Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Saya tidak perlu mengenalkan, bukankah Anda sudah kenal ? Ya, HTI itu yang konsisten dakwah syariah dan khilafah. Yang konsisten menempuh jalan perjuangan dengan dakwah pemikiran, tanpa kekerasan dan tanpa fisik.

Ya, Anda juga benar bahwa HTI itu yang dizalimi rezim. Dituding anti Pancasila, anti NKRI, kemudian dibubarkan melalui vonis berdasarkan asumsi dan pendapat, yang di kokohkan oleh putusan pengadilan.

Ya, yang membubarkan HTI itu rezim zalim, represif dan anti Islam. Bukan hanya HTI korban rezim, tapi juga ulama dan para habaib, hingga simbol dan ajaran Islam. Deretan nama seperti HRS, Habib Bahar, Alfian Tanjung, Gus Nur, Ahmad Dani, juga korban keganasan rezim. Paling parah, rezim menggunakan vonis pengadilan untuk menghinakan simbol Islam, bendera tauhid, yang pelakunya hanya didenda 2000 perak.

Ya, HTI adalah ormas yang melakukan perlawanan politik, murni pemikiran dan tanpa kekerasan, untuk memastikan rezim represif dan anti Islam ini tidak lagi berkuasa. Satu periode saja dampak kerusakannya luar biasa, apalagi ditambah masanya ?

Kalau Anda berinteraksi dengan aktivis HTI, kesan yang muncul akan variatif. Tapi, jika Anda berdiskusi dengan aktivis HTI, maka disanalah Anda akan mulai merasakan bahwa apa yang disampaikan HTI adalah Islam. Tidak ada satupun yang bukan Islam atau bertentangan dengan Islam.

Karenanya, Anda akan diajak diskusi ushul fiqh hingga Anda mendapat pemahaman dan istimbath pada dalil dalil syar'i. Ketika aktivis HTI berdakwah tentang wajibnya khilafah, maka Anda akan diajak berselancar menyelusuri dalil yang menjadi sandaran istimbath hukum wajibnya khilafah, dari Al Qur'an, as Sunnah, atau yang ditunjuk oleh keduanya berupa Ijma' Sahabat dan Qiyas Syar'i.

Berinteraksi dengan HTI berarti Anda diajak berfikir, bukan didoktrin dengan mitos 'pokok'e'. Anda juga boleh menyampaikan argumen, baik berdasarkan kesahihan fakta atau kesahihan rujukan dalil. Sehingga, Subhanallah indah dan mencerahkan akal berdiskusi dengan aktivis HTI.

Lagipula, aktivis HTI itu mengajak Anda beramal, tidak sekedar memahami. Karenanya, Anda akan temukan seluruh muslimah HTI itu berjilbab, karena pemahaman menutup aurat itu untuk diamalkan bukan hanya menjadi wacana gagah-gagahan.

Anda juga akan temui aktivis HTI itu tidak ada yang terlibat riba, karena haramnya riba itu untuk diamalkan bukan sekedar diperdebatkan. Jadi yakinlah, kalau aktivis HTI punya rumah, mobil, motor, atau property lainnya itu pasti bebas riba'. Tapi tidak selalu itu milik mereka sendiri, ada juga dan bahkan banyak dari mereka rumahnya masih ngontrak, kendaraannya dipinjami atau fasilitas dari tempat kerja.

Tapi Anda tidak akan garing diskusi dengan mereka. Mereka asyik diajak diskusi tentang fiqh, tapi juga mahir diskusi tentang politik. Anda akan menemukan sosok yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara mengagumkan, ketika berinteraksi dengan HTI.

Maksudnya, aktivis pasti mengambil dalil yang merupakan warisan masa lalu, warisan Rasulullah SAW, untuk menghakimi fakta kekinian. Jadi, diskusi dengan aktivis HTI itu up date. Keliru, jika Anda berasumsi diskusi dengan HTI itu cuma membahas bab Thaharah dan Poligami.

Jadi saran saya, segeralah cari aktivis HTI disekitar Anda. InsyaAllah, Anda akan menemukan dinamika baru dalam memahami dakwah Nabi, dakwah pemikiran dan politik, tanpa kekerasan dan tanpa fisik. [MO/ge]

Posting Komentar