Oleh; SASMITA, S.Ag
(Alumni UIN Imam Bonjol Padang)

Mediaoposisi.com- Setiap negara pasti memiliki bendera, masing-masing bendera adalah suatu kebanggaan dan simbol dari suatu negara. Begitupun bendera tauhid merupakan simbol dari kaum muslimin, sudah seharusnya kaum muslimin bangga dengan benderanya, menjunjung tinggi dan menjaganya. Namun faktanya hari ini banyak kaum muslimin yang tidak tau dengan simbolnya sendiri.

Berdasarkan fakta pada tanggal 22 oktober 2018 yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat tercoreng dengan ulah oknum anggota Barisan Serba Guna (Banser) Ansor. Dalam video viral di media sosial , tampak sekelompok anggota berseragam ormas Banser membakar bendera warna hitam yang berlafaz tauhid.

Saat melakukan pembakaran, para pelaku melantunkan lagu hubbul Wathon Minal Iman. Beberapa orang itupun mengepalkan tangan mereka, dengan bangganya. Salah satu disana juga menngibarkan bendera merah putih dalam ukuran besar. Anggota Banser membakarnya karena menganggap bahwa bendera tersebut adalah bendera milik ormas tertentu (HTI) yang terlarang di Indonesia kerena HTI yang selalu mengusun panji Rasulullah tersebut sebagai simbol umat Islam (viva.com)

Permasalahan kaum muslim ini berawal dari keruntuhan khilafah di turki tahun 1924, negeri-negeri muslim terpecah belah atas dasar konsep nation state (negara bangsa) mengikuti gaya hidup barat. Implikasinya masing-masing negara bangsa mempunyai bendera nasional dengan berbagai macam corak dan warna.

Sejak saat itulah, al Liwa’ dan al Rayah seakan-akan tenggelam dan menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat muslim.Sistem sekulerisme yang selama ini diagungkan barat yang memisahkan agama dari kehidupan berusaha menghambat kebangkitan Islam dengan menghilangkan identitas kaum muslimin itu sendiri. Karena jika kebangkitan Islam itu terjadi akan menghilangkan (tumbangnya) eksistensi sitem sekular itu sendiri.

Selain mengahancurkan kesatuan kaum muslimin di dalam naungan khilafah Islam maka barat juga berusaha menanamkan nilai-nilai sekuler dalam kehidupan kaum muslim, pelajaran agama hanya yang umum saja, dan ide-ide radikalisme, terorisme terhadap orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya, sehingga membuat kaum muslim phobia terhadap agamanya dan kehilangan jati dirinya. Sehingga akhirnya berdampak pada hilangnya Islam dalam diri kaum muslimin.

 Kondisi inilah yang yang mengakibatkan munculnya pandangan curiga dan sinis dari penguasa sekular terhadap bendera Islam yang bertuliskan Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah. Bendera yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. Ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme atau radikalisme.

Ar Rayah merupakan panji perang Rasulullah berwarna hitam bertuliskan lafaz tauhid laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah yang tulisannya berwarna putih. Sedangkan Liwa merupakan bendera Rasulullah berwarna putih juga bertuliskan lafaz tauhid yang tulisannya berwarna hitam.
Banyak hadits yang menjelaskan tentang al-Liwa’ dan ar-Rayah ini, diantaranya dari Ibnu Abbas ra:
Bendera (Liwa’) Rasulullah saw berwarna putih dan Panji (Rayah)-nya berwarna hitam.(HR. Al-Hakim, al-Baghawi dan at-Tirmidzi)

Dari Ibnu Abbas ra juga dinyatakan:

"Panji (Rayah) Rasulullah saw berwarna hitam dan Bendera (Liwa’)nya berwarna putih, tertulis padanya:Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah"(HR ath-Thabrani)
Dari Jabir bin Abdullah juga dituturkan:

"Sungguh nabi saw itu, Liwa’nya pada hari penaklukan kota Makkah, berwarna putih" (HR Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban).

Dari al-Hasan ra. Pun dinyatakan:
Rayah Nabi saw. Berwarna hitam disebut al-‘Uqab(HR Ibn Abi Syaibah)

Fungsi Rayah adalah sebagai penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan (sekuadron, detasemen, dan satuan-satuan pasukan lain) yang memakai rayah.Rayah diserahkan langsung oleh khalifah kepada panglima perang serta komandan-komandannya. Selanjutnya, rayah dibawa selama berperang di medan peperangan. Karena itulah, rayah disebut juga Ummu al-Harb (Induk Perang).

''Hadis dari Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika jadi panglima di perang khandak pernah bersabda, “ Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) kepada orang yang mencintai Allah dan Rasulnya serta dicintai oleh Allah dan Rasulnya. Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua devisi pasukan Islam.''(HR. Bukhari).

''Selain itu, fungsi liwa’ sebagai posisi pemimpin pasukan. Pembawa liwa’ perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti diriwayatkan dari jabir ra mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan kota makkah).'' (HR. Ibn Majjah).

Dari pemebasan makkah tersebut penduduk mekah bersatu dalam satu naungan Islam dibawah panji Liwa’ dan Rayah. Jadi jelas bahwa hanya dengan Islamlah kaum muslimin dapat bersatu. Maka sudah seharusnya kita menghapuskan sistem sekuler hari ini yang membentuk nation state (negara bangsa) dengan banyak bendera dan menyatukannya dalam bendera Liwa’ dan Rayah.Waallahu a’lam bisshawab.[MO/sr]


Posting Komentar