Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Di Republik ini, orang bisa bicara apapun, berjanji apapun, membuat statement apapun, tidak perlu repot dan takut dianggap tidak konsisten.

Donasi Save Muslim Uighur

Soal nanti, ya nanti, soal besok ya besok, soal tahun depan ya tahun depan. Yang penting sekarang.

Soal sekarang beda dengan yang kemarin, itu kan kemarin ? Soal sekarang beda dengan tahun yang lalu, itu kan dulu ? Terserah, semua bebas berargumen, meski argumennya 'Waton Sutoyo'. Itu pula yang terjadi pada Luhut soal freeport.

Pada kasus Papa minta saham, Luhut berujar tidak perlu beli saham. Lucu, 2021 mau habis, bisa kembali ke Republik seperti blok Mahakam. Kenapa harus beli mahal ? Itu dulu loh.

Sekarang ? Borong saham fretpot itu seru, bukan lucu. Keadaan sekarang baik, kita perlu bikin kondisi baik agar pemilik freeport juga punya saham harganya baik. Lha kita ini memikirkan Republik atau Freeport sich ?

Lha wong rakyat ribut itu hak rakyat, karena freeport itu nambang di tanah rakyat, Klo Freeport nambang di kutub utara baru tidak ada urusan. Terserah dia. Suka-suka dia.

Tapi karena freeport nambang di bumi pertiwi, nggaruk emas di NKRI, wajar rakyat teriak. Lha wong rakyat terus dicekik pajak, emas nya rakyat digondol frerport, ini Pancasilais ? Ini nasionalisme ?

Sementara ada peluang 'tanpa modal sepeserpun' tambang bumi pertiwi kembali ke pangkuan NKRI tahun 2021. Tanpa duit, tanpa maksa, tanpa utang, tanpa ada rakyat yg ribut, semua Happy.

Lah sekarang, kok rakyat disuruh diam ? Memang rakyat Happy ? Sebenarnya siapa yang Happy dengan divestasi freeport ? Klo dengan difestasi rakyat terbebas dari pajak, okelah rakyat tak usah ribut.

Ini perusahaan nambang puluhan tahun, ngemplang kewajiban berdasarkan audit BPK, merusak hutang dan lingkungan, eeee...,dapat karpet dan duit suegerrrrr dari Republik. Republik dapat ngutang lagi ? Kecuali semua utang ditanggung Presiden Jokowi, sudah pasti rakyat tidak ribut.

Pejabat sekarang omongannya tidak bisa dipegang, isuk dele sore tempe. Terus, apa jaminannya Jokowi tidak ingkar janji dengan seluruh janji kampanyenya ? Enteng saja nanti Jokowi bilang, itu kan dulu, sekarang beda, sekarang baik, bla bla bla.

Saya kira, segenap rakyat wajib memotong kaki-kaki legitimasi agar penguasa culas lagi zalim tidak lagi memperoleh porsi duduk di kekuasaan. Bahaya sekali, memberi dukungan pada penguasa yang plin plan, tidak konsisten. Sekarang saja rasanya sudah tidak karuan, apalagi nanti ? [MO/ge]

Posting Komentar