Oleh: Reni Rosmawati
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Isu Masjid terpapar paham radikalisme kembali mencuat, hal ini ditandai dengan beredarnya Informasi rahasia Badan Intelijen Negara (BIN) terkait 41 Masjid di lingkungan pemerintahan wilayah Jakarta yang terpapar paham radikalisme. Tentu saja, hal ini membuat banyak kalangan khawatir. Sebab berdasarkan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) yang melakukan survei terhadap 100 Masjid pemerintah di Jakarta, yang terdiri dari 35 Masjid di Kementerian, 28 Masjid di Lembaga Negara dan 37 Masjid di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari 100 Masjid itu 41 Masjid kategorinya radikal.

Kasubdit Direktorat 83 BIN Arief Tugiman mengategorisasikan, Masjid yang terpapar paham radikal menjadi tiga level. pertama 7 Masjid level rendah, kedua 17 Masjid level sedang dan ketiga 17 Masjid level tinggi. 

Pernyataan Kasubdit Direktorat 83 BIN  Arif Tugiman ini, diamini oleh Juru Bicara BIN Wawan Hari Purwanto. Wawan mengatakan, kategorisasi radikal tersebut berdasarkan konten yang dipaparkan penceramah bukan Masjidnya yang radikal. Ia pun mengatakan ada penanganan yang berbeda terkait kategori tiga level ini, Masjid  dengan kategori level rendah masih bisa ditolerir, kalau Masjid level sedang sudah mengarah ke kuning-kuning maka harus disikapi lebih, sedangkan Masjid dengan level terpapar tinggi atau pada zona merah, Wawan mengatakan harus berupaya lebih tajam menetralisir gempuran paham radikal ini.

Lebih lanjut, Wawan menyebutkan, kategori Masjid pada zona merah yang menjadi sorotan BIN, memiliki kriteria yang sangat jelas menyimpang dari falsafah dan Norma-Norma Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). Karena yang merah ini menurut Wawan sudah mendorong ke arah-arah yang lebih simpati ke ISIS. Ini yang membawa aroma konflik Timur Tengah, dan Mengutip ayat perang, sehingga menimbulkan ESKOM (Emosi, Sikap, Tingkah Laku, Opini dan Motivasi).

Maka dari itu, kata Wawan BIN akan mengupayakan 50 Penceramah yang menjadi penyebab penyebaran paham radikalisme di 41 Masjid Pemerintahan, sedikit demi sedikit menghilang. Upaya yang dilakukan BIN sejauh ini adalah dengan melakukan pendekatan dialogis kepada para Penceramah. Lanjut wawan.

Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap semua pihak dapat membedakan mana materi ceramah yang menyampaikan materi Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan mana yang dinilai radikal. JK pun mengaku ia telah berbicara dengan kepala BIN Budi Gunawan terkait Masjid terpapar radikalisme ini, semuanya diukur dari Penceramah nya. Meski 41 Masjid terpapar radikalisme dinilai sedikit, namun menurut JK hal tersebut dapat menjadi masalah.

Untuk itu Pemerintah Khususnya Dewan Masjid Indonesia (DMI) akan memberi pemahaman Islam yang Wasathiyah atau penengah kepada para Penceramah Masjid. Hal ini karena Paham radikal menurut JK adalah paham yang ingin mengganti tatanan Negara secara tidak sesuai.

Hasil survei yang menyatakan ada 41 Masjid Pemerintah di Jakarta yang terindikasi radikal ini, mendapat sorotan dan tanggapan serius dari Din Syamsuddin selaku Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerjasama Atar Agama dan Peradaban. Din meragukan hasil survei yang mengungkap 41 Masjid Pemerintah di Jakarta terindikasi radikal. Din juga menilai hasil survei tersebut hanya akan menimbulkan kecemasan dan memecah belah kerukunan di kalangan umat Islam. Lebih lanjut Din meminta dan menghimbau Masyarakat untuk tidak cepat mempercayai penilaian yang dapat menimbulkan perpecahan Bangsa. Sebab, penilaian tersebut tidak bisa dilakukan dengan paradigma yang salah terhadap pemahaman radikalisme. (Republika.co.id).

