Oleh: amanurrahma lie
(Mahasiswi Sastra Inggris, Aktivis Muda)

Mediaoposisi.com- Ibarat setitik nila rusak susu sebelanga, itulah gambaran sederhana terkait kasus intoleran jika terjadi dalam lingkup kehidupan sosial yang penuh dengan hegemoni heterogenitas. Bahkan bukan hanya itu, kasus intetoleransi pun menjadi objek yang sangat berpengaruh dalam mengasuh perkembangan pergesekan, percekcokan, bentrok bahkan bisa sampai pada tahap konflik dan perang di tatatan kehidupan sosial bermasyarakat.

Di Indonesia, Kasus terkait toleransi ataupun intoleransi marak terjadi. Setara Institute telah melakukan survei terkait sikap toleransi ataupun intoleransi yang terjadi di 94 kota di Indonesia pada tahun 2018, kompas.com (7/12/2018). Hasil survei didapatkan dari 4 standar Setara Institute dan mendapatkan hasil yang beragam di berbagai kota tersebut, kompas.com (7/12/2018).

Berbeda dengan laporan survei di atas, hasil survei nasional oleh Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslim Indonesia yang digelar pada Oktober 2017 hingga Januari 2018 memberikan hasil yang luar biasa pada sikap intoleransi muslim kepada 10 kelompok dalam beberapa standar kasus, news.detik.com (29/1/2018). Hasil survei tersebut didapatkan melalui 1500 responden yang menghasilkan kesimpulan bahwa ditahun tersebut tingkat sikap intoleran muslim sangat naik pesat dibandikan tahun sebelumnya, news.detik.com (29/1/2018). 

Ditingkat regional Asia Tenggara, Pusat Merdeka dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei toleransi beragama yang dilakukan di 4 negara besar, yakni: Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, JawaPos (13/12/2018). Objek survei adalah interaksi sosial antara umat beragama baik dengan sesama agamanya ataupun berbeda agama. Hasil survei tersebut menempatkan Thailand dengan hasil 65% sebagai yang tertinggi dalam presentase bertoleransi, disusul dengan Indonesia 46,2% dan Malaysia 45,3%, JawaPos (13/12/2018).. 

Standar bertoleransi 
Kasus survei toleransi di atas adalah representasi dari berbagai survei toleransi yang diwakili oleh kelompok ataupun lembaga. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa, hasil survei para lembaga atau kelompok akan berbeda setiap saat meskipun dengan kasus survei yang sama. Hal tersebut disebabkan, standar objek studi kasus, objek responden, tenggang waktu bahkan metode survei dilakukan dengan cara yang berbeda. Pasalnya, setiap survei berdiri diatas tujuan yang berbeda-beda pula. Ini berlaku juga dalam hal penyikapan toleransi dalam kehidupan sosial didunia nyata.

Tujuan-tujuan tersebut tidak mungkin akan berdiri dengan sendirinya tanpa sebuah ideologi. Pastilah ada dominasi ideologi yang akan memengaruhi pola pikir. Sebab ideologi yang menjadi asas lahirnya pola pikir tersebut untuk mendapatkan hasil survei-survei atau hasil praktik interaksi bertoleransi tersebut.

Contohnya, ketika ada kelompok atau lembaga survei yang berideologi sekulerisme, yakni memisahkan agama dari ranah kehidupan sosial. Maka akan menstandarkan toleransi terkait gerak sosial sebuah agama dalam interaksi sosial dengan agama lainnya. Objek pengaitan kasusnya adalah hukum agama yang dipakai dalam kehidupan interaksi sosial tersebut.

Hasil survei oleh lembaga atau kelompok ini biasa berujung pada sikap rasis ataupun intoleran yang mendominasi pada pihak yang menggunakan aturan agama dalam bersosialisasi dengan pihak agama lain. Sehingga seolah-olah mendiskreditkan pihak yang ingin bersosialisasi menggunakan standar hukum agama yang dianut.

Contoh lainnya, jika lembaga atau survei tersebut didominasi dengan ideologi sosialisme. Hal ini akan menggerakkan ke arah hasil survei satu rasa semua rasa. Sehingga standar toleransi yang diberikan adalah ketika semua orang mempunyai hak dan kewajiban (termaksud dalam lingkup toleransi) yang disamakan dalam bernegara dan hanya ditentukan oleh hukum yang dimuat dalam undang-undang negara. 

