Oleh: Masniati, S. Pd 
(Akademi Menulis Kreatif Reg. Bima)

Mediaoposisi.com- Alhamdulillah, Pelaksanaan Reuni Akbar 212 berjalan secara damai, aman, tertib dan bersih.

Tidak sedikit peserta Reuni menitikkan air mata, penuh haru dan takjub dengan ukhuwah (persaudaraan) dan persatuan umat yang hadir dalam Reuni Akbar tersebut. Peserta yang hadir dari berbagai daerah dan provinsi yang ada di Indonesia dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda, baik dari sisi usia, pendidikan, profesi bahkan agama. Sebab, yang non muslim pun ternyata ikut larut dan takjub dengan sapaan dan sambutan hangat dari peserta Reuni Akbar tersebut.

Salah satu fenomena yang ditunjukkan oleh jutaan peserta aksi 212 yang diselenggarakan di Monumen Nasional (Monas) tersebut adalah adanya kontrol sosial yang begitu kuat antara peserta aksi. Bagaimana tidak, jutaan manusia yang hadir mampu menunjukkan bahwa mereka sangat menjaga lingkungan sekitar Monas untuk tidak merusak atau  menginjak-injak tanaman di sekitarnya. Tidak ada yang mendorong orang lain, memberi jalan dan sebagainya.

Peserta saling mengingatkan untuk tidak berjalan di rerumputan.
"Ayo jangan injak rumput," seru salah seorang peserta aksi. Sementara peserta yang lainnya juga berkali-kali menyerukan lewat pengeras suara untuk tetap menjaga tanaman yang ada di sekitar lapangan Monas.

"Ingat, jalannya di aspal jangan injak rumput," kata seorang kelompok dari peserta.
Selain itu, peserta aksi juga membekali diri membawa kantong plastik hitam besar untuk mengumpulkan sampah. Bahkan mereka juga tak segan menghampiri menanyakan apa ada sampah. (www.gatra.com)

Senada pula seperti yang dikutip dari Warta Kota. 
"Jangan menginjak rumput, nanti viral. Ayo lewat pinggir," ujar salah satu peserta di lokasi.
Dari pantauan Warta Kota, kawasan Monas bersih dari sampah. Rumput pun steril dari ribuan para peserta reuni.

Jika sebelum aksi damai itu berlangsung, banyak tudingan dan berbagai fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang yang tak inginkan umat melakukan pembelaan kalimat tauhid dan bendera tauhid. Dari tuduhan bahwa peserta yang hadir itu dibayar, Reuni akbar 212 untuk tujuan politik dan tuduhan-tuduhan lainnya yang tidak terbukti.

Fenomena yang terjadi dalam aksi damai 212 dari hal yang sederhana saja menunjukkan bagaimana kontrol sosial yang begitu tinggi. Hal yang terlihat sepele, terlihat kecil, namun dampaknya sangat luar biasa sebagai bentuk kesadaran dan tanggung jawab umat dalam menjaga ketertiban, perdamaian dan kebersihan lingkungan.

Reuni 212 bukan sekedar ngumpul bareng, sholat tahajud, sholat subuh berjamaah, dzikir dan sholawat bareng. Tapi jauh dari itu, yakni bentuk muhasabah kepada penguasa atas berbagai persoalan yang terus menyelimuti negeri ini dalam seluruh aspek kehidupan. Pembakaran bendera tauhid oleh oknum salah satu kelompok yang mengaku paling NKRI, paling Pancasilais adalah puncak lahirnya kesadaran umat untuk membela kalimat tauhid dan bendera tauhid.

Sebab pembakaran bendera tauhid adalah sebuah penghinaan dan pelecehan terhadap simbol-simbol Islam dan syariahnya. Terlebih lagi, pelakunya hanya disanksi dengan hukuman yang tak sepadan dengan aksi penghinaan mereka dengan membakar bendera tauhid.

Belum lagi persoalan-persoalan lain di bidang kesehatan, pendidikan, politik, ekonomi, keamanan dan sebagainya yang begitu carut marut melanda negeri ini.

Aspek muhasabah adalah salah satu pilar yang perlu ditegakkan pada skala negara sebagai bentuk kontrol sosial.

Dalam Islam sendiri, kontrol sosial benar-benar harus selalu diwujudkan dalam bentuk amar ma'ruf nahi munkar yang dilakukan oleh individu, masyarakat dan negara.

Jika hal sederhana seperti halnya yang ditunjukkan dalam Reuni Akbar 212 mampu ditunjukkan oleh jutaan manusia sebagai bentuk kontrol sosial dalam menjaga keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan. Maka kontrol sosial dalam aspek muhasabah kepada negara sekalipun untuk menyelamatkan umat dan bangsa seharusnya jauh lebih ditingkatkan lagi. Tentunya bukan hal yang mudah jika landasannya bukan dari islam.[MO/sr]

Posting Komentar