dikasuskan. Persis, seperti pasca aksi 212 dimana Habib Rizq Syihab dikasuskan. Kondisi ini mengingatkanku pada moment reuni, ketika umat bersatu tak ada satupun tangan rezim yang berani menyentuh.Persatuan, persaudaraan dan ukhuwah nampak begitu erat. Tidak ada perbedaan, seluruh Peserta reuni berhimpun dibawah kibaran bendera tauhid.

Rasanya rindu sekali momen reuni bisa berulang, berulang dan berulang, sampai kaum muslimin benar-benar disatukan dalam kalimat tauhid. Momen yang mampu menyadarkan umat, bahwa hanya kembali kepada syariat Islam dalam naungan khilafah saja, umat ini dapat bangkit dari keterpurukan.

Meskipun persekusi dilakukan rezim pada HTI, tapi khilafah tak mungkin bisa dihentikan. Kembalinya khilafah adalah janji Allah, khilafah adalah ajaran Islam, milik seluruh kaum muslimin, bukan hanya milik HTI.HTI hanya mendakwahkan kepada umat, tentang pentingnya kembali ada syariat Islam yang kaffah. Khilafah, adalah institusi negara Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Saat inipun HTI selalu dan tetap ada, bersama dan ditengah umat untuk terus mendakwahkan khila-fah. Tidak mungkin dakwah yang diwajibkan Allah SWT, bisa dihentikan oleh secarik kertas. Dakwah ini perintah Allah SWT, sepenjang hukum wajibnya dakwah tidak dinasakh, maka keputusan apapun dari rezim zalim, rezim yang represif dan anti Islam ini tidak akan mampu menghentikannya.

Khilafah adalah harapan terakhir umat, setelah kapitalisme demokrasi secara nyata menampakan kerusakan yang maha dahsyat. Kerusakan yang tidak terfikirkan sebelumnya. Tentu siapapun dari kalangan umat ini, akan berhimpun berada dibarisan khilafah dan menentang kezaliman rezim. Umat paham, siapa sesungguhnya yang khianat dan menelantarkan umat. Reuni 212 adalah ajang konsolidasi, perasaan keislaman, perasaan keumatan, akan mengantarkan umat pada kesamaan pandangan dan pemikiran tentang methode kebangkitan Islam.

Ya, pada saatnya umat akan menuntut diterapkannya syariat, umat menuntut ditegakkan khilafah, dan umat siap berhimpun lebih besar lagi melebihi reuni 212, untuk memberikan ketaatan dan baiat, kepada seorang laki-laki, muslim, dewasa, berakal, merdeka, adil dan memiliki kemampuan untuk mengemban tugas dan amanah sebagai seorang Khalifah, seorang Imam, seorang Amirul Mukminin. Semoga saja. [MO/ge]

Posting Komentar