Oleh: Tikara Shalihah

Mediaoposisi.com- Batas usia pernikahan kembali menjadi polemik. Upaya untuk menaikan batas minimal usia pernikahan terutama bagi perempuan semakin digencarkan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kalimantan Tengah (Kalteng) Rian Tangkudung menilai pernikahan anak usia dini  berkorelasi terhadap perceraian karena ketidakmatangan memasuki dan membina suatu keluarga.

Dalam putusannya, MK menyebut Indonesia telah masuk dalam kondisi darurat karena perkawinan anak  semakin meningkat. (antaranews. com, 14/12/18)

Sebelumnya, Pasal 7 Ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan digugat sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan masyarakat sipil karena perbedaan batas minimal usia perkawinan perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. (Kompas. Com, 13/12/18)

Kekhawatiran terhadap angka perceraian yang akan terus meningkat yang diakibatkan ketidakmatangan memasuki dan membina suatu keluarga menjadi salahsatu penyebab polemik ini terjadi.

Jika kita mau perhatikan, seharusnya yang menjadi perhatian kita semua bukanlah batas minimal seseorang boleh menikah, melainkan kesiapan fisik dan mental yang harus dimiliki oleh ia yang ingin menikah.
Namun sistem hari ini tidaklah mendukung dan mendorong untuk hal demikian.

Sistem pendidikian sekuler telah gagal mendewasakan pemikiran generasi bangsa. Begitupun dengan sistem sosialnnya yang begitu masif menstimulasi rangsangan seksual.
Media massa yang adapun tidak sedikit yang menyuguhkan tayangan-tayangan berbau pornografi, pornoaksi dan pergaulan bebas yang menghantarkan pada hancurnya moral, hingga akhirnya lahirlah generasi yang lebih cepat matang dan dewasa secara biologis namun lambat dalam kematangan mental (emosional dan spiritual).

Pernikahan bukan hanya soal suka-sukaan, ketertarikan dan cinta-cintaan bak film India.
Lebih dari itu, pernikahan merupakan salah satu wasilah untuk melestarikan keturunan, agar lahir dan terbentuk darinya generasi yang berkualitas, generasi yang tidak mendustakan Allah dan RasulNya.

Dalam Islam, tidak ada ketentuan secara eksplisit mengenai batasan minimal pun maksimal untuk menikah.
Allah SWT berfirman, "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan yang perempuan." (QS. an-Nur: 32).

Namun sistem yang berlaku hari ini (kapitalisme sekuler) tidaklah melahirkan generasi tersebut.
Sistem pendidikan Islamlah yang akan mampu mencetak generasi tersebut. Generasi yang berkepribadian Islam, generasi yang memiliki kesiapan menikah kapanpun kesempatan itu datang, generasi yang bukan hanya matang secara biologis namun matang pula secara mental, generasi yang siap memikul amanah besar, generasi yang bertaqwa yang siap berada di garda terdepan dalam membela Allah dan RasulNya.

Dan semua itu akan terwujud jika aturan Islam hadir dalam setiap individu, hadir dalam lingkungan dan diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan oleh suatu negara.[MO/sr]

Posting Komentar