Oleh : Arinda Nurul Widyaningrum

Mediaoposisi.com-Apakah sampai padamu Negara Negara Muslim? Tentang Penindasan terhadap Muslim Uyghur? Penindasan berwujud genosida. Kota yang hampir sepi dan mati, rumah-rumah terkunci, masyarakat dibawa ke kamp-kamp re-education, dengan dalih menghentikan segala bentuk Ekstrimisme dan Terorisme.

Donasi Save Muslim Uighur

Namun, demikian hanyalah motif untuk menghaluskan makna Brainwash sesungguhnya, upaya menghapuskan identitas Islam secara massif.

Penjelasan oleh BBC News dalam artikel berjudul Chine’s Hidden Camps menegaskan bahwa kamp tersebut tak layak disebut sekolah. Terdapat sejumlah keamanan dan penjagaan ketat, dikelilingi tembok dan 16 menara penjaga, bangunan ditutupi dinding eksterior.

Seorang analisis satelit mengatakan ini menunjukkan fasilitas penahanan terbesar di dunia. Pembangunan dan perluasan di kamp sangat massif dilakukan, hanya dalam beberapa bulan. Seolah dipaksakan untuk menampung ribuan manusia yang seringkali keberadaannya tak kembali lagi.

Dengan alasan karena mengalami gangguan dalam berpikir, mereka menahan Muslim Uyghur untuk dididik kembali. Padahal, gangguan berpikir yang mereka maksud adalah soal mempercayai adanya Tuhan dan agama. 

Buktinya, mereka malah memerintahkan penghapusan memori tentang agama dan pemaksaan terhadap pemikiran Xi Jinping, terdapat pelarangan untuk mengucapkan salam, kewajiban mempelajari bahasa cina, dan mereka harus menyanyikan lagu propaganda “Tanpa Partai Komunis, Tidak Akan Ada China yang Baru”.

Mengupayakan atheisme. Dilaporkan oleh Human Right Watch dari hasil interview bersama 5 orang bekas tahanan (GlobalNews.com 10 September 2018)
Segala bentuk praktik agama dilarang.

Janggut panjang, kerudung, nama yang mengindikasikan seorang muslim, seperti Abdullah harus dihilangkan. Jika menolak, ada hukuman, beberapa bekas tahanan pernah menerangkan keseharian-nya ketika di Kamp.

 Ablet Tursun 29 tahun mantan tahanan menerangkan hukuman yang harus dilalui ketika tak mampu menyebutkan hukum-hukum yang dibacakan, ada ruangan khusus penyiksaan. Beruntungnya Ablet menjadi salah satu dari sekian orang Uyghur terakhir yang dapat meninggalkan China dan pindah ke Turkey. Sisanya, there is no-one left outside.

Dengan semua itu, kemana suara Negara-negara muslim mayoritas? kenapa hanya Bungkam. Apakah Kungkungan persoalan perekonomian membelit keberanian? Benar. berada dalam wadah kerja sama ekonomi dengan China, dan bayangan utang tegas yang akan menyiksa, telah menimbulkan ketakutan tersendiri untuk berbicara soal isu-isu Uyghur. 

Selain itu, Xianjiang tempat Muslim Uyghur saat ini bernaung, menjadi jalur mayoritas pada proyek multi-triliyun dollar China berupa pembangunan kereta api, jalan, jalur pipa, dan lainnya.

Proyek China’s Belt and Road Initiative (BRI) yang melibatkan 78 Negara. Maka tentu para Negara yang bekerja sama dan tergabung dalam BRI ini akan bungkam untuk ambil sikap terhadap Muslim Uyghur, jika tak ingin dalam bahaya.

Buruknya Bukan hanya sikap diam yang diambil, bahkan Negara-negara budak tersebut tak segan mengambil langkah seolah menyudutkan muslim Uyghur dan berpihak pada China. Mesir, telah menahan pelajar dari Uyghur di negaranya sendiri, tanpa pemberian alasan, menahan akses dengan keluarga ataupun badan hukum.

Dilaporkan oleh Human Right Watch. Dalam jangka waktu yang sama, Cairo bahkan juga mengembalikan kurang lebih 12 pelajar Uyghur ke China. Dilaporkan oleh The New York Times.

Benar-benar hilang rasa persaudaraan. Teramputasi rasa kemanusiaan oleh pedang-pedang kapitalis-me, berhasil menghunus jiwa-jiwa kering akan iman. memilih materi menggadai akidah.

Ditambah tebalnya sekat-sekat nation state di antara kita, Para Negara-negara mayoritas muslim yang bersaudara? Sehingga menolong menjadi sebuah perkara yang berat dengan berbagai dalih. Hanya kecaman yang diterbangkan ke sana kemari.

Tanpa menusuk telinga para pelaku penindasan. Menyerahkan pada kinerja PBB pun menjadi kesia-siaan. karena memang Dunia Internasional dengan segala lembaga perlindungan tak mampu menciptakan perdamaian dunia.

Sebab kita berada di bawah kaki tangan Kapitalisme yang bergerak mengontrol dunia untuk memenu-hi nafsunya belaka, dengan memanfaatkan budak-budak di bawahnya. Maka lembaga perlindungan yang dibentuk seolah hanya kamuflase saja.

Kita yang saat ini lemah memang menjadi sasaran paling empuk. Sebab terpecah belah. Tak adanya persatuan, dan doktrin akan sekat nasionalisme membuat kita acuh pada setiap pembantaian dan genosida pada saudara sendiri. Berapa banyak lagi darah muslim yang harus distor untuk menyadarkan kaum untuk bergerak.

Bahwa sejatinya, kita butuh bersatu.  Di balik perisai yang kuat. Dan pemimpin mana lagi yang dapat berdiri kokoh selain seorang Khalifah untuk hanya sekedar mengatasi satu nyawa kaum muslim?

Lembaran historis Islam membuktikan itu. Karena Khalifah berbeda dengan pemimpin yang dibele-nggu rantai mental jajahan, takut bersuara kebenaran karena tersuapi materi. Mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Sedangkan Khalifah mengambil segala keputusan untuk yang dipimpinnya, berdasarkan hukum Allah dan keridhoanNya, yang tentu saja akan menyelamatkan manusia dari kerusakan-kerusakan seperti saat ini.

Posting Komentar