Oleh : Sri Yani


Mediaoposisi.com-Pendiri Majelis Rasululloh, Habib Bahar bin Smith telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Bareskrim Polri karena isi ceramahnya yang viral di media sosial. Habib bahar di nilai "rasis"saat menyampaikan isi ceramahnya.

Habib bahar disangka melanggar pasal 16 juncto pasal 4 huruf b angka 2 UU no 40 tahun 2008 tentang penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Menurut penyidik ada kata kata "China" (yang dianggap rasis) liputan6.com Jakarta Sabtu (8/12)

Padahal menurut Aziz yanuar, pengacara Habib bahar, yang dimaksud kliennya adalah "China" sebuah negara dan bangsa bukan etnis yang ada di Indonesia, dalam hal ini kebijakkan Jokowi di nilai oleh Habib bahar lebih banyak menguntungkan pihak asing, setelah itu Habib bahar juga nyebutin AS dan Rusia.

Dalam kasus ini, penyidik bareskrim polri tidak menyinggung dugaan penghinaan terhadap pemerintahan jokowi sebagaimana diatur pasal 207 KUHP. Padahal ucapan "Jokowi banci" juga mengandung materi pelaporan terhadap Habib bahar.

Ternyata pasal penghinaan presiden tersebut tidak bisa dikenakan kepada Habib bahar, mengingat telah direvisi oleh Mahkamah Konstitusi menjadi delik aduan, jadi hanya bisa dilaporkan oleh yang bersangkutan, tidak boleh pendukungnya atau pencintanya.

Dalam KUHP yang lama, penghinaan presiden diatur dalam pasal 134, pasal kemudian dicabut Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945, karena bisa menyebabkan pemerintahan yang otoriter, pasalnya juga di nilai pasal karet tergantung pada karakter presiden.

Tidak hanya sampai disitu, Habib bahar juga disangkakan melanggar pasal 45 ayat 2 juncto pasal 28 ayat 2 undang -undang no 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Kasus bermula dari laporan yang dilayangkan sekjen Jokowi mania Laode Kamaruddin ke Bareskrim polri atas dugaan kejahatan terhadap penguasa umum dan ujaran kebencian.



Lagi-lagi umat islam dipertontonkan ketidakadilan di negeri ini, mulai dari penistaan terhadap islamnya dan ajaran nya hingga pengkriminalan para penceramah
nya dan ini selalu berulang seolah lagu lama kaset baru, wajar dan sangat wajar karena semua ini tidak luput dari adanya andil rezim yang sedang berkuasa saat ini yaitu represif anti islam yang lebih condong memusuhi, ajaran dan pengemban Islam.

Sedangkan yang memusuhi islam dibiarkan dan tidak diproses secara hukum, sebagai contoh kasus Abu janda, Ade armando, Bu Sukma, Fiktor laiskodat, Cornelis semuanya lolos. Giliran umat islam, kasus Habib bahar misalnya ringan sekali dijerat, dijadikan tersangka, bahkan dengan pasal berlapis pula. Sengaja dicari- cari kesalahannya.

Inilah Demokrasi, tidak pernah memberikan keadilan, meskipun terkait kasus Habib Bahar, cawapres Sandiaga Uno meminta polri profesional, penegakkan hukum diminta seadil adilnya.(detik news)

Bagai pungguk merindukan bulan, keadilan tidak akan di dapat dalam sistem demokrasi, apalagi di rezim yg represif anti islam, islam akan terus disingkirkan.

Umat Butuh Khilafah

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. [HR. Ibnu Abdil Barr].

Ulama bukan sekedar juru dakwah, lebih dari itu, ia adalah orang yang berada di garis terdepan ketika memyampaikan kebenaran dan berada di garda terdepan dalam beramar makruf nahi mungkar, ketika Alquran dan Assunah tidak digunakan dalam kehidupan. Bersamaan dengan hal tersebut terbangunlah barisan rapih pejuang Islam, dimana aktivitas ini merupakan aktivitas yang biasa dilakukan oleh Nabi dan Rasul, mereka adalah pewaris Nabi.

Rasul Saw bersabda  “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”  (HR.at Tirmidzi)
Ulama juga berada digaris terdepan menolak kemaksiatan agar tidak diikuti oleh umat. Padahal Allah SWT telah jelas memerintahkan kita untuk menjauhi maksiat agar tidak terjadi kehidupan yang sempit, sebagaimana dalam TQS. Thaha: 124 “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”.

Sudah saatnya umat bangkit dari tidur panjangnya dan lebih peduli terhadap "islam" agar umat tidak diam ketika agamanya, ajaran-ajarannya, juga para ulamanya di kriminalkan. Ulama adalah pewaris nabi yang harus dimuliakan.

Oleh karena itu, ganti rezim ganti sistem adalah solusi bagi permasalahan umat, hanya dengan sistem islam kemuliaan ulama dapat terjaga, karena terbukti negara ini dengan sistem demokrasi nya tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai penjaga.
"Sesungguhnya imam atau Kholifah itu laksana perisai, tempat orang orang berperang di belakangnya" (HR. Muslim)[Mo/an]















Posting Komentar