Oleh : Binti Adib, S.Pd

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu yang lalu,diberitakan bahwa  ulama Lebanon Syeikh Zubair Utsman Al Ju'aid mengajak umat Islam di Indonesia tidak tergoda dengan sistem pemerintahan kekhalifahan karena di masa kini model pemerintahan itu justru bisa menyebabkan ketidakstabilan (ANTARA News).

"Jangan terpecah, terkecoh dan terpengaruh dengan rayuan untuk mendirikan negara khilafah atau bentuk negara selain saat ini," kata Syeikh Zubair dalam kesempatan peringatan Maulid Nabi Muhmmad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu 8 Desember  2018. Ketua  Organisasi  Jamiat Al Amal Al Islamy Lebanon itu mengatakan Indonesia dengan sistem demokrasi saat ini sudah baik dalam mengakomodir nilai-nilai ke-Islaman.

Islam yang dipraktekkan di Indonesia, kata dia, merupakan contoh baik yang sejalan dengan demokrasi. Indonesia juga merupakan negara yang aman sehingga tidak ada kepentingan mendesak sistem kekhalifahan didirikan di Indonesia. Lebih dari itu, menurut dia, sistem demokrasi di Indonesia sudah menerapkan syariah yang baik.

Persoalan khilafah sebenarnya persoalan keyakinan akan janji Alloh. Khilafah adalah  ajaran Islam . Khilafah bukan persoalan suka atau tidak suka. Ada beberapa nash yang menunjukkan khilafah adalah ajaran Rasulullah.

“Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada Khilafah dan rahmat” (HR al-Bazzar).

Kata khilâfah dalam hadis ini memiliki pengertian: sistem pemerintahan, pewaris pemerintahan kenabian.  Ini dikuatkan oleh sabda Rasul saw.:

“Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Sungguh setelah aku tidak ada lagi seorang nabi, tetapi akan ada para khalifah yang banyak “(HR al-Bukhari dan Muslim).

Pernyataan Rasul saw., “Sungguh setelah aku tidak ada lagi seorang nabi,” mengisyaratkan bahwa tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang menggantikan beliau. Khalifah hanya menggantikan beliau dalam tugas dan jabatan politik, yaitu memimpin dan mengurusi umat.

Dari kedua hadis di atas dapat kita pahami bahwa bentuk pemerintahan yang diwariskan Nabi saw. adalah Khilafah. Karena itulah menurut Imam al-Mawardi, “Imamah (Khilafah) itu ditetapkan sebagai khilafah (penggganti) kenabian dalam pemeliharaan agama dan pengaturan dunia dengan agama.” (Al-Mawardi, Al-Ahkâm ash-Shulthâniyah, hlm. 5

Syaikh Abdullah bin Umar Sulaiman ad-Dumaji dalam kitabnya, Al-Imamah al-‘Uzhma ‘inda Ahl As-Sunnah wa al-Jama’ah (hlm 49-64) mengemukan beberapa ayat al-Quran sebagai dalil atas kewajiban menegakkan Khilafah di antaranya adalah QS an-Nisa [4]: 59, QS al-Maidah [5]: 48-49, QS al-Hadid [57]: 25 serta ayat-ayat hudûd qishâsh, zakat dan lain-lain yang pelaksanaannya dibebankan kepada Khalifah. Rasulullah saw bersabda, yang artinya : “Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat (kepada Khalifah) di atas pundaknya, maka matinya mati Jahiliah “(HR Muslim)

Menurut Imam ath-Thabari dalam Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, generasi awal Islam yang hidup pada kurun terbaik telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap urusan Kekhilafahan. Para Sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali r.a. dan para Sahabat besar lainnya bergegas mengangkat seorang khalifah tatkala khalifah sebelumnya mangkat atau karena ada sebab-sebab syar‘î  lainnya. Ini menunjukkan bahwa menegakkan Khilafah adalah wajib.

Terkait  adanya kekhawatiran bahwa kekhalifahan akan menciptakan ketidakstabilan, ini hanyalah asumsi. Ketidakstabilan itu sebenarnya muncul dari rezim diktator yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Konflik   Arab Spring yang berkepanjangan sebenarnya disebabkan rezim yang berkuasa  dalam menghadapi para pejuang  dibantu penjajah kafir. Penjajah membentuk ISIS untuk mencitra burukkan pejuang Islam. 

Islam Kaffah Tidak Mungkin Terwujud  Dalam Sistem Demokrasi.
Sejak kemerdekaan hingga kini, sekulerisme mengatur Indonesia.  Terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Tidak diterapkannya sistem Islam telah nyata membawa negara ini dalam keterpurukan. Rakyat Indonesia terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan.

Sesungguhnya kegagalan sistem sekuler, baik berbentuk diktatorisme ataupun demokrasi, merupakan sebuah keniscayaan. Karena sistem sekuler telah memberikan hak kepada manusia, bukan Allah SWT Sang Pencipta manusia dan alam semesta untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah; mana yang halal dan mana yang haram.

