Oleh : Giyanti S.Pd.I

Mediaoposisi.com-Umat muslim merupakan umat yang besar namun sayang umat saat ini hampir kehilangan identitasnya. Hal ini terlihat bahwa pada masa sekarang umat muslim terjauhkan dari  mengenal bendera tauhid yaitu Al Liwa dan Ar rayah. Bendera yang telah digunakan oleh Rosululloh SAW sejak ratusan tahun yang lalu.

Sejak adanya insiden pembakaran bendera tauhid oleh salah satu oknum di negeri ini umat mulai tercerahkan. Banyak yang secara terang terangan mempercayai bendera tauhid ini sebagai bendera umat muslim. Dibuktikan dengan banyaknya umat yang menghadiri aksi reuni 212 pada tahun 2018 di Jakarta dengan membentangkan bendera tauhid. Ada pula yang secara sembunyi sembunyi mencari tahu fakta terkait bendera ini.

Al Liwa merupakan bendera Rosululloh yang berwarna dasar putih dan tulisan hitam. Sementara Ar rayah berwarna hitam. Hal ini bisa dilihat dari  dalil-dalil sunnah dan atsar yang menjelaskan tentang Al-Liwa dan Ar-Rayah, diantaranya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ

“Bendera (Liwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu :

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”. (HR. Ath-Thabrani)

Al liwa dan Ar rayah  merupakan bendera umat muslim yang berfungsi sebagai simbol syahadat, sebagai pemersatu umat muslim , sebagai simbol kepemimpinan dalam Islam, sebagai pembangkit keberanian dalam perang serta sebagai sarana untuk menggetarkan musuh dalam perang.

Selain itu Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia (sirr) tertentu yang ada di balik suatu bendera, yaitu jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtima’i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihadi quluubihim).[MO]

Posting Komentar