Oleh: Erna Shabrina
(Ibu Rumah Tangga&Anggota Back to Muslimah Identity)

Mediaoposisi.com- Aksi Bela Tauhid jilid 2 atau lebih dikenal dengan Reuni 212 beberapa waktu yang lalu, merupakan ajang ukhuwah Islamiyah dari berbagai elemen umat islam Indonesia, tanpa mempermasalahkan perbedaan mahzab, kelompok atau organisasi. Semangat tauhid lah yang telah menyatukan umat Islam ketika itu. Sekitar 13,4 juta umat Islam berkumpul di Monas semata karena landasan ke-Islam-an mereka.

Ke-islam-an mereka pun tampak pada sikap yang ditunjukkan oleh seluruh peserta, sikap saling peduli, saling mengingatkan, saling senyum-sapa-salam, menunjukkan akhlaq Islam yang mulia, termasuk tidak menimbulkan kerusakan, kekotoran, atau bahkan yang parah adalah kekisruhan yang mungkin terjadi dalam kerumunan orang yang begitu banyak, mampu diwujudkan, maasyaAllah. Inilah wajah Islam yang tampak pada umatnya ketika dilandaskan kepada tauhid.

Sebenarnya, apakah hakikat  tauhid itu sendiri? Tauhid (tawhiid) dalam bahasa Arab, merupakan bentuk mashdar dari fi'il (kata kerja) wahhada-yuwahhidu-tawhiid[an], yang artinya meng-Esa-kan sesuatu. Dengan demikian, tawhiiduLlaah bermakna mengesakan Allah SWT. Tidak mengakui adanya tuhan selainAllah SWT. Tauhid sejatinya melahirkan ketaatan mutlaq hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Maka apa yang ditampakkan pada prilaku orang yang telah menancap tauhiduLlah dalam dirinya adalah gambaran keta'atan kepada aturan-aturan Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala, yang artinya:

" Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim atas perkara yang mereka persekisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya." (TQS. an-Nisa'; 65).

Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa, sudah seharusnya bagi orang yang beriman (mukmin/ah) untuk menjalankan keta'atan kepada Allah, bukan hanya ketika harus membela agama Islam pada saat ada pelecehan arau penistaan, tetapi dalam berbagai aktivitas kehidupannya, karena tauhiduLlah harus mampu mewujudkan visi dan misi hidup mukmin/ah, dalam bentuk menegakkan hukum-hukum Islam secara kaffah (sempurna) dalam seluruh aspek kehidupan.

Hal ini berarti bahwa mereka wajib turut andil bersama-sama secara konsisten menyerukan penerapan Islam secara kaffah, baik dalam masalah ibadah mahdhoh, ekonomi, sosial-budaya, hukum, maupun politik dan pemerintahan.

Dengan demikian, semangat tauhid ini akan terjaga, sehingga akan mendorong seluruh elemen umat Islam, termasuk penguasa, untuk segera menerapkan syari'ah Islam secara kaffah, sebagai wujud keimanan kita kepada Allah Yang Maha Esa (tauhoduLlah). Wallaahu'alam bish shawab[MO/sr]



Posting Komentar