Maka, tidaklah mengherankan bila banyak perkara yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT justru dilakukan oleh rezim sekuler ini, seperti riba atau bunga bank, pornografi-pornoaksi, dan bekerjasama dengan para kafir imperial untuk menghalangi umat Islam dalam menerapkan Islam secara total. Sebaliknya, banyak perkara yang jelas-jelas diwajibkan oleh Allah SWT justru diabaikan, seperti menerapkan uqubat,dan lain sebagainya.

Semangat  menerapkan syari’at Islam dalam wadah negara demokrasi pasti akan kandas ditengah jalan. Mengapa ?  Dalam sistem demokrasi  penetapan sebuah aturan  didasarkan suara terbanyak.  Perintah  Alloh jika tidak didukung suara mayoritas tidak akan pernah diundangkan. Sebaliknya larangan Allah jika tidak disetujui suara mayoritas maka  boleh dilakukan.

Sebagai contoh, perintah menutup aurot di tempat umum tidak akan diundangkan jika mayoritas tidak setuju.  Larangan meminum khamr tidak pernah ada selama banyak rakyat (diwakili anggota legislatif)  yang tidak setuju. Apalagi di balik larangan minum khamr ada pihak-pihak tertentu yang merasa dirugikan secara materi. Mereka akan berusaha melobi pihak  pembuat undang-undang agar tidak disahkan. Dan masih banyak contoh yang lain.

Dalam masyarakat Islam, sistem Islam bekerja mengatur masyarakat dengan sebaik-baiknya sehingga kerahmatan yang dijanjikan benar-benar dapat terwujud.

Dalam kaitannya dengan perlindungan kaum minoritas, misalnya, telah terbukti Khilafah mampu melindungi mereka. Ketika orang-orang  Yahudi  terpaksa harus mengungsi akibat praktek inkuisisi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapat perlindungan dari Khalifah Bayazid II. Wilayah Negara Islam menjadi tempat tinggal mereka yang baru. Nyatalah bahwa Daulah Khilafah menjadi tempat yang nyaman bagi siapa pun.

Semua warga negara Daulah Khilafah, tanpa memandang keyakinan, agama, ras dan bahasa, baik Muslim maupun non-Muslim, dijamin akan menikmati keadilan dan keamanan. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa dipenuhi oleh sistem selain Islam. Karena itu, wajar bila kemudian Daulah Khilafah mendapatkan loyalitas dari rakyat yang hidup di dalam naungannya, termasuk dari kalangan non-Muslim.

Pasukan Salib yang datang menyerbu wilayah Syam ketika itu, terhenyak ketika mereka mendapati kenyataan bahwa mereka harus berhadapan dengan pasukan yang seagama, yakni orang-orang Kristen di Syam, yang terjun dalam kancah peperangan untuk mempertahankan Daulah Khilafah, yang telah dianggap sebagai negara mereka sendiri.

Kebangkitan umat Islam di masa lalu terbukti mampu menciptakan kemajuan di segala bidang, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan di bidang ekonomi.  Dalam bidang ilmu kedokteran dan astronomi misalnya, Daulah Khilafah jauh lebih maju dibanding dengan negara-negara lain pada waktu itu.

Buktinya, universitas-universitas di berbagai wilayah Islam saat itu menjadi tempat utama buat orang-orang Eropa, termasuk para pangeran dan putri dari berbagai kerajaan di Eropa, untuk menimba ilmu. Salah satu ukuran orang berilmu ketika itu adalah kemampuannya dalam menguasai bahasa Arab, karena bahasa Arab seakan menjadi kunci harta karun ilmu yang memang saat itu kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab.

Daulah Khilafah juga menjamin tersedianya akses bagi semua orang untuk mendapatkan kekayaan. Di saat yang sama mencegah kekayaan tersebut terpusat di tangan segelintir orang. Sepanjang kepemimpinan Daulah Khilafah, ketersediaan berbagai kebutuhan pokok (primer) bagi seluruh warga negara berhasil diamankan.

Sementara itu, kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) senantiasa terbuka bagi semua orang. Demikian sejahteranya masyarakat di masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, misalnya, pernah terjadi di wilayah Afrika, harta zakat tidak bisa dibagikan di sana karena tidak ada seorang pun yang layak menerimanya. Demikian pula selama berabad-abad di bawah pemerintahan Islam, masyarakat di anak benua India menjadi salah satu   kekuatan ekonomi dunia.

Dalam konstelasi politik internasional, Daulah Khilafah menjadi negara nomor satu selama berabad-abad tanpa pesaing. Daulah Khilafah berhasil menyatukan berbagai sumberdaya yang luar biasa besar  yang  dimiliki umat Islam dalam sebuah institusi negara yang luasnya mencapai tiga benua. Khilafah telah menggariskan sebuah kebijakan yang dibangun di atas dasar prinsip keadilan dan kebenaran, hingga ia mampu menjadi pemimpin bangsa-bangsa yang ada. Ini bukan dugaan tapi kenyataaan.

Posting Komentar