Oleh: Ummy Kalsum Hasbie

Mediaoposisi.com- Tak habis-habis propaganda yang dilakukan musuh-musuh islam. Aksi yang diusung dalam rangka mengembalikan persatuan umat muslim, menjalin ukhuwah dan kembali membangkitkan girah berislam diberi label tak karu-karuan.  Ekstrimis, radikalis, politisasi agama, intoleran dan masih banyak anak-anaknya yang lain. Aksi ini dirundung habis-habisan, “alah ini aksi pentolan ormaslah”, “ada upaya gerakan makar”, “jadi ajang menghina dan mencela pemimpin”.

Macam-macam judul tuduhannya. Bervariasi menunya, kalah sama warteg langganan mahasiswa.
Yang menarik adalah label ini sepertinya seragam dan mengerucut ada satu kesimpulan. Tindakan kelompok radikal. Yang nafsu membawa Indonesia kacau balau.

Bahkan klaim terparah adalah ingin membawa negara ini berkonflik seperti Suriah. Walau menggelikan, karena yang menuding dalam ha ini, belum tentu paham sesungguhnya konflik apa yang terjadi di Suriah sana. Apa yang melatar belakangi. Siapa aktor antagonisnya dan siapa “victim-nya”. Lalu gampangnya menstigmatisasi dan dengan percaya diri disebar ke seluruh penjuru negeri.

Mari kita telisik darimana istilah Radikal ini berasal? Siapa yang menjadi dalang utama mengusung istilah ini? Kenapa labelisasi semacam ini dan kawan-kawannya tadi, hanya identik disematkan pada  aktivitas-aktivitas keislaman?

Radikalisme (dari bahasa Latin radix yang berarti "akar") adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh.

Begitu "radikalisme" historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif. Meski tidak baru, bahkan muncul lebih dulu daripada Revolusi Perancis, radikalisme keagamaan menemukan kembali momentum sejak pertengahan 1980-an ketika berbagai agama mengalami kebangkitan (religious revivalism) menantang modernitas dan sekularisme (kompasiana.com)

Menurut Encyclop√¶dia Britannica, kata "radikal" dalam konteks politik pertama kali digunakan oleh Charles James Fox. Pada tahun 1797, ia mendeklarasikan "reformasi radikal" sistem pemilihan, sehingga istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan yang mendukung reformasi parlemen. Jadi sebenarnya radikalisme pun mewarnai kehidupan barat. Di mana ketika proses kedzalimn dalam kacamata mereka terjadi maka dibentuk gerakan yang menuntut perubahan.  Gerakan yang mngakar, serius dan tegas. Sekedar itu.

Namun belakangan ini. Isu radikalisme menjadi seksi untuk diangkat menjadi propaganda. Tujuannya tidak lain adalah untuk membumi hanguskan persatuan dan perjuangan islam yang mulai menunjukkn bibit-bibit kebangkitan. Jika kita kembali ke makna bahasa dari radikal tadi yaitu akar atau mengakar bukankah setiap paham di dunia ini dibawa mutlak harus mengakar?  Jika tidak demikian bagaimana suatu paham atau konsep tersebur bisa disebarkan?

Bukankah Amerika sebagai kampium demokrasi pun “radikal” menyebaran paham yang dianut negaranya? Meskipun harus dengan perang dan berdarah-darah. Meskipun dengan gerakan bawah tanah yang halus namun mengadu domba sesama saudara. Mereka sukarela menjalani demi ideologi yang mereka yakini. Secara kenyataanya mereka pun rela menjadi radikal.

Lalu kenapa para intelektual muslim seolah menjadi banci di hadapan propaganda barat? Begitu kental istilah itu diusung kepada gerakan-gerakan, yang hadir tidak lain hanya untuk menjelaskan konsep islam secara lurus. Tanpa kepentingan tanpa embel-embel. Yang memilukan adalah label itu disematkan dengan cara-cara yang "ngotot" penuh keapi-apian. Padahal berseliweran agenda yang justru mengarah sangat intim dengan radikalisme (inipun klo kita menerima radikalisme dari tafsir yang diberikan oleh barat tadi).

Mari kita mebuka mata, tindakan separatism bersenjata, ulama digorok orang gila, aksi jajak pendapat diancam pake golok di bandara. Kegiatan-kegiatan ini malah tidak nyaring diklaim sebagai tindakan radikal. Bahkan ada sebagian yang dibenarkan dengan alasan klasik menjaga NKRI atau alasan dungu, itu adalah ekspresi kebebabsan berpendapat. Kebebasan berpendapat kok harus bawa-bawa golok segala. Bukannya jadi multitafsir juga?

Aksi damai yang tak meninggalkan sampah meski hanya sedikit diantipati hanya karena label dari para penyembah-penyembah barat. Tidakkah kita melihat betapa fatal multitafsir radikalisme yang di-amini rezim hari ini? dan tidak ketinggalan  tim hore yang siap meneruskan agar label jahat itu menjadi berita aktual. Label dangkal jadi standar, kasihan[MO/sr]

Posting Komentar