Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Benar saudaraku, aku turut merasakan kesedihanmu, kesedihan kita. Keprihatinan kita, atas musibah yang menimpa umat ini. Kegalauan kita, tentang tindakan apa yang harus kita lakukan.

Uighur menjerit meminta tolong, Habib Bahar dikriminalisasi dan dipenjara, Gus Nur dijadikan tersangka, Habib Rizq Syihab terus dikejar-kejar kasus, ulama kita yang lain dipersekusi juga dikriminalisasi. MasyaAllah, mana yang akan kita bela ? Mana yang akan kita dahulukan ?

Saudaraku, semua yang terikat dalam simpul akidah Islam adalah saudara kita. Kewajiban kita membela semuanya. Kepada saudara kita di Uighur, Suriah, Palestina, Yaman, Kepada Habib Bahar, HRS, Gus Nur, dan semua saudara muslim kita lainnya.

Lakukanlah, hingga batas maksimal yang bisa kita lakukan sampai kita merasa memiliki argumentasi dan udzur dihadapan Allah SWT kelak, bahwa kita telah mengunggah pembelaan maksimal. Yang lawyer, bela-lah dengan profesi dan keahlian. Yang pengusaha, bela-lah dengan harta. Yang ulama, bela-lah dengan fatwa. Yang penulis, bela-lah dengan tulisan. Yang punya waktu, bela-lah dengan kehadiran dan dukungan.

Bahkan, setidaknya semua pasti punya doa. Guncangkan Arsy Allah SWT, agar segera turunkan pertolongan dan mengangkat semua derita dan nestapa yang menimpa umat Islam.

Karena itu, jika ada seruan ulama untuk aksi bela saudara muslim Uighur, berangkatlah. jika ada seruan ulama untuk aksi bela Habib Bahar Bin Smith, berangkatlah. jika ada seruan ulama untuk aksi bela Gus Nur, berangkatlah. jika ada seruan ulama untuk aksi bela Islam dan kaum muslimin, berangkatlah.

Tidak perlu gentar, rezim ini sombong dengan kekuasaannya. Maka kita, wajib sombong dengan kekuatan kita. Kekuatan jumlah massa, yang akan memenuhi setiap ruang kantor penenggak hukum. Kekuatan massa yang akan meramaikan setiap agenda persidangan. Kekuatan massa, yang riuh didunia nyata dan akan menjadi gelombang opini didunia maya, menghantui rezim, menbuat rezim tidak nyenyak tidur.

Kita hanya diberi amanah untuk membela, bukan menjadi korban seperti saudara muslim di Uighur, atau mendekam di penjara seperti Habib Bahar. Karena itu, tidak layak jika kita menunjukan kelemahan. Sementara, rezim ini tepuk dada menampakan kesombongan.

Kita tidak perlu risau dengan dunia, karena Allah SWT telah menjaminnya. Justru kita wajib risau terhadap akherat, karena bekal yang tak cukup bisa membuat diri terlempar di api neraka.

Jadikan aktivitas kita membela Islam, membela ulama, membela saudara muslim, sebagai pundi perbendaharaan amal yang melengkapi amal kita yang lain. Jadikan, kezaliman rezim sebagai latihan kesabaran, latihan keikhlasan, latihan perjuangan, sebelum kelak Allah SWT menguji kita dengan amanah yang lain.

Rezim ini telah mengobarkan bara revolusi, mematangkan persiapan perubahan, membuka mata atas kerusakan. Jadi, apapun yang dilakukan rezim itu baik buat dakwah. Dakwah tak boleh mengendur karena tekanan, tak boleh lalai karena kedudukan dan pujian.

Ingat ! Garis finis perjuangan di pintu surga. Karena itu, teruslah berlari hingga mencapai finis. Jangan berhenti, meski nafas terengah, meski capai dan keringat terus mengguyur badan.

Tempat istirahat kita di surga. Kakek buyut kita berasal dari surga, maka pastikan kita juga kembali ke surga. Jangan salah jalan. Tetaplah teguh dalam perlawanan, membungkam kesombongan rezim represif dan anti Islam. [MO/ge]

Posting Komentar