Oleh: Ika Agustini
Ibu Rumah Tangga Tinggal di Depok.

Mediaoposisi.com-Kasus penderita HIV dan AIDS hingga akhir tahun 2017 makin terus bertambah jumlahnya. Secara kumulatif  pada 1 Januari 2016 sampai 1 Januari 2017 terdapat 367 orang penderita HIV dan 13 penderita AIDS. Yang mencengangkan, dari jumlah tersebut Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) penyumbang paling banyak, sekitar 50 persen. Jumlah tersebut berdasarkan laporan pendamping orang dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Persentase infeksi HIV tertinggi ada pada kelompok usia 25-50 tahun, yaitu 70 persen. Kemudian kelompok usia 15-24 tahun 20 persen  dan kelompok usia 1-14 tahun ada 10 persen. Sementara itu rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1 lebih banyak laki-laki sebagai penderita. Sedangkan faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada Heteroseksual sebanyak 50 persen, Lelaki Seks Lelaki (LSL) 22 persen, IDU Injection Drug Users (IDU) 18 persen, waria 5 persen dan anak-anak 5 persen.

Sedangkan bagi penderita AIDS dari Januari-Desember 2017 jumlahnya 13 orang. Persentase AIDS tertinggi ada pada kelompok usia 25-50 tahun. Berdasarkan data tahun 2013 hingga 2016 terdapat 613 penderita HIV, dan 78 penderita AIDS di Kota Depok. Sehingga total penderita HIV saat ini mencapai 984 dan penderita AIDS 91 orang.

LGBT dipromosikan oleh PBB agar diterima dunia. Jurus ini dinamakan social engineering atau rekayasa sosial. PBB membentuk UNFE (United Nations Free and Equality) badan untuk mempromosikan LGBT juga menerbitkan perangko gay. Jika sudah dipromosikan, maka sudah pasti ada biayanya dan pasti akan terus dipromosikan ke masyarakat dunia agar diterima dalihnya adalah HAM.

Maka, tak heran UNDP (United Nations Development Programs ) menggelontorkan dana sekitar Rp.108 miliar untuk mendukung  LGBT di Indonesia dan 3 negara Asia yakni Cina, Filiphina dan  Thailand.

Ayo Sukseskan Campaign Kibarkan 1 Juta Bendera Tauhid Di Bumi

Yang menjadi alasan  sasaran promosi LGBT adalah keempat negara tersebut yakni, pertama, Negara-negara tersebut adalah negara berkembang yang penduduknya banyak.  Ini ada kaitannya dengan politik Depopulation yang sudah dijalankan sejak lama tanpa disadari oleh masyarakat dunia.

Kedua, program pemusnahan umat dengan nama eugenic yang  bertujuan untuk mengontrol populasi dan ras. Program ini sudah dijalankan sejak 1920-an. Program eugenic ini memiliki beberapa agenda seperti; ciptakan perang dan pembunuhan massal, pembunuhan etnis tertentu, pembunuhan bayi, vaksin, pemandulan massal di Afrika, program KB di semua negara Islam dan negara berkembang.

Maka, jelas sekali LGBT adalah konspirasi Yahudi  yang berlindung dalam  organisasi PBB yang akan menghancurkan kaum Muslim.  Karena tujuan dari penyebaran  wabah virus HIV/AIDS dan  mempromosikan gaya hidup LGBT agar tidak akan menghasilkan keturunan juga untuk melemahkan angkatan perang.

Di Indonesia telah ada oraganisasi LGBT dengan nama Gaya Nusantara  yang diketuai oleh Rafael H. Dacosta. Gaya Nusantara adalah pelopor oraganisasi gay di Indonesia yang terbuka dan bangga akan jati dirinya. Tujuannya untuk memperjuangkan kepeduliaan akan hak-hak LGBT di Indonesia.

Padahal, dalam Islam LGBT adalah tindakan haram, terlarang, tidak ada satu pun nash dalam Al Qur’an dan hadist membolehkan tindakan tersebut. Allah SWT menyebut tindakan kaum Nabi Luth itu dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 80 sebagai tindakan keji(al-fakhisyaht). Di ayat berikutnya disebut Qawmun musrifun; kaum yang melampaui batas. Pada ayat 83 mereka disebut Mujrimin; para pelaku kriminal.       

Begitu bejatnya tindakan kaum Nabi Luth ini, akhirnya Allah SWT menimpakan azab kepada mereka berupa hujan batu dan tanah yang dibakar. Azab ini membuat mereka binasa tak tersisa. Jasad mereka ditampakkan oleh Allah kepada generasi berikutnya agar perbuatan terkutuk itu tidak dilakukan lagi.

Menurut ustadz Hafiz Abdurrahman secara umum LGBT merupakan bentuk penyimpangan. Oleh karena itu, sanksinya tegas yaitu dibunuh khususnya untuk lesbian, gay dan biseks. Sedangkan transgender, jika tidak sampai melakukan penyimpangan seksual, hukumannya cukup ta’zir tidak sampai dihukum mati.

Sanksi tegas terhadap pelaku LGBT ini akan menyelamatkan masyarakat, karena pelaku LGBT bukan penyakit tetapi penyimpangan perilaku yang bisa ditularkan kepada lingkungannya. Hukuman mati akan memutus rantai penularan tersebut. LGBT tidak boleh dilindungi negara dengan dalih apapun. Sebaliknya negara harus menjatuhkan sanksi sesuai hukum Islam untuk menghentikan perbuatan keji kaum LGBT.

Apakah di negara demokrasi ini bisa melaksanakan Islam secara kaffah, bisa menghukum pelaku LGBT sesuai syariat Islam? Jelas tidak mungkin karena justru bertentangan dengan prinsip kebebasan yang menjadi pilar demokrasi itiu sendiri.

LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh sistem Islam yakni khilafah. Di dalam naungan khilafah umat akan di bangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga dan dijatuhi sanksi bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariah Islam.[MO/ge]

Posting Komentar