Oleh : Dwi Agustina Djati, S.S
(Pemerhati Berita)

Mediaoposisi.com- Saudaraku seiman dan seakidah, saudaraku sebangsa dan se-Tanah Air, melalui Reuni Akbar Mujahid 212 ini, marilah bersama kita renungkan sejenak kondisi bangsa dan negara kita dalam 5 tahun terakhir ini. Selama ini di Negara Kesatuan Republik Indonesia kita sangat merasakan kuat indikasinya adanya gerakan sistematis dan struktural yang ingin menghancurkan sendi-sendi kehidupan beragama dan berbangsa, serta bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dengan menghalalkan segala cara.

Pertama, pembiaran aliran sesat dan penodaan agama secara masif, para pelakunya dilindungi dan dibesarkan. Padahal agama apapun, agama apapun tidak boleh dinista dan dinodai. Apalagi Islam yang merupakan agama yang rahmatan lil alamin.

Kedua, pembiaran kezaliman dan ketidakadilan, yang meruntuhkan sendi-sendi penegakkan hukum secara keji dan jahat. Sehingga sikap suka-suka kini menjadi landasan penegakkan hukum di Indonesia. Hasilnya yang disukai rezim bebas melanggar hukum, sedangkan yang tidak disukai rezim akan dikerjai dengan aneka rekayasa hukum.

Ketiga, pemberhalaan ekonomi neolib berdasarkan sistem utang ribawi yang telah mengundang penjajah asing yang kejam dan ganas serta bengis sehingga menghancurkan perekonomian rakyat jelata secara mengerikan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, lapangan kerja dijarah asing, nilai mata uang terus merosot, pasar rakyat dilibas habis oleh konglomerat hitam, bahkan wong cilik kini mulai banyak yang kelaparan dan kekurangan gizi.

Yang keempat, pembiaran, pembiaran kemungkaran dan kemaksiatan seperti perdukunnan, korupsi, narkoba, miras, judi, pornografi, porno aksi, prostitusi dan LGBT, sehingga karena dibiarkan kemungkaran dan kemaksiatan merajalela, dan merusak generasi muda bangsa secara menakutkan. Sekaligus mengundang bencana di mana-mana. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.(islampos.com, 2 desember 2018). Inilah pidato Habib Rizieq Shihab dalam Reuni Akbar 212 ahad lalu.

Reuni Akbar 212 : Persemaian Kebangkitan Umat
Spektakuler. Ya aksi damai 212 ahad lalu pantas untuk menerima semua pujian. Wajah Islam Rahmatan lil Alamin tampak pada gelaran reuni tahun kedua, setelah 2017 lalu menuai pujian serupa. Hitungan kasar kurung lebih 10 juta orang membanjir memenuhi ibukota. Kaum muslimin dari ujung barat Sumatra hingga timur Indonesia berbondong-bondong memenuhi panggilan jiwa.

Dari rakyat jelata, artis hingga pengusaha kaya pun tak ketinggalan. Dari pesantren, perguruan silat, para rider, jawara hingga geng motor berbaris dengan tertib dan hikmat mengikuti seluruh rangkaian acara dari pagi hari sampai siang hari. Semua bersatu menanggalkan atribut masing-masing kelompok dengan tujuan yang satu membela Panji Tauhid yang mulia.

Reuni 212 bukan sekedar seremonial belaka. Bukan pula sekedar mengumpulkan orang berjuta-juta di satu tempat. Menurut saya reuni ini adalah persemaian kebangkitan umat yang semakin menggelora. Saat awal aksi akbar 2016 lalu tersebab penista agama, masyarakat merasakan perasaan yang satu yakni menyeret si penista untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tak kurang dari 7 juta orang berkumpul saat itu. Sebuah energy besar memang untuk menyeret si penista harus menggerakkan 7 juta orang. Namun itulah embrio kebangkitan umat yang pertama. Mereka menanggalkan segala atibut keormasan yang selama ini merupakan sekat untuk melebur menjadi satu kekuatan. Kekuatan islam yang sempurna.

Menuju Perubahan Hakiki
Ruh 212 harus dijadikan momentum perubahan. Dan perubahan yang dimaksud tentu perubahan hakiki bukan perubahan secara instans atau pragmatis. Perubahan hakiki hanya bisa ditempuh dengan edukasi politik. Sedang politik dalam pandangan Islam adalah riayatus syuun  lil ummah/ mengurusi urusan ummah.

Hal ini hanya bisa dilakukan dengan mentarkiz secara intensif pemahaman akan Islam kaffah. Islam  sempurna yang mampu menyelesaikan setiap persoalan umat. Bagaimana cara memiliki cara pandang tentang islam kaffah tentu dengan membagun pemahaman yang benar tentang Islam. inilah kunci perubahan yang harus dimiliki umat, agar umat kembali Berjaya. Adapun langkah untuk meraih perubahan hakiki, diantaranya:

Pertama, Umat memahami  akar persoalan.
Kedua, memahami apa yang seharusnya dilakukan.
Ketiga, memahami metode dan cara melakukannya.

Rasulullah Saw merupakan qudwah (teladan untuk diambil) dalam melakukan perubahan Beliau melakukan Muhasabah Lil Hukam yakni mengajak kepada kebenaran Islam dengan tidak berkompromi dengan kekufuran. Lalu menyebarkan pemahaman Islam, mengajarkan dan membangun pemahaman masyarakat. Juga tidak melakukan politik praktis dalam beraktivitas, meski tantangan berat membentang.

Lalu apa hubungan aksi 212 dengan perubahan hakiki? Sangat memungkinkan bahwa peristiwa 212 akan semakin membuka kesadaran umat akan perubahan yang harus dilkukan. Setelah ini kewajiban yang harus dilakukan mengkaji islam sebagai system kehidupan secara komprehensif dalam majelis majelis ilmu. Bukan tidak mungkin kemenangan akan segera terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Kemuliaan Islam tidak terjadi begitu saja, namun melalui proses edukasi. Kesadaran yang sudah terbangun semakin kokoh dengan proses ini. Bersama dengan ulama, mubalig, ustadz-ustadzah perubahan itu tidak mustahil segera terwujud. Islam rahmatan lil alamin bukan isapan jempol. Ini bisa dibuktikan dengan sejarah Islam memimpin dunia selama 14 abad lamanya. Jadi tunggu apalagi. Mari bersama bergerak dan berkontribusi dalam perubahan hakiki. Saatnya memusatkan Pikiran dan mengerahkan Energi untuk melakukan Real Action-Real Work-Real Change. Wallahu’alam bi showab.[MO/sr]

Posting Komentar