Oleh: drg. Eka
(Praktisi Kesehatan di Surabaya)

Mediaoposisi.com-Selama tahun 2018, telah tercatat terjadi beberapa peristiwa yang berkaitan dengan kriminalisasi ajaran dan simbol Islam. Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah, Maneger Nasution menyebutkan bahwa ada masalah dalam kebebasan beragama di era Jokowi-JK. Menurutnya, indikasi tersebut disimpulkan karena adanya kriminalisasi terhadap ulama. Maneger menekankan bahwa pemerintahan Jokowi-JK harus memastikan kehadiran negara dalam memenuhi hak-hak konstitusional warga negara khusunya hak atas kebebasan beragama.

“Di era ini ada kriminalisasi terhadap beberapa ulama/tokoh agama, munculnya OGGB (orang gila gaya baru) pemburu ulama/tokoh agama, pelarangan pemakaian atribut yang diyakini sebagai yang burnuansa agama oleh pemakainya di beberapa kampus, dan lain-lain. Itu menunjukkan patut diduga keras ada problem hak atas kebebasan beragama di rezim ini,” katanya (kiblat.net).

Aksi pembakaran bendera tauhid yang ternyata tidak ditindak tegas oleh negara, semakin menguatkan keberadaan negara yang tidak melindungi dan menjamin akidah kaum muslimin. Para ulama yang menyampaikan ajaran Islam pun, justru dinilai Negara mengancam kesatuan Negara ini. Bahkan, Khilafah sebagai ajaran Islam yang diterapkan oleh para shahabat Rasulullah saw dianggap sebagai ajaran yang akan membawa pada perpecahan.

Bentuk Penjajahan Untuk Menjauhkan Kebangkitan Hakiki

Mengacu pada pernyataan William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasasinya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Kebencian Gladstones juga tercermin dalam kata-katanya: “So long as there is this book, there will be no peace in the world” (Selama ada Al-Qur’an ini, maka tidak akan ada perdamaian di dunia).

Maka, diciptakanlah propaganda – propaganda agar kaum muslimin menjadi takut dengan keIslamannya. Kaum muslimin dibuat tidak bangga dengan simbol agamanya sendiri. Negara yang seharusnya melindungi dan menjamin akidah kaum muslim pun tergadaikan, dan justru terbawa arus untuk menjadi perpanjangan tangan upaya Barat dalam membendung kebangkitan dan perubahan hakiki.

Syariat Islam, Membawa Negara Bermartabat Secara Hakiki

Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al A’rag 96).

Menerapkan syariat Islam yang telah ditetapkan Allah swt, adalah sebuah kewajiban bagi kaum muslimin. Islam memiliki serangkat aturan yang menyeluruh dalam mengatur kehidupan manusia. Aturan yang akan membawa kebaikan bagi manusia, ketika diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.

Terbukti, ketika Islam diterapkan oleh negara (Daulah Khilafah) selama kurang lebih 1300 tahun lamanya, Islam telah menjadikan kaum muslimin sebagai umat yang terbaik. Maka sudah saatnya untuk menjadikan syariat Islam sebagai pedoman dalam mengurus Negara dan rakyat, agar negeri muslim menjadi berkah dan bermartabat secara hakiki.

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

“Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan pengembala, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya (rakyatnya)” (HR.Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam

Posting Komentar