Oleh : Tri S, S.Si
(Penulis  adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Reuni 212, yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), dihiasi dengan bendera berwarna-warni bertuliskan kalimat tauhid. Tidak hanya bendera berwarna hitam dan putih. (CNNIndonesia.com/2/12/2018).
Pantauan CNNIndonesia.com, nampak bendera berwarna merah, merah muda, biru, kuning, dan hijau. Semua bendera itu bertuliskan kalimat tauhid  berwarna putih. Bendera-bendera tersebut terdiri dari beberapa ukuran. Ada yang relatif besar, ada pula yang berukuran sedang.

Bendera tauhid yang  berwarna-warni memang nampak dibawa oleh massa reuni 212 kali ini. Akan tetapi, jumlah bendera tauhid yang berwarna hitam dan putih masih mendominasi.
Sebelumnya, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif menyebut  akan mengibarkan satu juta bendera dengan kalimat tauhid pada Reuni 212  di Monas Jakarta, Minggu (2/12/2018). Dia menga-takan bendera berkalimat tauhid yang dikibarkan juga berwarna-warni.

Pada kesempatan yang sama, ketua Steering Committee Reuni Akbar Mujahid 212 Muhammad Al-Khaththath mengatakan, pengibaran bendera ini sebagai pernyataan bahwa bendera berkalimat tauhid bukan bendera ormas terlarang. Dia juga mengatakan, pengibaran ini sebagai langkah menyindir pihak-pihak yang mengecilkan makna bendera tauhid dengan membakarnya. Pengibaran bendera tauhid warna-warni ini juga sebagai simbol kesatuan alumni 212 di bawah komando imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Untuk itu berikut akan dijelaskan apa itu makna Liwa’ dan Rayah.
Semenjak masa Rasulullah Saw, umat Islam sudah mempunyai bendera. Dalam bahasa Arab, bendera disebut dengan liwa’ atau alwiyah (dalam bentuk jamak). Istilah liwa’ sering ditemui dalam beberapa riwayat hadist tentang peerangan. Jadi, istilah liwa’ sering digandengkan pemakaiannya dengan rayah (panji perang) (republika.co.id/ 23/10/2018).

Istilah liwa’ atau disebut juga dengan al-alam (bendera) dan rayah mempunyai fungsi berbeda. Dalam beberapa riwayat disebutkan, rayah yang dipakai Rasulullah Saw berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).
Meskipun terdapat juga hadis-hadis lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa’ dan rayah, sebagian besar ahli hadis meriwayatkan warna lain untuk liwa’ dengan warna putih dan rayah dengan warna hitam. Secara ukuran, rayah lebih kecil dari liwa’.

Mengenai ukuran panjang dan lebarnya, tidak ditemui riwayat yang menjelaskan secara rinci dari bendera maupun panji-panji Islam pada masa Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Panji Rasulullah Saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR Tirmizi).
Rayah dan Liwa’ sama-sama bertuliskan  La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam. Rayah dan liwa’ juga mempunyai fungsi yang berbeda. 

Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan (sekuadron, detasemen, dan satuan-satuan pasukan lain) yang memakai rayah.

Rayah  diserahkan langsung oleh khalifah kepada panglima perang serta komandan-komandannya. Selanjutnya, rayah dibawa selama berperang di medan peperangan. Karena itulah, rayah disebut juga Ummu al-Harb (Induk Perang).

Mengenai hal ini berdalil dari hadis Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah Saw ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam. (HR Bukhari).
Ibnu Asakir dalam bukunya Tarikh ad-Dimasyq jilid IV/225-226 menyebutkan, rayah milik Rasulullah Saw mempunyai nama. Dalam Riwayat disebutkan, nama rayah Rasulullah Saw adalah al-Uqab.

Selain itu, fungsi liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai Liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir Ra yang mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (Pembebasan Kota Makkah). (HR Ibnu Majah). [MO]

Posting Komentar