Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis 

Mediaoposisi.com-Sungguh tak perlu diragukan lagi jika Allah menyematkan derajat kaum muslim adalah umat yang terbaik, karena Allah mewajibkan setiap mereka yang sudah beriman dan mengucapkan dua kalimat syahadat untuk terus menerus terikat dengan hukum-hukumNya salah satunya adalah saling nasehat menasehati. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang berarti.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”( TQS. Ali Imron: 110).

Artinya, tidak ada dalam Islam untuk sifat egois dan individualis. Karena meskipun perbuatan itu dilakukan oleh individu tetap bisa berdampak kepada masyarakat. Karena Islam memandang masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi yang memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan yang satu.

Sehingga individu dan masyarakat adalah satu kesatuan, tak terpisahkan. Dalam tataran masyarakat yang lebih besar yaitu negara, maka penerapan saling nasehat menasehati ini akan sangat memberikan kontribusi besar bagi berlangsungnya pengurusan seluruh urusan umat.
Allah Ta’ala juga berfirman berfirman,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 2)

Adalah salah satu kekuatan yang harus senantiasa terpelihara. Agar ada sinergi antara umat dan penguasa, sehingga kesejahteraan dan ketentraman hidup bisa diraih. Kita bisa melihat bagaimana ketika satu hukum syara dilanggar kemudian tidak ada yang mengingatkan, semisal memandang zina adalah hal yang biasa terjadi dalam film-film, sinetron, acara talk show dan banyak lagi media yang sengaja mengeksploitasi tontonan menjadi tuntunan dan gaya hidup mayoritas kaum muslim.

Kemudian solusi yang diambil penguasa adalah dengan solusi yang tidak menuntaskan bahkan terkadang justru menimbulkan persoalan baru.

Karena digali dari sumber hukum yang salah yaitu kecerdasan manusia. Tidak lain yang muncul adalah syahwat dan manfaat, dan menjadi sasaran empuk bagi kaum kufar untuk semakin menjauhkan kaum muslim dari agamanya. Muhasabah umatpun dianggap sebagai perbuatan makat, melawan negara.

Miniatur prilaku amar makruf nahi mungkar bisa kita saksikan secara gamblang dibalik fenomena di aksi 212, ketika jutaan manusia dari berbagai pelosok negeri datang dan berkumpul, dengan karakter, budaya dan bahasa yang berbeda namun satu pemikiran tentu membutuhkan satu teknis penjagaan dan koordinasi yang mampu menjadikan suasana tetap kondusif.

Dan acara fenomenal kemarin memperlihatkan bagaimana orang -orang sangat menjaga ketika ada yang  menginjak rumput, tidak mendorong orang lain, memberi jalan dan lain sebagainya.

Hal yang sederhana namun bisa diuji kebenarannya, aspek yang sederhana namun kontrol sosial cukup tinggi. Yaitu keimanan dan semangat amar makruf nahi mungkar.Banyak dari  para peserta Reuni Akbar 212 juga saling mengingatkan agar menjaga ketertiban.

"Jangan menginjak rumput, nanti viral. Ayo lewat pinggir," ujar salah satu peserta di lokasi, Minggu (2/12/2018), seperti yang dikutip dari Warta Kota ( tribun timur.com/02/12/2018).

Mereka juga mengimbau teman-temannya untuk menyimpan sampah dan membuang ditempat yang telah disediakan. "Tolong sampahnya disimpan dulu, jangan buang sembarangan," ucap penjaga keamanan Reuni 212. Dari pantauan Warta Kota, kawasan Monas bersih dari sampah. Rumput pun steril dari ribuan para peserta reuni.

Hal itu tak akan terjadi begitu saja. Dan tak akan bisa disarikan dalam kurikulum pendidikan hari ini. Dimana tidak ada lagi kesantunan, aklak mulia dan tanggung jawab. Apa yang hilang?  Karena pembiasaan perbuatan baik tidak diiringi dengan kesadaran akan hubungannya seorang hamba kepada sang penciptaNya. Aspek muhasabah inilah yang harus dihidupkan kembali.

Karena ia  adalah salah satu pilar  yang perlu ditegakkan pada skala negara sebagai bentuk kontrol sosial.

Hanya syariat Islam yang mampu mewujudkan terjaminnya muhasabah di setiap aspek kehidupan dalam sebuah negara.

Karena islam adalah tidak sekedar mengatur akidah seseorang namun juga berisi peraturan guna menyelesaikan persoalan dan menjaga agar akidah tersebut tetap ada. Jika persatuan umat yang fenomenal bisa saja terjadi, maka apatah lagi persatuan umat dalam sebuah sistem yang berasal dari wahyu Allah, yaitu Islam kaffah.[MO/an]





Posting Komentar