Oleh : Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-AIDS merupakan sejenis penyakit menular mematikan yang disebabkan oleh HIV. Virus yang belum ditemukan obatnya ini pertama kali ditemukan tahun 1978 di San Francisco, Amerika Serikat pada pasangan homoseksual. Sedangkan di Indonesia, kasus HIV AIDS ini pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1981.

Semua orang tahu bagaimana gaya hidup bebas turis asing yang begitu lekat dengan seks bebas meskipun tidak semuanya. Berdasarkan fakta ini dapat dikatakan bahwa virus ini menginfeksi orang yang sering berzina, gonta ganti pasangan dan perilaku seks bebas lainnya.

Berdasarkan data dari UNAIDS, terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS pada 2017. Indonesia menjadi salah satu negara yang termasuk dalam Kawasan Asia Pasifik. Kawasan ini menduduki peringkat ketiga sebagai wilayah dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak di seluruh dunia dengan total penderita sebanyak 5,2 juta jiwa.

Bahkan Indonesia di daulat sebagai negara Asia Pasifik yang menjadi endemik pertumbuhan HIV/AIDS tercepat. Indonesia menyumbang angka 620.000 dari total 5,2 juta jiwa di Asia Pasifik yang terjangkit HIV/AIDS. (Kompas.com, 1/12/2018)

Pemerintah Salah kaprah
Banyak solusi yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi HIV/AIDS. Sebut saja solusi ABCD ( abstinence, be faithfull, condom, no use Drugs ). Selain itu, penyuluhan tak henti dilakukan oleh berbagai LSM dan pemerintah utamanya kepada remaja dan perilaku seks aktif (para PSK). Bahkan HIV/AIDS dan KRR dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.

Tak hanya itu, Kemenkes mengklaim sudah melakukan banyak terobosan baru dalam penanggula-ngan HIV/AIDS di Indonesia, mulai dari inovasi pencegahan penularan dari jarum suntik yang disebut hard reduction pada tahun 2006; Pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) mulai tahun 2010.

Penguatan Pencegahan penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pada tahun 2011, Pengembangan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di tingkat Puskesmas pada tahun 2012; hingga terobosan yang disebut Strategic use of ARV (SUFA) yang dimulai pada pertengahan 2013.

Namun mengapa HIV/AIDS masih terus meningkat dari tahun ke tahun? Hal ini dikarenakan solusi yang dilakukan bukanlah solusi yang mengakar. Akar masalahnya tak lain adalah perilaku seks bebas yang tumbuh subur di alam demokrasi. Sedangkan solusi kondomisasi pada faktanya paling menonjol dilakukan justru semakin menyuburkan seks bebas.

KRR yang disosialisasikan pun minim dengan konten agama dan moral. Padahal yang membuat kita takut untuk berbuat maksiat adalah ketakutan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sedangkan ketakutan pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dapat ditumbuhkan melalui pendidikan agama.
Solusi Islam

Solusi ala sistem demokrasi ini telah terbukti gagal dalam mencegah dan menangani HIV/AIDS. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim mengembalikan urusan kepada solusi Islam. Islam yang diterapkan dalam naungan Khilafah Islamiyah memiliki mekanisme pencegahan dan penanganan yang luar biasa terhadap HIV/AIDS. Pencegahan dilakukan dengan melibas akar masalahnya yaitu seks bebas.

Ini dilakukan dengan menerapkan aturan kehidupan sosial yang Islami. Seperti larangan mendekati zina dan berzina, khalwat, ikhtilat, perintah menutup aurat, menundukkan pandangan, sementara itu segala rangsangan menuju seks bebas juga dilibas seperti pornografi, pornoaksi prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya. Pelaku pornografi dan pornoaksi dihukum berat termasuk perilaku menyimpang seperti LGBT.

Khilafah juga memiliki mekanisme yang tepat untuk HIV dan ODHA. Masyarakat akan di-screening untuk mengetahui siapa saja yang mengidap HIV l/AIDS. Khusus bagi ODHA yang tertular karena aktivitas zina maka akan dijatuhi hukuman dari Islam untuk pezina. Sedangakan ODHA yang tertular bukan melalui aktivitas zina akan dikarantina.

Karantina ini bukan berarti diskriminasi, akan tetapi untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat. ODHA akan diberikan pengobatan intensif pelayanan terbaik dan gratis. Selain itu, ada pula santunan akses pendidikan, peribadahan dan keterampilan.

Tidak hanya itu, Khilafah uga akan memfasilitasi segala bentuk penelitian guna menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS ini. Dengan demikian, marilah kita berjuang untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang akan menuntaskan problem HIV/AIDS. Wallahu A'lam Bishshawab.[MO/ge]

Posting Komentar