Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Beredar meme didunia sosmed akan adanya rencana Debat Capres pada Kamis, 17 Januari 2019.

Donasi save Muslim Uighur

Yang dipersoalkan bukan materinya, tentang hukum, HAM dan terorisme. Tapi, waktu pelaksanaan-nya. Masak melakukan debat publik yang bukan hanya dilakukan oleh kedua kubu, dua koalisi, otoritas KPU, stasiun penyelenggara, tapi juga akan disaksikan oleh jutaan mata rakyat dilakukan saat sholat Magrib ?

Apakah debat saat magrib, berarti perintah agar rakyat tidak perlu sholat magrib ? Fokus menonton debat saja ?

Okelah, Anda bisa berdalih toh Indonesia tiga waktu, waktu tengah dan timur tentu tidak terganggu dengan waktu magrib WIB. Ingat ! Mayoritas penduduk NKRI itu di wilayah WIB. Lantas, apakah Anda mau menjadikan debat capres sebagai dalih untuk meninggalkan sholat maghrib ?

Mungkin Anda akan menawarkan solusi ini :

Pertama, pemirsa melakukan sholat Magrhrib Jamak Takhir. Karena magrib tidak bisa digabung dengan Ashar, pilihannya hanya menarik waktu magrib kedalam waktu Isya', sehingga menggabungkan waktu sholat magrib dan diskhirkan pelaksanaannya setelah sholat isya'.

Anda akan beralih, bahwa para calon Presiden sedang dalam Safar (perjalanan), sebab Safar adalah salah satu illat (sebab) dibolehkannya menjamak sholat. Anda akan berdalih, para calon sedang Safar politik (perjalanan karier), maka perjalanan karir politik ini dijadikan alasan bolehnya menjamak sholat magrib.

Tapi bagaimana dengan penonton ? Apakah mereka sedang Safar ? Apakah benar negeri ini dalam perjalanan politik ke arah yang lebih baik atau sebaliknya ? Siapa yang menanggung dosa para pemirsa yang mengutamakan menonton debat dan meninggalkan sholat ?

Kedua, Anda akan menyarankan pemirsa melakukan Qadla'. Anggap saja, sholat magrib terutang untuk menonton debat, setelah itu bisa dibayar di waktu yang lain. Seberapa pentingkah debat dibandingkan sholat ?

Ketiga, Anda jujur saja sampaikan kepada rakyat Ga usah sholat, Tonton saja debat. Toh sholat Ga bikin negara ini kaya, fokus saja memikirkan prosesi politik yang penting untuk masa depan bangsa.

Sholat mah urusan nanti, toh meninggalkan satu sholat tidak jatuh kafir. Anda bisa meminta rakyat tetap fokus ke kamera TV, ketimbang berkhidmat menyembah ilahi.

Keempat, saya yang meminta seluruh Bani Nasjo (sebutan untuk pembaca setia artikel Nasrudin Joha), dan segenap umat Islam agar tidak usah tonton debat. Buang buang waktu saja. Bahkan, bermaksiat.

Lebih baik khusuk dan berkhidmat melaksanakan sholat magrib, ketimbang menyaksikan para capres ngecapruk tidak karuan. Lebih baik fokus memohon kepada Allah SWT agar turunkan pertolongan pada umat Islam agar bisa menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Jadi sebenarnya rezim ini sekuler abis. Untuk pilih waktu kampanye saja nabrak waktu sholat. Jadi benarlah kata-kata saya, bahwa nggahan sholat, peci, sarung, pergi ke Ponpes, itu kampanye politik saja. Bukan atas kesadaran ketaatan kepada syariat.

Kalau program kampanye debat capres ini masih ngotot dilakukan saat magrib. Saya mau tahu, seberapa besar pengikut rezim dan seberapa kokoh kesetiaan umat pada syariat Islam. Yang jelas, siapapun yang menonton debat dan melalaikan sholat magrib, saya haramkan untuk membaca tulisan Nasrudin Joha. [MO/ge]

Posting Komentar