Oleh Nurul Aini 
( Mahasiswa, Pemerhati Sosial Politik)

Mediaoposisi.com-Puncak Harga Pangan Terjadi di Akhir Tahun. Tragedi kenaikan harga pangan nampaknya akan terus terjadi. Seperti pada tahun – tahun sebelumnya. Puncak dari kenaikan harga pangan biasanya terjadi di setiap akhir tahun dan menjelang pergantian awal tahun. 

Masalah serupa disinyalir tengah terjadi pada masa sekarang ini. Masyarakat Indonesia harus kembali merasakan beban teror melambungnya harga pangan di penghujung akhir tahun. Hal tersebut sesuai pernyataan  Abdullah Mansuri dari Ketua Ikatan  Pedagang Pasar Indonesia, 

“Pasti ada kenaikan harga karena mulai ada kenaikan permintaan. Puncaknya ada di akhir tahun. Jadi memang potensinya akan naik lagi” (detikfinance/22-12-18).

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun telah merilis bahwa harga kenaikan pokok seperti beras sudah mengalami kenaikan  pada November 2018. 

“Adapun untuk harga beras premium naik 1,30 persen. Sedangkan kualitas medium naik sekitar 2.22 persen dan untuk kualitas rendah naik 2.52 persen.” Ujar Kepala BPS Suhariyanto (Viva/11-12-2018)
Masayarakat Selalu Menjadi Korban Kenaikan Harga Pangan

Melonjaknya harga komoditas pangan selalu menjadi problema ekonomi setiap tahun. Sebab, tentu masyarakat kelas menengah ke bawahlah menjadi korban langsung dari dampak kenaikan harga tersebut. Apalagi kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok. 

Kebutuhan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan dari manusia. Kebutuhan yang menjadi hajat hidup utama setiap individu masyarakat. Akhirnya masyarakat kembali harus menelan pil pahit kenaikan harga pangan. Mereka semakin ketakutan dalam mengatur pengeluaran pembelanjaan kebutuhan hidupnya. 

Seperti jeritan seorang ibu rumah tangga, Anna (32), Warga Karet Kuningan, Jakarta Selatan, “Telur mahal. Naik Terus. Masak Naik tiga kali berturut-turut.”  (tirto/11-6-2018).

Ibu Anna (32) mungkin hanya satu dari sekian banyak ibu rumah tangga yang mengeluh dari dampak kenaikkan harga. Belum lagi para pelaku usaha kecil menengah. Mereka merasakan betul akibat dari kenaikan harga pangan pokok. 

Mereka harus berputar otak dalam menghadapi setiap terjadinya pergolakkan kenaikan harga. Alih-alih ingin ikut serta menaikkan harga, yang terjadi tidak banyak dari mereka yang terancam akan kehilangan para pelanggan. Masalah yang rumit dan sangat butuh untuk diberikan solusi.

Pemerintah Gagal Mensejahterakan Rakyat

Kenaikan harga pangan ini erat kaitannya dengan biaya produksi yang terus meningkat. Pada beras misalnya, kenaikan harga beras selalu diawali dengan kenaikan harga gabah pada pemasok.  Belum lagi disusul dengan ongkos pengiriman bahan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Untuk Indonesia sendiri, kenaikan harga BBM berulang tejadi di tahun 2018. Seperti yang dikutip dari www.pertamina.com, besaran kenaikan seperti pertamak naik 23%. Ditambah dengan tarif tol yang tak mau ketinggalan ikut melambung naik.

Tarif yang telah berlaku sejak 29 September 2018 (jawapos.com) tersebut tentu ikut andil dalam mempengaruhi kejadian kenaikan harga pangan. Belum lagi masalah manajemen pendistribusian bahan pokok yang terjadi di pasar yang sering kali didominasi oleh para pelaku modal besar yang lebih leluasa menentukan harga komoditas, ditambah maraknya praktik curang dari para spekulan. 

Kondisi seperti ini semakin memperkuat betapa rusaknya tata kelola liberal kapitalistik dalam praktik sistem ekonomi di negeri ini. Di mana pemerintah  berulang kali gagal dalam memberikan jaminan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Teror harga melambung harus terus masyarakat hadapi dengan berat hati selama belum ada solusi berarti bagi masalah ini.

Pemerintah hari ini begitu lemah dalam manajemen harga komoditas pokok. Padahal, melihat kekayaan dan potensi negeri ini, dengan melimpahnya SDA dan luasnya lahan yang tumbuh subur keaneka ragaman hayati. 

Harusnya mampu memberikan solusi tuntas dari monster kenaikan harga pangan. Namun sayangnya potensi tersebut hari ini belum dikelola dengan maksimal. Ditambah lagi fakta lemahnya rezim hari ini dalam mengatur adanya praktik curang para pelaku modal besar yang lebih leluasa dalam distribusi dan pemasokan komoditas pangan. 

Praktik ekonomi kapitalistik seperti ini jika terus berlangsung  niscaya problematika seperti ini tidak akan berakhir. Cita-cita pemerintah untuk memiliki kemandirian dalam hal ketahanan pangan hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. 

Pasalnya, praktik kecurangan dan minimnya sumber pasokan merupakan dampak dari diterapkan nya sistem ekonomi tersebut.

Rakyat Butuh Solusi Tuntas

Pemerintah pada negeri berkembang tidak akan bisa berbuat banyak jika sudah berhadapan dengan pelaku modal besar. Kenaikan harga bahan bakar minyak, serta dampak kepemilikan umum yang diprivatisasi seperti harga tol akan terus berlangsung selama sistem ekonomi ini diterapkan.

Sudah saatnya pemerintah bersama umat melihat dari akar masalah dan melihat solusi Islam sebagai alternatif lain. Islam melalui praktik tata kelola pangan misalnya, menghendaki ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok  tersebar adil dalam setiap individu masyarakat. Maupun dalam pengelolaan SDA. 

Seperti termaktub dalam sebuah hadis  Nabi,

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Islam memiliki aturan dalam sistem ekonominya  telah menetapkan hak kepemilikan. SDA merupakan bagian dari kepemilikan umum yang wajib dikelola negara dan hasilnya diberikan kepada rakyat. Haram melakukan privatisasi apalagi menjualnya kepada asing. 

Sudah saatnya semua mata tertuju pada solusi alternatif tersebut demi menuntaskan permasalahan ekonomi di negeri ini.

Solusi penerapan sistem politik Islam dalam bingkai khilafah yang bermanhaj kenabian. Solusi yang pasti solutif karena datang dari dzat Pengatur alam semesta kehidupan beserta tata aturan-Nya. Solusi yang kelak tidak hanya mendatangkan maslahat tetapi juga mengundang keberkahan dari langit dan bumi. 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)[NA]

Posting Komentar