Oleh: Diana Wijayanti, SP 
( Pemerhati sosial Palembang) 

Mediaoposisi.com- Reuni Akbar 212 di Monas Jakarta merupakan acara Syiar Islam terbesar di dunia. Lebih dari 10 juta massa umat Islam tumpah ruah hitam-putihkan Monas. Sungguh jumlah yang sangat fantastis.

Tidak hanya menakjubkan di dalam negeri di luar negeri pun peristiwa ini menjadi berita. TV al Jazeera, serta media cetak Malaysia,  Turki, Arab, Inggris, Spanyol, Perancis, Jepang,  dan Nigeria.
Bahkan 202 negara yang tergabung dalam The World Peace Committe sepakat menjadikan "212" hari ukhuwah dunia. "Ukhuwah Day Of The World'. "Saya orang Italia beragama katolik, begitu melihat vidio peristiwa 2 Desember 2018 diJakarta Indonesia, saya merinding dan bergetar". Kata Prof. Francesco Sekjen The World Peace Committe.

Belum ada massa sebanyak itu yang dengan tertib, berbaris rapi melakukan sholat tahajud,  sholat subuh dan tabligh Akbar, sangat santun dan damai. Sungguh Luar biasa.

Reuni 212 merupakan wujud persatuan umat Islam dibawah naungan kalimat tauhid,  "Laa ilaha illa Allah" . Iman dalam dada inilah yang mempersatukan kaum muslimin, sehingga menjadi kekuatan besar melawan segala rintangan dan fitnah keji yang dilontarkan Rezim. Mulai dari yang larangan halus sampai yang kasar.

Mereka mengatakan bahwa Reuni 212 akan bikin macet,  pekerjaan sia-sia,  menghamburkan uang,  tenaga, dan waktu yang tak sedikit. Selain itu pembatalan tiket kereta,  pelarangan Po Bus untuk mengangkut peserta Reuni 212 dan tuduhan Reuni akan Suriah-kan Indonesia dan bentuk  Makar terhadap NKRI. Tujuannya agar umat tidak hadir acara Reuni ini.

Namun fakta bicara lain. Makar Allah SWT lebih hebat ternyata . Halangan dan Rintangan tak mengundurkan semangat umat untuk hadir reuni 212, malah sebaliknya pengorbanan saudara muslim yang dihambat menjadi energi baru bagi muslim yang lain untuk tak mau kalah dalam membela kalimat tauhid.

Selama ini umat juga dihembuskan paham sesat yaitu  "kaum muslimin mustahil bisa bersatu" ,  namun semua itu terbantahkan.
Reuni 212 berhasil menghimpun Ulama,  Habaib,  Usatidz,  rakyat biasa,  artis maupun pejabat. Mereka berkumpul dalam satu waktu dibawah panji Rasulullah saw.

Ini jelas bukti bahwa umat Islam itu masih ada,  lebih percaya hadits daripada ucapan Rezim. Rezim telah mengatakan bahwa bendera yang dibakar itu adalah bendera HTI tetapi umat yakin itu adalah bendera Rasulullah saw.  Umat tidak ridha dengan kezaliman dan penistaan terhadap simbol Agama Islam yang dipertontonkan Rezim.

Betapa tidak,  tepat di hari santri oknum Banser NU telah membakar bendera Tauhid dengan alasan itu bendera HTI. Padahal di bendera itu tidak ada identitas HTI yang ada kain hitam bentuk bendera bertuliskan kalimat tauhid. Meski berkilah pembakaran itu dalam rangka memuliakan bendera,  semua terbantahkan karena penampakan pembakaran itu bukan dalam rangka memuliakan tapi penuh kebencian dan amarah.

Setelah protes terjadi terhadap pembakaran bendera Tauhid,  maka aparat segera menangkap pelaku pembakaran.  Kemudian mereka didesak untuk minta maaf,  ternyata tidak mau. Mereka hanya mau minta maaf karena telah buat gaduh bangsa.

Desakan protes semakin keras hingga diproses ke pengadilan,  setelah diputuskan ternyata hukumannya sangat ringan kurungan 10 hr dan denda Rp 2.000.
Jelas inu bentuk penghinaan terhadap Islam,  karena orang yang menistakan Agama Islam dihukum dengan hukum abal-abal, dan
denda sangat ringan yaitu seperti bayar parkir motor.  Inilah yang ingin ditunjukkan oleh umat bahwa rezim sangat zalim dan anti Islam.

Reuni 212 adalah ajang unjuk kekuatan umat Islam membela Kalimat Tauhid, bersatu padu tinggikan kalimat tauhid. Hal ini terlihat dari lebih banyaknya atribut Kalimat tauhid yang dipakai oleh peserta aksi. Ada yang berbentuk stiker, pin,  topi,  poster,  bendera kecil,  sedang dan super besar,  juga ada yang panjang.  Semua dibentangkan dan diagungkan sebagaimana keagungan Tulisan Tauhid yang menjadi asas Keimanan seorang muslim.

Tak ada yang gentar memakai simbol kalimat tauhid meskipun Rezim meyakinkan lewat media maintremnya bahwa itu bendera HTI. Umat seolah membantah kalau bendera itu milik ormas.  Umat yakin bahwa bendera Tauhid adalah panji Rasulullah saw yang wajib dijaga dan ditinggikan.
Para sahabat telah mengerahkan segala daya dan upaya untuk meninggikan Rayah ketika perang.

Lihatlah saat perang Mu'tah betapa pengorbanan Zaid Bin Haritsah,  Ja'far bin Abi Thalib dan Abdulah Bin Rawahah semua gugur membela Islam dan meninggikan kalimat Tauhid. MasyaAllah...
Kini,  Kalimat Tauhid itu sudah berada dipangkuan ummat,  umat tidak lagi phobia dengan bendera tauhid. Umat tidak lagi menganggap bendera Tauhid adalah bendera ISIS,  bendera HTI maupun bendera Teroris.  Sungguh umat telah memiliki kesadaran penuh tentang pentingnya Ukhuwah bersatu dibawah naungan Liwa dan Rayah.

Namun perjuangan tak boleh berhenti sampai di sini,  karena persaudaraan dan persatuan yang hakiki itu butuh penerapan praktis demi kemaslahatan umat.
Allah SWT berfirman :
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku."

Umat yang tertindas di Palestina,  Yaman,  Suriah,  Kashmir, Uighur,  Rohingya dan negeri-negeri muslim butuh persatuan dan ukhuwah yang mampu membebaskan mereka dari penjajahan dan penindasan orang Kafir laknatullah.

Persatuan itu butuh wadah,  Rasulullah saw telah menurunkan Syariah secara Kaaffah dalam naungan satu Daulah. Dalam Fiqih Islam disebut sebagai Khilafah Islamiyah.

Setelah Persatuan diraih saatnya kita melanjutkan perjuangan demi tegaknya Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah agar persatuan hakiki memberi pengaruh nyata dalam mewujudkan kehidupan yang penuh Rahmat bagi seluruh alam.
Tiada kemuliaan tanpa Islam.
Tiada Islam tanpa Syariah.
Tiada Syariah tanpa Daulah Khilafah Rasyidah[MO/sr]

Posting Komentar