Oleh : Eni Mu’ta 
(Member Revowriter)

Mediaoposisi.com-Saat yang di nanti telah tiba. Liwa – Rayah berkibar dengan kokohnya. Ditinggikan tangan-tangan umat Islam yang mencintainya. Jika bukan karena dorongan iman dan pemahaman pemandangan seperti ini mustahil terjadi. Umat Islam dari berbagai penjuru negeri bersatu di ibu kota.

Tepatnya mendudukan Monas menjadi lautan manusia. Diperkirakan 8 Juta hingga 10 Juta umat yang hadir dalam Reuni 212, pada 2 Desember 2018 kemarin. Kibaran Liwa – Rayah pun menghiasi angkasa tempat mereka berteduh.

“Ini banyak banget nih bendera Tauhid, ada yang berani bakar? Bakar dah, coba lu bakar,” kata Ustazd Haikal dari atas panggung di Monas saat membuka acara. Sebagaimana dilansir m.detik.com (2/12/2018). Mungkin ini sindiran atas peristiwa pembakaran bendera Tauhid hitam (Rayah) pada saat peringatan HSN bulan lalu. Satu yang di bakar, kini ribuan bahkan jutaan Liwa – Rayah yang berkibar.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Steering committee Reuni akbar mujahid 212 Muhammad Al-Khaththath mengatakan, pengibaran bendera ini sebagai pernyataan bahwa bendera berkalimat tauhid bukan bendera ormas terlarang. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20181202073008-20-350454/bendera-tauhid-warna-warni-bertebaran-di-reuni-aksi-212)

Dulu, mungkin ini hanya mimpi. Tak mengenal Liwa – Rayah, apalagi mencintai. Terlebih berani mengibarkan tinggi-tinggi. Ada rasa takut, paranoid dengan bendera hitam – putih bertuliskan kalimat tauhid ini. Pasalnya,

saat ada sebagian kelompok umat yang mengenalkannya dan mendakwahkannya justru dituduh berbuat makar, difitnah, bahkan dipersekusi. Liwa –Rayah juga dijadikan barang bukti terorimse oleh pihak-pihak yang phobia terhadap simbol-simbol Islam. Berbagai cara mereka lakukan untuk menjauhkan umat dari Liwa – Rayah, sungguh keterlaluan.

Namun, umat Islam yang paham apa itu Liwa – Rayah, mencintai sepenuh jiwa tiada gentar terus mendakwahkan. Dalam setiap even Liwa – Rayah dikibarkan. Meski pernah dihadang, dirampas, bahkan dilarang untuk mengibarkannya. Semangat dakwah mereka kini Allah Swt berikan kemenangan. Liwa – Rayah telah diterima Umat Islam disegala lapisan.

Tak ada lagi rasa takut, berganti dengan kebanggaan luar biasa. Bersama-sama mengibarkan Liwa – Rayah disetiap kesempatan. Karena Liwa – Rayah adalah milik semua umat Islam di masa lampau, kini, maupun nanti.

Mengibarkan Liwa – Rayah merupakan bagian dari syi’ar Islam. Simbol persatuan umat Islam. Momentum Reuni 212 menjadi bukti. Tidak hanya umat Islam dalam negeri saja yang hadir, tapi ada pula umat Islam dari luar negeri. Spirit persatuan dan perjuangan telah menyatukan hati dan perasaan umat Islam.

Menjadi spirit bagi seluruh elemen bangsa ini untuk membebaskan negeri ini dari cengkeraman negara-negara kafir penjajah. Besar harapan pula menyatunya visi perjuangan umat Islam dalam mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.     
Liwa – Rayah telah di tangan umat, menjadi bukti umat bersatu dalam simbol yang satu. Persatuan ini harus di jaga dan ditingkatkan nilainya. Sudah cukup umat terpecah belah menjadai mainan para kafir penjajah.

Kini saatnya umat merealisasikan kalimat yang termaktub dalam Liwa – Rayah. Laa ilaaha illaa Allah-Muhammmadun Rasulullah. Bukan hanya terpatri dalam hati, namun menjadi pedoman dalam segala aktivitas kehidupan. Kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara.[MO/ge]

Posting Komentar