Hal ini membuktikan bahwa, banyak kelemahan dan penyelewengan yang pasti akan terjadi. Sebab dua ideologi di atas berasal dari pemikiran-pemikiran manusia yang lemah dan terbatas untuk menghukumi dan menghakimi. Bahkan, sewaktu-waktu bisa di ubah ketika objek pengaitan dirubah. Sehingga bukan sebuah keniscayaan, jika survei-survei atau praktik bertoleransi yang berasaskan dua ideologi ini selalu berbeda meskipun dilakukan dengan objek studi kasus dan objek volunter yang sama tetapi didominasi dengan perbedaan ideologi.

Islam dan Toleransinya
Berbeda dengan dua ideologi di atas, Islam sebagai ideologi yang berasal dari Allah Azza wa Jalla mempunyai seperangkat aturan yang akan memengaruhi survei tersebut. Dalam Ideologi Islam, ada hukum syara yang akan menjadi standar muslim ketika berbuat dan bertindak, termaksud dalam hal berinteraksi ataupun bertoleransi dengan nonmuslim dalam kehidupan individu sampai ke tahap tatanan bernegara. Ini membuktikan bahwa, tidak ada dominasi pemikiran manusia yang ada pada standar toleransi dalam Islam, yang ada hanya praktik toleransi yang berstandarkan syariat Islam saja.

Contoh-contoh nas yang berkaitan dengan perlindungan nonmuslim dalam Islam adalah:

1. Terkait memberikan rasa aman dan perlindungan
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”(QS. At Taubah: 6)

2. Keharaman membunuh nonmuslim yang bersikap toleransi atau yang tidak memerangi kaum muslimin, bahkan wajib untuk dilindungi
Siapa yang membunuh kafir mu’ahid ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” HR Bukhari dan Muslim.

3. Memberikan keadilan bagi nonmuslim
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah: 8)

4.Memberikan hak para nonmuslim dan keharaman berlaku dzalim pada mereka
Ingatlah! Barangsiapa berlaku zhalim terhadap kafir Mu’ahid, mengurangi haknya, membebani mereka beban (jizyah) di luar kemampuannya atau mengambil harta mereka tanpa keridhoan mereka, maka akulah nantinya yang akan sebagai hujah mematahkan orang semacam itu” Hadist diriwayat Abu Daud.

Hukum syara di atas adalah sedikit contoh dari beberapa dalil yang berkaitan dengan toleransi yang diatur dalam Islam. Bahkan, dalil-dalil ini dirinci dalam kitab-kitab Ulama serta pernah diterapkan dalam lingkup Negara Islam (Daulah Islamiyyah) yang tegak selama 1300 Tahun, menaungi 2/3 dunia yang didalamnya terdapat berbagai etnis, agama, ras bahkan budaya. 

Dalam penelitikan sejarah masa kejayaan Islam dalam hal toleransi, Sejarah telah menoreh tinta emas ketika standarisasi toleransi dibawah syariat Islam, hal ini membuktikan, syariat Islam mengatur toleransi dengan sangat manuasiwi dan memberikan hasil yang sangat luar biasa. Ini terbukti pada masa Khilafah yang dimulai sejak kepemimpinan Rasulullah saw hingga Khilafah Ustmaniyyah. Pembuktian ini bukan hanya sekedar utopis belaka, para pakar sejarah telah membuktikan adanya fakta-fakta terkait hal ini.

Standar toleransi tidak akan mendiskreditkan atau mengucilkan akidah agama tertentu. Bahkan, baik muslim ataupun nonmuslim akan diberi hak yang sama sebagai warga Negara dan kewajiban yang akan disesuaikan dengan ranah akidah agama mereka. Ini membuktikan, Syariat menjaga toleransi dengan sangat apik ketika berwujud sebagai Ideologi.

Inilah yang menjadikan perlu adanya pengkajian ulang terkait dengan standarisasi survei atau memberlakuan standar toleransi di masyarakat. Sebab telah terbukti standar toleransi yang diberlakukan ataupun didudukan menggunakan aturan yang dibuat oleh individu ataupun kelompok yang didominasi oleh sebuah ideologi, terbukti gagal dan tidak mampu. Ini akan menimbulkan standarisasi menurut keinginan pemegang asas ideologi yang bernaung dan mendominasi lembaga survei atau masyarakat.

Bahkan, praktik toleransi di masyarakat bisa saja berubah sewaktu-waktu.
Cukuplah sejarah membuktikan bagaimana dua ideologi ciptaan manusia (kapitalisme sekularisme dan sosialisme komunisme) tidak mampu menjadi standarisasi dalam bertoleransi.  Oleh karenanya, setiap manusia selayaknya bersandar pada ideologi Islam yang berasal dari aturan Sang Khaliq. Sehingga, tak lagi mudah untuk latah bertoleransi karena telah memiliki pemahaman yang benar dalam memaknai toleransi ini.[MO/sr]

Posting Komentar