Oleh: Dian AK 
(Women Movement Institute)

Mediaoposisi.com-Ketegangan di wilayah Papua tampaknya belum berakhir. Keganasan dan kebiadaban gerakan Separatis Papua Merdeka atau dikenal dengan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) lagi-lagi memakan korban. Terdapat 23 pekerja PT Istaka Karya telah dieksekusi mati pada tanggal 1 Desember 2018. Tak berhenti di sini, mereka pun mengejar dan mengeksekusi 8 pekerja lainnya yang tengah bersembunyi di rumah anggota DPRD Papua pada 2 Desember 2018. Mereka tega menghabisi warga sipil yang notabene pekerja proyek Trans Papua lantaran telah menonton dan memotret kegiatan upacara Hari Ulang Tahun Organisasi Papua Merdeka. 

Peristiwa penembakan para pekerja oleh KKSB semakin menguatkan dugaan bahwa mereka tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang mengusik keberadaan mereka, termasuk warga sipil sekalipun. Layaknya perilaku barbar dan tidak mengenal belas kasihan, aksi teror mereka kerap membuat warga Papua sendiri resah.

Kelompok yang dipimpin Egianus ini pernah menyandera belasan guru dan tenaga kesehatan Mapenduma, Nduga bulan Oktober 2018 kemaren. Lantas, apakah perilaku bejat mereka akan terus didiamkan?
Tentunya hal ini tak bisa dianggap remeh namun perlu langkah-langkah tegas dan serius dari pemerintah.

Pertama, menetapkan mereka sebagai kelompok teroris.
Sudah sangat banyak fakta-fakta perilaku mereka yang mengancam nyawa dan memakan korban sekalipun tak bersimbolkan Islam, tindakan mereka sudah lebih dari cukup untuk menggolongkan mereka sebagai teroris.

Kedua, melakukan penyerangan layaknya terhadap teroris dan pemberontak yang berusaha memecah Indonesia.

Dalam hal ini, upaya negosiasi sudah tak mungkin dilakukan, apalagi tujuan mereka yang ingin menyeru untuk pembebasan Papua telah memakan banyak korban. Maka tidak boleh tidak, Indonesia harus mengerahkan pasukan baik Densus 88 dan TNI dengan tujuan membersihkan Papua dari teroris macam KKSB yang nyata-nyata menggerogoti keutuhan Indonesia.

Patut kiranya kita menengok sikap tegas yang pernah dilakukan Rasululloh di Madinah, tatkala beliau sebagai kepala negara mampu bertindak tegas kepada Yahudi bani Nadhir warga Madinah. Sikap tegas ini ditunjukkan melalui upaya pengusiran terhadap mereka manakala keberadaan mereka telah mengganggu dan membuat kericuhan warga Madinah yang lain. Bahkan tak segan-segan untuk memerangi mereka apabila perintah pengusiran tak diindahkan.

Maka sudah selayaknya bagi Indonesia untuk mencontoh sebaik-baik tauladan yaitu Rasululloh Muhammad saw, bagaimana tindakan tegasnya mampu membuat sebuah negara tak lagi dipandang sebelah mata baik oleh warga negara sendiri maupun negara lain. [MO/sr]

Posting Komentar