Oleh : Halimah S.

Mediaoposisi.com-Panggung politik telah digelar untuk menyemarakkan pesta demokrasi 2019 yang akan datang. Perseteruan politik antar dua kubu seakan memberi tontonan kepada umat. Inilah akhlak elit politik kita. Kontelasi politik disuguhkan agar bercitra baik dan mampu menguasai panggung politik.

Sengaja ataupun tidak sengaja para pembesar kita tengah memberikan pendidikan politik kepada umat. Tengok saja penayangan film sang penista agama kemudian ditanggapi dengan kisah cinta Hanum Dan Rangga. Tentu saja fenomena ini dengan sengaja dipertontonkan kepada masyarakat bahwa adanya fakta persaingan antar elit politik demi menarik simpati umat dan pemenangan dikancqh politik.

Begitu juga adanya politik sontoloyo dan politik gendruwo. Bagai memercikkan air ke muka sendiri menunjukkan kebobrokan sistemnya sendiri. Dari sini sang elit sama dengan memberikan pendidikan politik bagi umat. Adanya persaingan dua kubu dengan hal hal yang tidak elegan dan berbobot.

Saling mengungkap kelemahan lawannya dan mempromosikan dirinya dengan pencitraan, ataupun klaim keberhasilan yang pada akhirnya kegaduhan politik acapkali meramaikan jalannya pemerintahan. Sedangkan berpikir politik adalah taraf berpikir level tinggi.

Di dalam Islam, pada prakteknya pemimpin tidak akan bertindak sembarangan dan mengucapkan kata kata yang tidak pantas. Ia akan menjalankan kewajibannya  sebagai pemimpin yang adil, tidak akan menindas rakyat, atau berani berbuat dholim pada umatnya. Rasa tanggung jawab yang tinggi sebagai pengemban syari'ah Allah, karena takutnya menghadapi hisab atas tanggung jawabnya terhadap rakyat dihadapan Allah SWT.

Adapun rakyat teredukasi dengan sistem politik Islam. Rakyat memilih pemimpinnya sesuai kriteria dasar dan syarat keutamaan dalam Islam. Di sisi lain ketika calon pemimpin mempromosikan dirinya yang dikedepankan adalah kapasitas kepribadian Islam dan kemampuannya sebagai negarawan untuk menyejahterakan umat dan menjaga eksistensi Islam.

Masing masing calon tidak akan mengungkap kelemahan dan mencari cari kesalahan. Apalagi pencitraan. Karena bagi seorang pemimpin, tugas pemerintahan adalah amanah dari Allah SWT.

Dalam politik Islam, pemimpin akan memberi pendidikan politik sesuai dengan ketentuan Islam. Jadi ketika pemimpin itu menjalankan roda pemerintahan tidak sesuai dengan syari'at Islam, maka tidak akan segan rakyatnya mempertanyakan roda kepemimpinannya dalam melalui wakil wakilnya. Jadi dalam sistem pemerintahan Islam tidak akan ada kegaduhan politik.

Seorang pemimpin akan menjadi teladan umatnya sebagaimana Rosulullah saw yang menjadi suri teladan bagi umat. Maka dari itu selayaknyalah kita mengambil teladan itu secara totalitas termasuk keteladanan dalam kepemimpinan dan merealisasikan sistem yang beliau gariskan dan contohkan, yaitu sistem Islam, melelalui penerapan syari'ah Islam secara menyeluruh. Termasuk syari'ah tentang khilafah.[MO/ge]

Posting Komentar