Oleh :Tri Maya
(Anggota Revowriter)
Mediaoposisi.com-Aksi 212 telah terlaksana dengan sangat gemilang. Berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari sholat tahajud berjamaah, subuh berjamaah hingga dzikir serta istighosah kubro juga orasi dari berbagai alim ulama dan tokoh telah terlaksana. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru daerah tak ketinggalan ikut meramaikan aksi tersebut. Meski pencekalan, propaganda serta opini negative terus-menerus digulirkan pra aksi 212, tetaplah tak membuat hati umat gentar untuk turut hadir dalam perhelatan akbar ini.
Kehadiran  para mujahid 212 sungguh semata hanya karena dorongan iman. Mereka rela mengorbankan harta, tenaga dan waktu untuk bisa hadir diacara tersebut Tampak selama acara berlangsung hampir seluruh peserta yang hadir berlomba-lomba berbagi apa yang mereka miliki, seperti makanan, minuman, obat-obatan, jasa pijat, jasa ojek atau bahkan jasa pelayanan kesehatan gratis yang dilakukan oleh teman-teman dari Helps. Saat acara berakhir pun umat tak tinggal diam. Dengan gesit mereka bahu-membahu menyisir setiap sampah yang tampak, hingga kawasan Monas kembali bersih seperti sedia kala.
Persatuan Hakiki Dibawah Panji Rasul
Makna persatuan kian melekat. Tak ada lagi perbedaan harokah, mazhab atau pandangan politik tertentu menjadi penghalang mereka. Umat Islam benar-benar menunjukkan jati diri yang sebenarnya sebagai ummatan wahidah. Persatuan kaum muslimin kian mengental pasca penistaan agama yang terjadi berulang-ulang. Mengutip pernyataan Ustadz Ismail yusanto yang mengatakan, “kehadiran umat disitu tidak bisa dilepaskan dari momen penistaan agama. Ini spirit untuk menjaga itu, ketika rezim ini tidak mampu, maka umat berusaha hadir.
Pemerintah sekarang tidak bisa melaksanakan fungsinya, “ujar  Ustadz Ismail. Sungguh penistaan agama yang terus berulang, terakhir pembakaran bendera tauhid oleh oknum tertentu telah menyulut amarah umat. Umat semakin tersadar akan pentingnya sebuah persatuan. Umat semakin memahami dibutuhkannya sebuah penjaga hakiki (Negara yang berhukum kepada Al quran dan as sunnah) agar penistaan tak berulang. Disinilah pentingnya menangkap point meningkatkan kesadaran politik umat kearah yang benar.
Disamping itu perhelatan akbar 212 memiliki esensi persatuan yang luar biasa. Tampak ukhuwah umat Islam begitu kental terasa. Kuatnya dorongan persatuan untuk membela kalimat tauhid menjadi spirit yang membara. Umat mulai memahami urgensitas kalimat tauhid bagi keimanan seorang muslim. Pembelaan atas kalimat tauhid adalah harga mati. Dan umat pun menyadari bahwa alam demokrasi dengan segala macam atribut kebebasannya, akan senantiasa menumbuh suburkan terjadinya pelecehan serta penghinaan kepada Islam, ajarannya, dan juga umat nya. 
Sejatinya persatuan umat dibawah bendera tauhid  bermakna umat menginginkan tegaknya hukum-hukum Islam dalam sebuah institusi Negara Islam. Demokrasi telah menampakkan kegagalan demi kegagalan dalam menjaga dan mengurusi umat. Tengoklah tingginya angka kerusakan moral, kriminalitas, kemiskinan, ketidaksejahteraan, pengidap L98T, HIV/AIDS, dan banyak lagi kegagalan yang bisa kita lihat dengan data yang gamblang.  Sungguh spirit 212 adalah sebuah momentum akan hadirnya fajar kemenangan. Insya Allah. Wallahu a’lam bish showab.[MO/sr]


Posting Komentar