Oleh: Lies Nur Azizah

Mediaoposisi.com- Negara zamrud khatulistiwa bak intan permata harus menangis meratapi nasib rakyat yang kian hari kian terpuruk. Bagaimana tidak, para emak-emak militan sudah mulai angkat bicara tentang himpitan ekonomi yang semakin mencekik mereka. Jeritan anak pemuda harapan bangsa sudah terdengar merintih meminta diberikan hak perlindungan dari incaran kaum Nabi Luth.

Para pemimpin rumah tangga tak sabar menunggu adanya akses lapangan pekerjaan bagi mereka dalam mencari nafkah, bahkan dilubuk sanubari terdalamnya mereka mengingginkan para istri agar kembali ke rumah meraka untuk membangun surga yang mereka cita-citakan sebelum masa pernikahan. Wajarlah jika masyarakat merindukan adanya perubahan kearah yang lebih baik dengan melirik sebuah gagasan Khilafah, sistem pemerintahan Islam yang menjadi wadah diterapkannya aturan Islam secara sempurna.

Khilafah sebuah kata familiar era zaman now yang dilirik oleh masyarakat. Gaungnya membahana di bumi pertiwi, terbukti dengan Khilafah sudah diperbincangkan oleh seluruh kalangan, tak hanya birokrat, profesional dan akademisi namun tukang becak, buruh, petani, pelanggan kedai-kedai makanan dan warung kopi pun seolah larut memperbincangkan Khilafah.

Beberapa survey memperkuat opini jika Khilafah diinginkan oleh masyarakat. Misalnya saja survey yang telah dilakukan oleh Setara Institut tentang Khilafah, hasil survey menunjukkan bahwa masyarakat yang mengingginkan Syariah Islam dijadikan sebagai dasar negara sebesar 35,3% dan penegakkan Khilafah sebesar 34,6%. Pew Research Center, sebuah lembaga survey rujukan Amerika, melakukan survey tentang penerapan syariah, survey yang dirilis pada tahun 2013 itu menunjukan bahwa 72% muslim Indonesia mengingginkan syariah sebagai landasan hukum dan bernegara. Di negeri-negeri muslim lain pun relative sama; di Mesir 74%, di Nigeria 71%, di Palestina 89% dan lain sebagainya. Walupun angka-angka tersebut dapat berubah secara dinamis mengikuti dinamika masyarakat, namun hasil tersebut menunjukan bahwa umat sudah semakin faham dan merindukan khilafah.

Pro dan kontra adalah sebuah kewajaran dalam memandang sebuah gagasan tertentu namun sungguh sangat disayangkan jika sebuah hukum Islam yang jelas dalilnya harus diperdebatkan oleh Umat Islam. Sebut saja para ustadz pegiat khilafah pada ceramah-ceramahnya mulai di persekusi. Berbagai ancaman, intimidasi bahkan pembubaran pengajian pun kerap kali dilakukan oleh kalangan tertentu.

Perlu diketahui, khilafah adalah sebuah ajaran Islam yang sudah diakui kebenarannya melalui sejarah, nash-nash syara bahkan pendapat para ulama yang jelas mewajibkan adanya khilafah. Din Syamsuddin –Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia- mengaku bahwa dirinya adalah pendukung khilafah karena khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Namun dia melanjutkan, bukan berarti yang memegang teguh ajaran khilafah dituduh anti-Pancasila.

Pernyataannya ini semakin memperkuat bahwa khilafah berasal dari ajaran Islam sekaligus menepis pengkaitan khilafah sebagai ajaran teroris dan radikal. Framing negatif tentang khilafah memang sengaja dibuat agar Umat Islam takut dengan ajarannya sendiri. Jika umat takut dengan ajarannya, lalu bagaimana mungkin mereka mau untuk menerapkan bahkan memperjuangkannya?

Perlu kita waspadai bahwa framing negatif mengenai ajaran dan simbol-simbol Islam memang sengaja dibuat agar kebangkitan Islam menjadi mustahil adanya. Perlu dicatat pula, kebangkitan Islam adalah awal dari keruntuhan peradaban barat sebagai lintah yang menyerap kekayaan Umat Islam serta menghinakan mereka.

Kemunduran umat Islam telah terjadi di berbagai negara bahkan menjalar diseluruh dimensi kehidupan, hal ini merupakan sebuah penyakit akut yang diderita akibat dicampakkannya syariat Islam sebagai aturan kehidupan. Penyakit akut ini semakin diperparah dengan menjadikan sistem kapitalis-sekuler sebagai aturan hidup yang dapat mengakibatkan kematian bagi Umat Islam.

Tengoklah bagaimana kekayaan alam melimpah ruah yang dimiliki oleh Umat Islam! Apakah kekayaan alam tersebut bisa memberikan kesejahteraan bagi seluruh Umat Islam? Tenggoklah bagaimana nasib saudara-saudara kita di timur tengah yang kaya akan minyak namun menderita kemiskinan!. Tengoklah kualitas pendidikan Dunia Islam!

Apakah mampu menjadi corong peradaban dunia seperti di era kekhilafahan? Tengoklah nasib Muslim minoritas yang tertindas! Apakah mampu Umat Islam mengirimkan senjata dan pasukan perang untuk membela saudaranya padahal jumlah kita sangat banyak? Tengoklah bagaimana pergaulan remaja muslim! Apakah mereka lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dengan rasa cinta mereka pada pasangan yang bukan mahramnya? Cukuplah semua ini menjadi pukulan telak bagi Umat Islam agar sadar akan pentingnya melakukan perubahan.

Perubahan tersebut haruslah diawali dengan mencampakkan sistem kapitalis-sekuler sebagai akar masalah dari seluruh penderitaan yang menerpa Umat Islam serta mengembalikan syariat Islam secara keseluruhan sebagai aturan kehidupan. Alam demokrasi yang dijadikan alat oleh sistem kapitalis-sekuler tidak akan bisa menjadi wadah untuk diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh, namun sebaliknya alam demokrasilah yang akan mengikis syariat Islam bahkan sampai pada tarap idealisme penganutnya.

Olehkarenanya kita membutuhkan sebuah sistem yang dapat menerapkan syariat Islam, yaitu sistem yang berasal dari Allah SWT pula, Khilafah Islamiyah sebuah sistem kepemimpinan Islam yang sudah dipasangkan dengan syariat Islam.

Cukuplah Bisyarah dari Rasulullah sebgai penguat bahwa khilafah itu pasti akan tegak kembali

Periode kenabian akan berlangsung pada kalian selama beberapa tahun, kemudian Allah menganggaktnya. Setelah itu datang periode kekhilafahan berdasarkan metode kenabian, selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhan (penguasa yang menggingit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah Ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah alaa minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad terdiam.” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu kita sebagai Umat Islam wajib melakukan perubahan dengan berjuang menegakkan kembali syariat Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh dan berjuang menengakkan kembali khilafah islam karena khilafah adalah sebuah keniscayaan yang dijanjikan Allah SWT.
Wallahu’alam[MO/sr]


Posting Komentar