Di lain pihak, Islam sangat memuliakan Masjid. Dalam Islam Masjid adalah bangunan paling penting, itulah sebabnya ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah bangunan yang pertama kali didirikan beliau adalah Masjid Nabawi. Selain sebagai tempat ibadah bagi umat Muslim, Rasulullah SAW menjadikan juga Masjid sebagai tempat kegiatan dakwah ilmiah.

Nabi SAW menjadikan Masjid sebagai pusat pendidikan bagi kaum Muslim demi menyebarkan kalimat Tauhid dan agama Islam. Dan beliau sendiri duduk di Masjid untuk mengajari para sahabat. Rasulullah juga mengajarkan Tafsir al-Qur'an dan pelajaran akhlak kepada Masyarakat di Masjid Nabawi.

Dari Masjid ini pula, lahir lah imuan-ilmuan besar Muslim yang mencetak karya gilang gemilang seperti; Ibnu Sina (980-1037), Al-Khawarijmi (780-850), Jabir Ibn-Hayyan (721-815), Ibnu al-Nafis (1213-1288), dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan Muslim dengan karya-karya cemerlang yang mengguncang Dunia. Sehingga Islam menjadi Mercusuar Dunia kala itu. 

Sayangnya, saat ini orang-orang yang tidak menghendaki kebangkitan Islam terus menerus mencari celah untuk menyudutkan Islam berikut ajarannya. Islam terus di diskriminasi seolah Islam adalah ajaran yang perlu diwaspadai dan ditakuti. Dimunculkannya kembali Isu radikalisme Masjid dan Penceramah menunjukan tingkat kepanikan yang tinggi rezim sekuler menghadapi kesadaran politik umat Islam yang kian menguat, terutama jelang Aksi Bela Tauhid 212 minggu lalu.

Upaya diskrimanasi, framing negatif, teror dan isu murahan yang dihembuskan rezim terhadap umat Islam menguak satu fakta bahwa mereka jengah dan "anti Islam". Pengusung dan pembela paham kapitalis sekular berupaya dengan makarnya untuk tidak digantikan dengan paham apapun termasuk Islam. Mereka yakin bahwa Islam bukan sekedar agama tapi ideologi berbahaya yang dapat mengguncang singgasana mereka. Inilah  Islam Ideologis.

Mereka sadar, Islam dengan segala kesempurnaannya  menolak keras aturan kapitalis dan turunannya sebagi paham kufur dan bathil  yang tidak boleh tegak di muka bumi. Aturan  yang terlahir cacat, merusak dan bertentangan dengan aturan Sang Khalik, Allah SWT harus segera di campakkan. Allah-lah sebaik-baik pembuat makar.

Oleh karena itu umat tidak boleh terpengaruh isu-isu yang terus mendiskreditkan umat Islam, karena Islam bukan ajaran radikal tapi hukum-hukumnya justru membawa kebaikan bagi umat manusia. Karena Islam adalah ajaran yang diturunkan langsung oleh Allah SWT untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Maka dari itu umat jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu yang ada saat ini, umat justru harus segera bangkit dan segera menentukan sikap untuk berada di barisan perjuangan mengembalikan Islam dalam peraturan kehidupan. Walaupun penentangan atas arus kebangkitan Islam akan selalu ada, karena itu merupakan sunnatullah.

Maka dari itu, umat harus selalu bersatu padu untuk mengembalikan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan dimuka bumi ini yaitu dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah ala minhaj an-nubuwwah. Dengan begitu akan turun keberkahan dari langit dan bumi. Islam akan menjadi mercusuar Dunia dan akan menggetarkan dada musuh-musuh kaum Muslim.[MO/sr]










Posting Komentar