Oleh: Nurina Purnama Sari. S.ST.

Mediaoposisi.com- Bul ‘alaa zamzam fatu’raf”, begitu katanya. Adalah sebuah pepatah Arab yang kurang lebih maknanya : “kencingi sumur zamzam maka engkau akan terkenal.

Mungkin pepatah tersebut cocok disematkan kepada Grace Natalie,  ketua umum PSI  yang baru-baru ini mengeluarkan pernyataan kontroversial untuk kesekian kali. Setelah sebelumnya secara tegas ia dan partainya menolak diberlakukannya perda syariah karena dianggap diskriminatif. Sebulan kemudian dia merilis pernyataan untuk menolak poligami dan menentang praktik poligami. Tak cukup sampai di situ, Grace dan partainya mengusahakan revisi atas undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, agar kelak praktik poligami tak di tolerir lagi oleh negara.

Dari sudut pandangan marketing , pernyataan demi pernyataan Grace Natalie beserta partainya yang terus menjadi kontroversi tidak lain adalah cara untuk mendapatkan perhatian publik secara luas, baik itu perhatian publik berupa dukungan, pembelaan hingga  popularitas.

Seorang artis memilih menaikkan popularitasnya dengan membeberkan konflik keluarga misalnya. Sesuai dengan norma atau tidak itu perkara nanti. Yang penting jadi berita dan kontroversi di media massa. Ia pun diburu untuk wartawan dan diliput segala tindak tanduknya.

Demikianlah hal yang sama bisa terjadi jika ada politisi yang  mengeluarkan statement  yang nyeleneh, kalau perlu yang bisa memunculkan pro dan kontra.  Memancing reaksi negatif? itu perkara nanti.  Yang penting menjadi headline berita televisi dan jadi trending topic di media sosial.

Barangkali Grace Natalie beserta partainya sedang menjalankan tips marketing ini. Mengingat mereka partai yang baru seumur jagung,  sehingga sengaja membuat statement yang kontroversi agar menjadi perhatian publik , meski tentu tidak dengan sikap seekstrim mengencingi zamzam itu.

Grace Natalie sebagai pucuk pimpinan PSI tak sepatutnya berbicara seperti itu. Dia dan partainya mencoba mengintervensi hukum furu' salah satu agama yang diakui secara sah dalam NKRI.  Jelas ini bukan ranah dia untuk memicingkan mata terhadap perda syariah ataupun poligami.  Sekalipun dia dan partainya berpendapat bahwa poligami  adalah pemicu ketidakharmonisan dan penyebab perceraian berdasarkan riset LBH APIK (https://psi.id/berita/2018/12/12/kenapa-psi-menolak-poligami/) .  Padahal, LBH APIK melakukan riset tersebut tahun 2003. (https://www.hukumonline.com/berita/baca/hol15941/menguak-sisi-gelap-poligami)

Justru riset termutakhir berdasarkan data LP2M UIN Bandung tahun 2017 menyimpulkan, poligami TIDAK SEHAT menduduki urutan 10 penyebab perceraian, paling tinggi adalah (1) karena tidak ada keharmonisan (2) tidak ada tanggung jawab (3) ekonomi .Bahkan perceraian karena gangguan pihak ketiga jauh lima kali lebih besar  dari poligami.  Dengan kata lain, angka penyebab cerai karena poligami relatif jauh lebih sedikit dibanding sebab yang lain. (http://digilib.uinsgd.ac.id/6143/1/Darurat%20Cerai-Lengkap.pdf?fbclid=IwAR27CkmU8_8CTGdrByKLaw3VqL5C-KL4Mf_CRoQtmZNy_hto_DH4idLQiJ0) .

Bagi saya pribadi,  aktivis  feminis yang menjadikan praktik poligami terlarang dalam kehidupan mereka itu hak mereka dan sah-sah saja (tapi hanya bagi mereka). Namun menjadikannya peraturan yang mengikat segenap warga negara,di mana mayoritas warga negara berasal dari sebuah agama yang memperbolehkan poligami adalah suatu bentuk intoleransi keyakinan yang perlu ditolak.

Apalagi sampai detik ini belum ada bukti survei dan data empiris yang membuktikan korelasi kuat antara poligami dan rusaknya tatanan negara, kekerasan, aksi kriminal dan sebagainya.  Kalaupun ada praktik poligami yang salah, silakan tolak penerapan praktiknya  yang serampangan, bukan hukumnya.

Sejujurnya, poligami adalah masalah  kemanusiaan yang tua sekali. Hampir seluruh bangsa di dunia, sejak zaman dahulu kala tidak asing dengan poligami. Di dunia Barat,  Hendrik II, Hendrik IV, Lodeewijk XV, Rechlieu dan Napoleon I adalah contoh orang-orang besar Eropa yang berpoligami. Bahkan, pendeta-pendeta Nasrani yang telah bersumpah tidak akan kawin selamanya hidupnya, tidak malu-malu memiliki kebiasaan memelihara istri-istri gelap dengan izin sederhana dari uskup atau kepala gereja mereka.

Orang Hindu melakukan poligami secara meluas, begitu juga orang Babilonia, Syria dan Persia, mereka tidak mengadakan pembatasan mengenai jumlah wanita yang dikawini oleh seorang laki-laki. Seorang Brahma berkasta tinggi, boleh mengawini wanita sebanyak yang ia suka.

Di kalangan bangsa Israil, poligami telah berjalan sejak sebelum zaman Nabi Musa a.s. yang kemudian menjadi adat kebiasaan yang dilanjutkan tanpa ada batasan istri. Realitasnya, di kalangan pengikut Yahudi Timur Tengah, poligami lazim dilaksanakan. ( Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Poligami)

Islam secara bijaksana dan rahmatan lil alamin, dalam hal ini memperbolehkan poligami dengan serangkaian hukum syariat yang menyertainya. Syari'at poligami sendiri turun dalam Al-Qur'an justru bukan untuk meleluasakan seorang suami untuk kawin terus. Apabila dilihat konteks ayat poligami yang membatasi 4 istri, syariat Islam justru mengekang tradisi jahiliyah yang pada saat itu seorang pria saja bisa memiliki hingga 10 istri, bahkan secara semena-mena mewariskan istri-istrinya kepada anak lelakinya ketika ia wafat. Islam datang untuk mentertibkan praktik liar ini, bukan justru meleluasakannya.

Wajar jika pada akhirnya, pernyataan Grace Natalie ini dinilai menunjukkan sikap yang tendensius terhadap  ajaran Islam sekaligus syariahnya. Bentuk nyata intoleransi sebuah partai yang mengaku-ngaku mengampanyekan toleransi  di negeri ini.  Sebuah paradoks di tengah upaya masif  PSI untuk sebuah partai yang mencoba bersolek, memoles citranya sebagai partai yang menjaga keragaman.[MO/sr]

Posting Komentar