Oleh : Yulida Hasanah
(Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial, tinggal di Jember)

Mediaoposisi.com- Momentum reuni 212 tahun 2018 ini telah sukses digelar. Sebuah acara yang mengandung banyak sekali kekuatan/potensi bagi kemajuan umat Islam di masa mendatang. Ada dua potensi yang sangat signifikan terlihat oleh siapa saja yang menyaksikan gegap gempitanya reuni 212 ini.

Yang pertama, acara reuni 212 telah mampu menyibak berita-berita dan isu-isu hoax yang selama ini dilekatkan kepada Islam dan kaum muslimin.

Siapapun yang penglihatannya masih normal, akan mampu menyaksikan 13, 4 juta umat Islam dari berbagai latarbelakang organisasi, profesi, suku,maupun ras yang ada di negeri ini berkumpul dan bersatu demi membela bendera tauhid, bendera yang selama ini diklaim sebagai bendera HTI yang nyatanya bendera tauhid adalah bendera milik umat Islam, bendera warisan Rasulullah. Nah, inilah hoax pertama yang berhasil dibongkar melalui reuni 212.

Kebohongan/hoax kedua yang sukses dibongkar adalah istilah radikal yang disematkan pada agama Islam dan umatnya yang menginginkan kembalinya kehidupan Islam dibawah kalimat tauhid. Setiap yang punya hati dan hatinya belum mati, pasti mampu merasakan atmosfer kedamaian yang dihembuskan lewat acara reuni 212 ini.

Buktinya, dari jumlah umat islam yang bersatu memadati ibukota, acara ini berjalan begitu khidmat dan damai, bahkan bapak-bapak polisipun ikut dikalungi sorban bertuliskan tauhid, hampir seluruh peserta mengharu biru mengikuti rangakain acara dan mendengarkan orasi para tokoh, ulama dan habaib, tak ada satupun peristiwa kericuhan terjadi di sana.

Selanjutnya, kebohongan/hoax ketiga yang tidak pernah terbukti adalah bahwa umat Islam yang ikut reuni 212 dikhawatirkan akan mensuriahkan Indonesia dan mereka akan membuat makar teehadap rezim yang ada yang berimbas  memecah belah NKRI.

Faktanya, bagi siapapun yang punya akal sehat akan bisa menjangkau/menyadari bahwa reuni 212 adalah satu-satunya momentum akbar Islam yang pernah sejak kemerosotannya, di mana umat Islam telah lama kehilangan pelindung dan naungan pemersatu mereka dalam ketaatan kepada Rabbnya, yaitu naungan Khilafah Islamiyah. Sejak saat itulah umat Islam bercerai berai dan tak saling peduli dengan nasib saodara seimannya.

Namun, terbukti di reuni 212 mampu menyatukan umat dalam ikatan yang kokoh yaitu ukhuwah Islamiyah. Inilah ikatan shohih yang akan menjadi benih persatuan hakiki umat ke depan dalam naungan yang diberkahi Allah yaitu Khilafah Islamiyah kedua.

Dan kekuatan/potensi yang kedua dari reuni 212 tahun 2018 ini yaitu mampu membangkitkan umat Islam dari tidur panjanganya. Sebab tidak dipungkiri bahwa sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki 94 tahun yang lalu, umat telah tertidur lelap dan orang-orang kafir merasa aman untuk menguatkan cengkraman ideologi kapitalis sekulernya di negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia.

Hingga kebangkitan umat Islam menjadi suatu yang utopis untuk  diraih kembali. Namun, di tahun 2016 lalu, sebuah peristiwa penistaan agama oleh Ahok menjadi sumbu api yang menjalar menyulut perasaan umat untuk bersatu berkumpul membela agama mereka pada Aksi Bela Islam 212 2016 lalu.

Inilah yang menjadi tunas persatuan umat Islam, dari Indonesia ke seluruh dunia menuju pada kebangkitannya. Sedangkan reuni 212 tahun ini merupakan hasil yang harus terus dijaga serta dikuatkan misi politiknya, yaitu tidak hanya menjadikan Islam  sebagai agama spiritual tapi sekaligus adalah agama politik yang memiliki orientasi melayani umat berdasarkan syari'at.

Mari kita songsong kabar gembira dari Rasulullah, di mana beliau telah bersabda, "panji- panji hitam akan datang dari arah timur, hati mereka bagaikan kepingan-kepingan besi. Siapa yang mendengar mengenai mereka, datangilah mereka walaupun terpaksa merangkak di atas salji" ( HR. Ibnu Majah, Al Hakim, Ahmad, Al Hafiz Abu Nuaim).[MO/sr]


Posting Komentar