Oleh: Aulia Rahmah
(Aktivis Dakwah Islam, Gresik - Jatim)

Mediaoposisi.com-Reuni 212 telah sukses digelar. Sejuta kisah tak habis untuk menggambarkan kesan tentangnya. Persatuan, kedamaian,  kebersamaan, ketertiban, kedisiplinan, dll
   
Gelaran 212 mungkin dapat dikatakan sebagai miniatur masyarakat islami. Ulama sebagai pemandu berbagai macam komunitas masyarakat yang terdiri dari individu - individu sholih yang bertaqwa, tertib, dan disiplin. Lebih dari 10 juta orang berkumpul, tak menunggu lama dengan kumandang adzan dan iqomah, barisan rapi tergelar. Sangat mudah memimpin masyarakat yang patuh pada nasihat ulama.
   
" Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang - orang yang bertaqwa dan yang beramal sholih dan saling tolong - menolong dalam kebenaran dan kesabaran " ( Tqs. Al Ashr : 1 - 3 ).
     
" Dan tolong - menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong - menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksaNya ". ( Tqd. Al Maidah : 2 ).
   
Ayat diatas mungkin yang menjadi inspirasi para peserta reuni 212. Berharap ketertiban selalu terjaga dan tak terjadi pelanggaran.
   
Inilah komitmen masyarakat islami. Yang mengingatkan tergerak oleh kewajiban amar ma'ruf nahyi mungkar, dan yang diingatkan berlapang dada, sebab manusia tempatnya salah dan lupa. Senyum tersungging di wajah orang - orang yang tanpa sadar menginjak rumput. Para peserta lainnya berteriak " ayo...jangan injak rumput ! " , dilansir oleh Gatra.com ( 2/12 }.
   
Reuni 212 bak fajar dini hari yang kedatangannya ditunggu untuk menerapi tubuh yang kekurangan oksigen dan sinar matahari pagi. Tubuh yang telah lama sakit dan hampir putus asa, kini tak lagi kehilangan harapan. Wejangan dari orang - orang yang terpercaya ditambah kesadaran diri untuk menatap masa depan, lambat laun menjadi kekuatan yang tak dapat dikalahkan.
   
Orasi para ulama yang menggugah hati dan pikiran umat Islam, memberi harapan baru untuk bangkit menegakkan bendera Tauhid sebagai lambang tegaknya Syariat Islam kaffah. Bersama  - sama berkomitmen untuk meruntuhkan bangunan sekularisme dan liberalisme yang merusak seluruh sendi kehidupan.
   
Potensi persatuan ini sangat berguna sebagai bentuk pertahanan tubuh Umat Islam. Dengan persatuan, Umat Islam dapat menagkal berbagai tudingan negatif seperti terorisme, radikalisme, intoleran, dll.
   
Tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan peradaban Islam yang membawa rahmatan lil alamin. Dialah Tholabun Nushroh, panglima militer yang komitmen untuk menjaga masyarakat islam dibawah komando para ulama' warotsatul anbiya'.
   
Hari ini, militer milik Umat Islam belum begitu menyadari kemana arah senjata mereka seharusnya ditembakkan. Mereka belum bisa mengidentifikasi musuh yang sebenarnya, sehingga aksi damai 212 dijaga ketat oleh pasukan gabungan TNI dan Polri yang bersenjata lengkap. Umat Islam perlu bersabar lebih ekstra lagi, dan aksi 212 tetap harus digelar setiap tahunnya. Perayaan persatuan tak boleh berhenti di tahun ini saja. Momen reuni 212 dapat dikembangkan sebagai ajang muhasabah / introspeksi antara pemimpin dan masyarakat untuk menjaga kokohnya peradaban.[MO/sr]




Posting Komentar