Oleh : Lanhy Hafa, S.Si
(Founder Komunitas Remaja Cinta Islam Kota Lama Kendari)

Mediaoposisi.com-Ini bukan celoteh kontroversi atau kisah merah jambu BlackPink, girl band asal Korea. Tapi tentang celotehan seorang Syeikh asal Lebanon Zubair Utsman Al Ju'aid.

Ketua Organisasi Jamiat al Amal Al Islamy Lebanon ini, saat ceramah dalam acara peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di mesjid Istiqlal Jakarta menyeruhkan dan mengajak umat islam di Indonesia untuk tidak tergoda dengan sistem pemerintahan kekhilafahan karena di masa kini model pemerin-tahan itu justru bisa menyebabkan ketidakstabilan.

Ulama asal Lebanon itu juga memuji sistem demokrasi di Indonesia yang bisa bersaing dengan islam secara selaras dan Indonesia dengan sistem demokrasi saat ini sudah baik dalam mengakomodir nilai-nilai keislaman. Kutipan seruan Zubair "Jangan terpecah, terkecoh, dan terpengaruh denga rayuan untuk mendirikan negara khilafah atau bentuk negara selain saat ini.

Saat ini kita berada di negara yang aman dan nyaman, berdemokrasi dalam bingkai yang sah, kita berada di negara bersyariat tapi dalam bingkai demokrasi inilah gambaran pemerintah islami".

Seruan Diskriminatif terhadap Kekhilafahan
Celoteh murahan, sempalan, tak bertulang, diskriminatif, dan ahistoris dari seorang ulama lebanon syeikh Zubair Utsman Al Ju'aid. Celotehan yang menafikkan sejarah panjang kekhilafahan selama 13 abad, dimana umat manusia baik muslim maupun nonmuslim hidup sejahtera, aman dan sentosa di bawah titah kekhilafahan.

Sekiranya jangan pernah sekali-kali meninggalkan sejarah. Sungguh sebuah statemen yang tidak salah, benar adanya dan tidak tendensius untuk mereka-mereka yang mencoba menafikkan dan menghilangkan sejarah dari peradaban panjang kehidupan manusia. Kenapa?? Karena sejarah memberikan bukti nyata dari penerapan sebuah sistem peraturan, terlepas sejarah tersebut berjalan sesuai dengan konsep sistem yang ditegakkan atau tidak.

Meski demikian, sejarah tidak bisa dijadikan sebagai rujukan dan sumber hukum untuk melahirkan sebuah peraturan. Apalagi dijadikan analogi generalisasi untuk mendiskreditkan kekhilafahan.

Ulama adalah pewaris para Nabi "al 'ulama' waratsatul an biya'. Yakni ulama yang harus mengikuti sepak terjang yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Warisan Nabi adalah islam, baik aqidah maupun sistem/aturan syariah. Khilafah adalah salah satu syariah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Namun, kehadiran Zubair saat Maulid Nabi Muhammad SAW di Jakarta, justru secara terbuka dan terang-terangan telah melakukan black campaign terhadap kekhilafahan, agar umat islam Indonesia tidak melirik manja model kekhilafahan yang telah disyariatkan oleh islam. Inilah salah satu grand strategi yang dimainkan musuh- musuh islam dalam hal ini kafir barat untuk menahan laju kebang-kitan islam.

Saat ini, laju kebangkitan islam nampak jelas terlihat dan seolah tak terbendung di jiwa-jiwa umat islam Indonesia. Ini dibuktikan secara apik dan damai dengan berkumpulnya puluhan juta umat islam dari berbagai kalangan dan kelompok dakwah islam disatu titik konsentrasi di Monas Jakarta dalam reuni akbar 212.

Reuni yang berhasil menggetarkan bumi yang sedang terkungkung dengan kekejaman demokrasi. Reuni yang mematahkan asumsi sinis pembenci-pembenci islam bahwa umat islam takkan bisa bersatu dan intoleran.

Reuni yang menjadi pemantik buat umat-umat islam dan negeri-negeri islam yang rindu dan haus akan kebangkitan yang hakiki yakni ideologi islam dalam frame khilafah. Jadi, hal yang bisa diduga dari seorang Syeikh yang diterbangkan langsung dari Lebanon yakni untuk meredam rasa kebangkitan islam yang sedang bergejolak di negeri ini.

Sungguh musuh-musuh islam menyadari sepenuhnya akan hal ini. Mereka yakin akan bangkitnya kekhilafahan yang kedua kalinya, dan menyadari mereka tidak akan mampu membendung hal itu. Maka, yang bisa dilakukan adalah memperlambat proses kebangkitan. Salah satunya dengan merekrut dan menempatkan ulama-ulama yang selaras dengan kebijakan dan keinginan mereka. Dengan demikian status quo mereka yakni demokrasi liberal sebagai instrumen penjajahan tetap apik terjaga dalam  menguasi Indonesia dan negeri-negeri islam lainnya. Proses ini akan terus dioperasikan.

Khilafah Ajaran Islam yang Menyelamatkan
Sistem kekhilafahan tidak hanya diaminkan oleh ulama-ulama mazhab dan umat islam itu sendiri, tapi juga secara terbuka diakui oleh tokoh-tokoh kafir barat, baik secara normatif, empiris, maupun historis.

Sistem khilafah merupakan bentuk negara dalam islam yang menerapkan hukum syariah di bawah pimpinan seorang kholifah. Negara khilafah merupakan kekuatan politik praktis yang berfungsi untuk menerapkan hukum islam serta mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah adalah satu-satunya thoriqoh (methode) bagi penerapan syariah islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Negara khilafah ini terdiri atas dasar ideologi islam yang menjadikan aqidah islam sebagai landasannya.

Sistem khilafah adalah pemerintahan islam yang berbeda dengan republik (demokrasi), monarki, atau imperium. Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi kaum muslimin di seluruh dunia.
Khilafah menjamin  keamanan dunia

Para kholifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para kholifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.

Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa, yang menjadikan asia barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad  [Will Durant - The Story of Civilization].

Khilafah menyatukan umat islam
Agama islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, india, hingga persia, syam, jazirah arab, mesir hingga maroko dan spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh padanya pada saat itu (1926) sekitar 350 juta jiwa.

Agama islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik diantara mereka [Will Dunant - The Story of Civilization]

Khilafah menciptakan kemajuan ekonomi
Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12.045.000.- dinar emas. Diduga kuat bahwa jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri Masehi Latin jika digabungkan. Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu pengaruh dari pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri dan pesatnya aktivitas perdagangan. [Will Durant - The Story of Civilization].

Khilafah menjamin kesehatan masyarakat
Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al Bimarustan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun [Will Durant - The Story of Civilization].

"Mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah, sedangkan Allah semakin menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya" [Qs ash Staff (61): 8].

Kembalikan sistem kekhilafahan di pundak kaum muslim dengan white campaign "Khilafah Ajaran Islam" yang bersumber dari wahyu Allah.

#KhilafahAjaranIslam
#MenujuIslamKaffah




Posting Komentar