Mediaoposisi.com-Seruan terhadap perjuangan penegakan Khilafah ditengah-tengah umat semakin bergejolak. Umat mulai menyadari begitu pentingnya keberadaan Khilafah di dalam persatuan kaum muslimin. Penolakan perjuangan dalam penegakannya pun begitu masif di opinikan.

Seperti yang dilannsir oleh ANTARA News beberapa waktu lalu, Ketua Organisasi Jamiat Al Amal Al Islamy Lebanon, Syeikh Zubair Al Ju'aid mengajak umat islam di Indonesia tidak tergoda dengan sistem Pemerintahan Kekhilafahan karena di masa kini model pemerintahan itu justru bisa menyebabkan ketidakstabilan.

“Jangan terpecah, terkecoh dan terpengaruh dengan rayuan untuk mendirikan negara Khilafah atau bentuk negara Khilafah atau bentuk negara selain ini. “ Kata Syeikh Zubair dalam kesempatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mesjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (8/12/2018). (ANTARA News).

"Saat ini, kita berada di negara yang aman dan nyaman, berdemokrasi dalam bingkai yang sah. Kita berada dinegara bersyariat tapi dalam bingkai demokrasi. Inilah gambaran pemerintahan Islami," kata Syeikh Zubair.

Pernyataan tersebut adalah sebuah kekeliruan di dalam memandang sistem Khilafah. Bahkan menjadi pernyataan yang berbahaya bagi umat karena menganggap Khilafah sebagai  sistem yang tidak cocok bagi negara Indonesia yang telah aman dan damai.

Padahal, hal tersebut jelas bertentangan dengan kondisi negara Indonesia saat ini, dimana sistem demokrasi yang diterapkan oleh Indonesia telah terbukti tidak mampu memberikan ketentraman dan kedamaian bagi umat islam dan masyarakat pada umumnya. Persekusi dan kriminalisasi ulama, pelecehan terhadap simbol dan ajaran islam merupakan contoh ketidak adilan di dalam sistem demokrasi dan demokrasi tidak mampu menampilkan gambaran pemerintahan yang islami.

Demokrasi versus Khilafah
Sejatinya demokrasi hanya menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi segelintir orang yang memiliki kekuasaan, dan menjerumuskan umat pada jurang kemiskinan. Kebebasan dan persamaan yang dijunjung tingginya tidak pernah berlaku bagi muslim minoritas. Bahkan, di Indonesia yang mayoritas muslim, perlakuan diskriminatif terhadap umat islam masih sering terjadi.

Bahkan tokoh Barat sendiri, Winston Churchil, misalnya, mengeluarkan deklarasi yang berbunyi, “Democracy is worst possible form of goverment (Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dalam sebuah bentuk pemerintahan).”

Benjamin constan juga berkata, “Demokrasi membawa kita menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.”

Berbeda  dengan sistem Pemerintahan Islam (Khilafah) telah terbukti mampu memberikan ketenangan, keadilan dan kesejahteraan bagi umat.

Khilafah telah menorehkan keberhasilannya di dalam memimpin dunia, 2/3 bagian dunia saat itu telah dinaungi oleh Khilafah. Seluruh sistem yang diterapkannya melahirkan kegemilangan, karena merujuk kepada hukum buatan Sang Maha Pencipta yang darinya mampu memberikan ketenangan bagi yang menjalankannya, adanya kesesuaian dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia.

Secara historis dan empiris, Islam telah memberikan gambaran peradaban yang sempurna. Islam dengan sistem Khilafahnya telah berhasil mengubah peradaban Arab secara keseluruhan dari taraf berfikir yang sangat rendah dengan kebiasaan-kebiasaan mereka yang dipenuhi dengan kegelapan dan kebodohan akan fanatisme kesukaan, menjadi berubah pada era kebangkitan berpikir yang cemerlang, terang dengan cahaya islam, yang tidak hanya dirasakan oleh bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh dunia.

Hingga saat mereka diatur dengan sistem Pemerintahan Islam mereka berbondong-bondong masuk islam secara keseluruhan. Jadilah mereka umat yang satu, yakni umat Islam. Bahkan luar bisa sejarah mencatat hanya terdapat 200 kasus pelanggaran hukum syariat saat islam diterapkan di dalam seluruh lini kehidupan secara praktis dengan masa kurang lebih 13 abad lamanya.

Khilafah Ajaran Islam
Wahbah Az-Zuhaili mengemukakan makna Khilafah. Beliau menyebutkan, “Khilafah, Imamah Kubro dan Imratul Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama. “ (Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-islam wa Adillatuhu, 9/881). Kata Khilafah banyak kita temui di dalam hadits, diantaranya:

Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada Khilafah dan rahmat (H.R. Al Bazzar).

Kata Khilafah dalam hadits tersebut memiliki pengertian : sistem pemerintahan, pewaris pemerintahan kenabian. Ini dikuatkan oleh sabda Rosul SAW.

Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru,. Sungguh setelah aku tidak ada lagi seorang nabi, tetapi akan ada para khalifah yang banyak. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Khilafah adalah ajaran islam, kepemimpinan yang telah diwariskan oleh Rosul SAW.
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di dunia untuk melaksanakan hukum-hukum islam dan mengemban dakwah islam ke seluruh alam.

Sejatinya antara syariah atau ajaran islam secara keseluruhan tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dengan Khilafah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali: “Agama adalah pondasi dan kekuasaan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Sesuatu yang tidak ada penjaganya maka akan terlantar”.

Oleh sebab itu maka Khilafah adalah ajaran islam. Mewujudkan eksistensinya adalah sebagai kewajiban layaknya kewajiban lain dalam Syari’ah islam.
Bahkan keberadaan Khilafah merupakan mahkota kewajiban. Jika Khilafah hilang maka banyak hukum-hukum islam yang terabaikan.

Stop kriminalisasi terhadap ide Khilafah, dan opini yang menggiring umat pada ketakutan didalam mengenal, mempelajari dan memperjuangkannya, karena sesungguhnya Khilafah adalah sistem paripurna yang mampu menjaga umat.
Dengannya lahir individu yang bertaqwa, masyarakat yang terjaga, dan Negara yang kuat, yang tak pernah abai dengan kebutuhan dan pelayanan umat. Mari kita wujudkan kembali kehidupan islam dalam bingkai Khilafah.

Posting Komentar