Oleh : Ayu Mela Yulianti, SPt
(Pemerhati Masalah Umat)

Mediaoposisi.com- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Bahkan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh 14.840 terhadap Dolar AS pada Jumat tengah malam. Ini merupakan posisi terendah rupiah terhadap dolar sejak Juli 1998, setelah krisis keuangan melanda Asia. Pelemahan nilai tukar ini dinilai tidak hanya beresiko kepada para pengusaha, melainkan juga bagi pemerintah, terutama dalam pembayaran utang jatuh tempo.( Liputan 6.com, Jakarta, September 2018)

Sungguh, fakta diatas menunjukkan lemahnya posisi mata uang rupiah terhadap dolar, akibat standar nilai mata uang rupiah disandarkan pada dolar. Nilai yang akan sangat fluktuatif dan sangat spekulatif. Naik turunnya tergantung dolar. Berpeluang besar sangat merugikan negara pengekor yang menyandarkan nilai mata uangnya pada negara lain.

Ini sudah menjadi sifat dari pengekor penganut faham Sekuler Kapitalis. Semua atribut tata aturan masyarakat termasuk mengatur uang dan mata uang hanya disandarkan pada akal dan hawa nafsu belaka. Menegasikan aturan agama dalam pengaturannya. Akibatnya akan selalu menghasilkan chaos pada masyarakat.

Utang tidak pernah selesai dan beban hidup masyarakat semakin berat. Wajarlah jika banyak individu masyarakat menjadi stres dan hilang akal. Entah karena lilitan utang akibat tidak mampu membayarnya akibat kurs nilai mata uang rupiah terhadap dolar yang selalu berubah ataupun karena beban hidup yang semakin membebani akibat harga kebutuhan pokok yang naik meroket.

Kenyataan hidup yang pahit dialam Sekuler Kapitalis, tentulah harus disudahi. Tersebab Sekuler Kapitalis hanya menghasilkan kesempitan hidup bagi kebanyakan manusia, tidak terkecuali bagi negara, yang harus menanggung utang dirinya dan swasta yang jatuh tempo, akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar yang selalu bersifat fluktuatif, belum lagi beban bunga yang harus ditanggungnya. Sangat merepotkan.

Islam adalah solusi
Sungguh, Islam dengan Syariatnya telah menetapkan aturan dalam tata kelola keuangan negara termasuk didalamnya utang dan tata kelola nilai tukar uang terhadap nilai tukar uang dari negara lain adalah sebagai berikut :

Pertama, Syariat Islam telah menetapkan emas dan perak sebagai standar nilai tukar mata uang. Bukan dolar, bukan Yen ataupun euro. Jadi nilainya tetap dan pasti. Tidak akan ada spekulasi yang bisa menyebabkan keuntungan pada satu pihak dan kerugian pada pihak yang lain.

Kedua, Syariat Islam telah menetapkan bahwa pengembalian utang harus senilai dengan besar uang yang dipinjam. Tidak boleh kurang nilainya, ataupun lebih. Harus pas. Dengan menyandarkan pada nilai emas dan perak.

Ketiga, Syariat Islam telah menetapkan tidak boleh menjadikan utang sebagai alat penjajahan bagi negara pengutang. Karena sejatinya memberi pinjaman adalah salah satu bentuk solusi permasalahan, bukan jalan penjajahan.

Adapun fakta sekarang adalah banyaknya negara pemberi utang yang menjadikan utang sebagai alat Penjajahan gaya baru bagi negara pengutang. Dan ini adalah ciri khas negara penganut paham Sekuler Kapitalis. Bukan negara yang menerapkan syariat Islam kaffah.

Untuk itu, solusi tuntas atas permasalahan nilai tukar rupiah yang selalu KO, lemah dan anjlok adalah dengan meninggalkan tata aturan Sekuler Kapitalis dan berbalik dengan mengambil aturan yang telah ditetapkan dalam Syariat Islam kaffah. Yaitu dengan menjadikan emas dan perak sebagai standar nilai tukar mata uang, seperti yang telah dipraktekan oleh Rasulullah, para sahabat dan khalifah sesudahnya. Insya Allah, hidup menjadi barokah.

Karena Syariat Islam kaffah berasal dari Sang Pembuat aturan hidup, yaitu Allah SWT. Warisan dari Rasulullah Muhammad SAW, teladan manusia sepanjang jaman. Dijamin kemanjurannya dalam mengatasi krisis mata uang negara manapun. Dan tidak akan memberi peluang kepada negara manapun untuk menjadikan utang sebagai alat penjajahan manusia.[MO/sr]








Posting Komentar