Oleh: Sa’adah
(Aktivis dan Pengajar)

Mediaoposisi.com-Berbagai fenomena bom bastis telah banyak terjadi sepanjang tahun 2018 di negeri kita tercinta, Indonesia. Mulai dari bencana alam, hirup pikuk permasalahan bangsa; maraknya korupsi, penyerangan dan kriminalisasi ulama, pembubaran ormas Islam, menjamurnya LGBT, phobiasasi terhadap Islam, distosia kalimat tauhid, pembakaran bendera tauhid di hari santri, hingga pergolakkan politik ditengah-tengah umat; aksi bela kalimat tauhid di berbagai daerah dan reuni 212 dalam rangka bela kalimat tauhid. Begitulah sekiranya kondisi mengkhawatirkan dari bangsa kita.

Banyaknya fenomena yang terjadi bukankah membuat kita berfikir kenapa demikian? Lalu jika kita acuh dan ini dibiarkan akan jadi seperti apa negeri ini kedepannya?
Akhir tahun sudah seharusnya dijadikan ajang untukbermuhasabah bagi kita semua, khususnya  para penguasa.

Dalam reuni 212 kemarin ada satu penggalan kalimat yang menggugah dari kutipan pidato Ust. Hebieb Rizieq Shihab bagi kita semua. “Selamaini di Negara Kesatuan Republik Indonesia kita sangat merasakan kuat indikasinya adanya gerakan sistematis dan structural yang ingin menghancurkan sendi-sendi kehidupan beragama dan berbangsa, serta bernegara… dengan menghalalkan berbagai cara”. (islampos.com)

Saudaraku, sudah saatnya kita melek dengan apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita bahkan dunia Islam saat ini dan mulai memikirkan bersama solusi mutakhir yang mampu menuntaskannya demi kemashlahatan umat.

Umat yang kian hari kian geram dengan kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat, korupsi yang semakin menjadi, kemorosotan moral yang kian memprihatinkan, penistaan agama, penhinaan ulama dan Islam dan lainnya tidak lain dan tidak bukan karena diterapkannya sistem kufur demokrasi saat ini. Kebobrokan demokrasi semakin hari semakin jelas memperlihatkan wajah aslinya, umat yang semakin cerdas kini semakin menginginkan perubahan yang hakiki.

Perubahan hakiki yang sesungguhnya adalah perubahan yang merubah diri dan kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya, artinya tidak ada stagnanisasi didalamnya. Satu-satunya solusi bagi permasalahan umat saat ini hanyalah dengan mencampakkan sistem kufur demokrasi dan kembali pada sistem yang diridhai Allah yakni sistem Islam.

Karena Islam rahmatanlila’laamiin dan hanya kepemimpinan Islam lah yang dapat menghantarkan kepada perubahan yang hakiki. Melalui aktivitas politik yang massif dan mengemban dakwah Islam sebagai ideology yang tentunya harus diterapkan secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah ‘alaa min hajj nubuwah. InsyaAllah. Aamiin.[MO/sr]

Posting Komentar