Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Tidak memberitakan peristiwa besar semacam Reuni 212, dengan dalih apapun sebenarnya sah-sah saja. Hubungan media dan publik itu dibangun diatas pilar saling percaya. Jika media, dianggap tak lagi dapat dipercaya, maka publik juga bisa secara sepihak dan setiap saat memutus hubungan dengan media.

Bagi media, arus informasi itu laksana arus air. Media, adalah kanal-kanal yang meneruskan informasi ke publik melalui saluran miliknya. Dalam kerangka itulah, media bisa membuat 'framing' dalam menyalurkan informasi. Jika informasi dianggap akan melawan ideologi media, media bisa meramunya dengan sedikit 'menghaluskan' sesuai dengan pandangan ideologinya.

Namun, ketika media mengambil pilihan membendungnya ini persoalan lain. Pada awalannya, media mampu menahan arus informasi agar tdk meluap, sebatas kemampuan yang dimilikinya.

Namun, jika kemampuan itu sudah pada titik puncaknya -sementara arus informasi- apalagi yang terkait dengan perubahan umat terus dibendung, pada akhirnya arus informasi itu akan meluap, melibas apapun yang dilaluinya.

Karena itu, upaya media membendung arus informasi perubahan ibarat menampung air bah. Pada titik tertentu 'media' pasti menyerah dan akan dilibas arus Perubahan umat.

Reuni 212 telah 'digarap' media dengan membendungnya, bukan mengkanalisasinya. Akibatnya, muncul vonis publik terhadap media yang tidak pernah terjadi pada era sebelumnya. Padahal, meski ikut membuat kanal dan menyampaikan informasi reuni 212, media tetap saja bukan arus utama. Era sosmed, menjadikan setiap individu generasi digital lebih cepat meng-update informasi melulu GWA, Facebook, tweater, atau platform sosial media lainnya. Media mainstream hanya dijadikan alat konfirmasi dan pembanding berita.

Apa yang disebut 'bunuh diri media' telah sampai pada titik merusak hubungan kepercayaan media dengan publik. Media, tidak serta merta langsung merasakan dampak hukuman publik. Karena sejatinya, telah lama terjadi migrasi informasi dari era paper, era saluran TV berpindah ke era sosmed. Media, masih merasa bisa 'jumawa' sepanjang perusahaan-perusahaan rekanan memasang iklan di medianya.

Dampak putus hubungan ini, meski perlahan namun pasti akan dirasakan media. Metro TV adalah media yang terlalu jumawa, yang mulai merasakan dampak, mendapat sanksi publik. Metro TV bahkan lekat dibenak publik dengan sebutan metrotipu.

Kita bisa saksikan, nyaris tidak ada satupun media mainstream saat ini yang tidak mengambil platform sosial media sebagai jejaring informasi untuk mengedarkan hasil jurnalistiknya. Media, telah menjadikan platform sosial media sebagai satu kesatuan kebijakan strategis untuk mengembangkan visi dan platform pemberitaan.

Jadi, Anda tidak perlu terlalu risau dengan abainya media mainstream mengabarkan informasi perubahan ditengah umat. Anda cukup bertaklid pada prinsip media sosmed yang di proklamirkan Nasrudin Joha. Sayatan sosmed itu pedih Jenderal, Jejak Sosmed itu Pedih Jenderal, Sosmed mampu menerobos benteng kedigdayaan (baca: kejumawaan) media mainstream, Anda bisa menjadi reporte sekaligus penerbit, dan berbagai prinsip sosmed hasil ijtihad Nasrudin Joha.

Intinya, benteng media mainstream itu terlalu rapuh. Ia tak dapat menghalau apa yang menjadi kehendak dan takdir Tuhan Anda. Menghalangi perubahan yang diinspirasi gerakan 212 itu mustahil, karena tegas didalam gerakan 212 ada Ruh Islam. Jadi, menghambat informasi 212 itu yang diduga bisa menghambat kebangkitan Islam jelas keliru besar.

Jadi, terus saja Anda membuat sayatan sosmed. Terus saja Anda mengunggah syair-syair perubahan. Terus saja, Anda kabarkan kerinduan umat Islam kembali pada syariat Islam dan kebangkitannya. Suatu saat nanti, air bah perubahan akan menyapu bersih semua penghalang yang merintangi. [MO/ge]

Posting Komentar