Oleh: Endang setyowati   

Mediaoposisi.com-  Sudah hampir sepekan acara reuni 212 berlangsung, namun ghirohnya masih terasa sampai saat ini. Reuni 212 di adakan pada tgl 2 desember 2018 merupakan acara bela bendera tauhid karena sebelumnya ada kejadian penistaan dengan jalan membakar bendera tauhid, yang mana pelakunya hanya di penjara 10 hari dan denda Rp 2000 rupiah!

Karena  kecintaan umat terhadap bendera tauhid, kalimat yang menjadi pegangan utama hidup dan matinya umat Islam yang membuat umat tidak rela tauhid mereka di hina. Dua tahun yang lalu, tahun 2016 di tempat yang sama umat berkumpul karena tidak rela ayat sucinya di nistakan. Mereka marah karena terusik akidahnya, di nistakan agamanya. Karena kemarahan itu, maka umat bersatu menga-wal keadilan bagi pelaku penista agama.

Pada tahun 2017 di adakan reuni, umat kembali bersatu menyuarakan agar Islam, ulamanya dan umatnya tidak lagi di kriminalkan. Pada reuni 212 kemarin itu, jumlah pesertanya sangat fantastik. Hasil dari perhitungan IMEI HP yang tercatat di operator saja mencapai sekitar 13,4 juta di sekitar lokasi aksi. Terharu, Bangga. Sekaligus takjub. Tentu diliputi rasa syukur luar biasa kepada Allah SWT. Menyaksikan Al-Liwa dan ar-Rayah berkibar dengan gagah pada Acara “Reuni 212” Aksi Bela Tauhid.

Berkibar tak hanya satu-dua. Namun, jutaan Al-Liwa dan ar-Rayah. Bendera Rasulullah saw itu diusung dengan penuh semangat dan kebanggaan oleh jutaan umat Islam yang berkumpul di Monas dan sekitarnya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, organisasi, bahasa kelompok dan mazhab. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta.

Namun, dari berbagai kota dan daerah. Tidak hanya dari Jawa. Namun, banyak yang datang dari luar Jawa: Dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia, Australia dan beberapa negeri lain. Aksi besar dan super damai itu pun diliput oleh berbagai media di luar negeri. Namun luput dari berita nasional. 

Menyaksikan jutaan Al-Liwa dan ar-Rayah berkibar seolah membenarkan satu jargon: “Satu Dibakar, Jutaan Berkibar!” Ya, aksi pengibaran jutaan Al-Liwa dan ar-Rayah di kawasan Monas pekan lalu tidak lain merupakan reaksi langsung terhadap aksi pembakaran Bendera Tauhid itu oleh oknum Banser di Garut beberapa waktu lalu. 

Jelas, Aksi Bela Tauhid yang dilakukan oleh jutaan umat Islam itu sangat fenomenal. Aksi besar tersebut sekaligus membuktikan bahwa berbagai upaya dari rezim dan para pendukungnya untuk
mengalihkan isu dengan terus mempropagandakan bahwa yang dibakar adalah Bendera HTI, bukan Bendera Tauhid, gagal total.

Umat kini tak lagi bisa dibohongi. Mereka sekarang tak lagi mudah ditipu, sudah cerdas. Mereka sudah mulai sadar. Mereka kini paham bahwa Al-Liwa dan ar-Rayah adalah milik mereka. Bukan semata-mata milik Hizbut Tahrir. 

Al-Liwa dan ar-Rayah adalah Bendera Tauhid. Bendera milik umat Islam. Tauhid itu sendiri adalah inti semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan para rasul ke alam dunia. Allah SWT berfirman:
"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami mewahyukan kepada dia bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Karena itu sembahlah Aku oleh kalian". (TQS alAnbiya' [21]: 25). 

Allah SWT juga berfirman:
Sungguh Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah oleh kalian Allah saja dan jauhilah thâghût-thâghût itu (TQS an-Nahl [16]: 36). Alhasil, tauhid adalah inti agama Islam. Tauhid sekaligus merupakan misi utama Islam. Misi Islam ini mengandung makna bahwa manusia hanya layak menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT.

Sebaliknya, mereka haram menyembah dan mempertuhankan sesama manusia. Inilah juga yang antara lain ditegaskan oleh Rasulullah saw. di hadapan penduduk Najran yang saat itu beragama nasrani:
“Amma badu. Sungguh aku menyeru kalian untuk hanya menghambakan diri kepada Allah dengan meninggalkan penghambaan kepada sesama manusia….” (Al-Baihaqi, Dalâil an-Nubuwwah, 5/485; Ibnu Katsir, As-Sîrah an-Nabawiiyah, 4/101). 

Tauhid sejatinya melahirkan ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan hanya kepada Allah SWT tentu menafikan pihak lain untuk ditaati. Tauhid pun meniscayakan bahwa pembuat hukum yang wajib ditaati hanyalah Allah SWT. Dialah sebaik-baik pembuat aturan bagi manusia. Ketika seorang manusia tidak mau berhukum pada hukum Allah dan Rasul-Nya, tentu tauhidnya ternoda. 

Allah SWT berfirman:
"Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya". (TQS an-Nisa [4]: 65).

Ketaatan pada hukum Allah SWT adalah refleksi tauhid seorang Muslim. Ia tidak akan menjadikan syariah Islam sebagai perkara yang boleh dipilih sesuka hati. Ia memahami bahwa memilih hanya syariah Islam adalah kewajiban. Ia pun akan menjauhkan diri dari sikap sombong dan meremehkan hukum-hukum Allah.

Tentu spirit atau semangat bela tauhid harus terus dirawat. Agar selalu tumbuh dan terus berkembang di tengah-tengah umat. Tak hanya muncul saat simbol-simbol Islam dihinakan. Tak hanya hadir saat syiar-syiar Islam direndahkan. Tak hanya mengemuka saat al-Quran dan kalimat tauhid dinistakan.

Namun, yang jauh lebih penting, adalah saat hukum-hukum Allah SWT atau syariah Islam dicampakkan, sebagaimana yang terjadi saat ini. Karena itu spirit bela tauhid ini harus mewujud dalam visi sekaligus misi hidup seluruh umat Islam.

Jika seluruh kaum Muslim memang mengklaim bertauhid, maka tak ada hukum atau aturan yang wajib mereka laksanakan selain aturan dan hukum Allah SWT atau syariah Islam. Jika seluruh kaum Muslim mengaku membela kalimat tauhid, maka tak ada yang pantas mereka lakukan selain berupaya sekuat tenaga untuk menegakkan aturan-aturan Allah SWT atau syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan.[MO/ge]

Posting Komentar