Mediaoposisi.com-Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar. Dimana dalam aqidah Islam antara muslim satu dengan muslim lainnya itu adalah bersaudara. Ikatan ini tidak mengenal jenis kewarga negaraanya.

Tapi karena adanya sekat-sekat nasinalisme yang membuat muslim satu dengan yang lainnya seakan bukan saudara dan tidak bisa menolong ketika ada muslim yang lainnya membutuhkan pertolongan. 

Adanya kasus penyiksaan umat Islam yang ada di belahan bumi lain, kita yang ada disini tidak bisa berbuat apa-apa. Alias hanya diam atau pura pura tidak tahu atau hanya bisa mengecam saja.
Begitu juga dengan sikap atau kebijakan dari pemimpin negara di mayoritas muslim ini yaitu Indonesia seakan menutup mata.

Sikap pemerintahan Presiden Joko Widodo yang seakan menutup mata terkait dugaan pelanggaran HAM yang dialami umat muslim Uighur di Xinjiang, China disesalkan banyak pihak. Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menduga bahwa sikap Jokowi yang tidak bereaksi disebabkan hubungan baik saat ini antara pemerintah Indonesia dengan China.

China adalah negara yang banyak memberikan pinjaman hutang kepada Indonesia dan menanamkan investasi di negara ini. “Tapi sejatinya pemerintah harus berani keras mengkritik China terkait pelanggaran HAM yang terjadi pada muslim Uighur,”.

Ketika mata hati sudah tertutup maka yang terjadi adalah tidak mau melawan kedzoliman dan tidak bisa melakukan kebaikan. Demi sebuah investasi rela menyakiti hati saudaranya seakidah. Sekat nasionalisme benar benar menghalagi muslim satu dengan lainnya untuk saling tolong menolong.

Umat muslim akan terhinakan selama khilafah Islam tidak ditegakkan.  Karena hanya khilafah yang bisa menyelesaikan kasus penyiksaan umat Islam.

Persaudaraan dalam Islam adalah ibarat satu tubuh. Jadi ketika melihat saudaranya yang lain sakit kita juga harus merasakan sakit. Dan berusaha membantu menyembuhkan rasa sakit itu. Namun bila hati nurani sudah mati maka yang terjadi adalah membiarkan dan bahkan juga tidak ikut merasakan sakit bila saudaranya yang lain sakit.

Inilah tanda tanda-tanda orang yang hati nuraninya telah mati karena tertutup dengan jabatan dan hawa nafsu. Tanda-tanda hati nurani yang mati adalah sebagai berikut:

1. Tidak mengenal Allah, tidak mencintai-Nya, tidak merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan tidak mau kembali ke jalan-Nya, serta lebih suka mengikuti hawa nafsu. Ia lebih suka mendahulukan kepentingan pribadi dan syahwatnya daripada taat dan cinta kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

”Sudahkan engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (TQS.q Al-Furqan: 43)

2. Tidak merasakan sakitnya hati dengan sebab luka-luka maksiat.
Seperti ungkapan pepatah, ”Luka tidak terasa sakit bagi orang mati.” Hati yang sehat pasti merasa sakit dan tersiksa dengan perbuatan maksiat. Hal itulah yang membuatnya tergerak untuk kembali bertaubat kepada Rabb-nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (TQS. Al-A’raf: 201)

Adapun orang yang hatinya sakit, dia selalu mengikuti keburukan dengan keburukan juga. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, ”Itu adalah dosa di atas dosa sehingga membuat hati menjadi buta, lalu mati.” Sementara hati yang sehat selalu mengikuti keburukan dengan kebaikan dan mengikuti dosa dengan taubat.

3. Tidak merasa sakit (tidak merasa tersiksa) dengan kebodohannya (ketidaktahuannya) akan kebenaran. Berbeda dengan hati yang sehat, yang akan merasa sakit dengan datang syubhat (ketidak-jelasan) pada dirinya.

Seorang ulama mengatakan, “Tidak ada dosa yang lebih buruk selain kebodohan.” Imam Sahl pernah ditanya, “Wahai Abu Muhammad, apa yang lebih buruk daripada kebodohan?” Ia menjawab, “Kebodohan akan kebodohan (tidak tahu bahwa dirinya bodoh).” Lalu ada yang berkomentar, ”Dia benar, karena hal itu menutup pintu ilmu secara total.”

4. Hati yang sakit meninggalkan makanan yang bermanfaat dan memilih racun yang berbahaya.
Seperti keengganan sebagian besar orang untuk mendengarkan Al-Quran yang dikabarkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya,

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian.” ( TQS. Al-Isra’: 82)

5. Mereka lebih mendengarkan lagu-lagu yang menimbulkan kemunafikan di dalam hati, membang-kitkan birahi dan mengandung kekufuran kepada Allah Ta’ala.

Seseorang mengerjakan perbuatan maksiat karena kecintaannya pada apa yang dibenci oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Keberanian berbuat maksiat adalah buah dari pennyakit yang bersarang di dalam hati dan bisa memperparah penyakit yang ada di dalam hati tersebut.

Hati nurani yang sudah tertutup maka lebih cinta pada dunia, senang tinggal di dunia, tidak merasa asing di dunia, dan tidak merasa rindu kepada akhirat:
“Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (TQS Al-A’laa: 16-17)

Itulah tanda tanda orang yang hati nuraninya sudah mati. Penyiksaan yang dialami saudara saudari kita diuygur seharusnya membuat kita semua merasa sakit dan marah karena telah melihat kedzoli-man yang luar biasa yang ditimpakan pada saudara kita. Tapi demi sebuah ambisi dan investasi maka hanya diam dan tidak beraksi untuk berusaha mengobati serta melindungi.

Posting Komentar