Oleh :Siti Wahyuni 
Aktivis Kampus dan Pengajar HSG

Mediaoposisi.com-Belakangan ini kita kembali melihat Ulama -ulama yang secara terang-terangan  menolak sistem Khilafah penolakan datang baik di dalam negeri maupun diluar negeri.

Syeikh Zubair Utsman Al Ju'aid mengajak umat Islam di Indonesia tidak tergoda dengan sistem pemerintahan kekhalifahan karena di masa kini model pemerintahan itu justru bisa menyebabkan ketidakstabilan. (Antaranews, 08/12/2018)

Ulama yang cinta terhadap dunia dan menolak syariah dan khilafah.Ulama-ulama semacam itu bagaikan duri didalam daging.

Seolah ingin menunjukkan bahwa penolakan ini tidak hanya berasal dari beberapa tokoh di Indonesia. Melainkan juga berasal dari timur tengah yang notabennya pernah menjadi negeri para nabi dan khulafa.

Hal pertama yang harus kita lihat adalah seruan 'demokrasi mampu bersanding dengan islam'. Apakah seruan itu tepat atau tidak.

Selama ini justru faktanya demokrasi menyuburkan masalah. Berkembang biaknya penyakit LGBT di Indonesia adalah satu dari sekian masalah. Melahirkan virus HIV/AIDS yang kian subur (BBCNews, 03/07/2018).

Melihat sisi hukum demokrasi. Ketidak-adilan kian tampak bahkan merampas hak-hak muslim. Satu dari banyaknya ketidak-adilan negeri ini adalah kasus Baiq Nuril dari korban menjadi tahanan (nasional.tempo, 27/11/2018).

Sistem demokrasi seringkali mengkerdilkan muslim dengan opini menjaga keberagaman. Namun tak pernah menindak penista agama, penista syariat islam. Memaksa kita meninggalkan aturan islam dengan seruan toleransi.

Maka tidak pantas bila sistem demokrasi yang menyuburkan kekacauan dan kerusakan diberbagai dimensi kehidupan. Harus bersanding dengan islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam.


Institusi Islam adalah Khilafah

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." ( 2: 208)

Islam mampu menerapkan seluruh syariatnya ketika diterapkan dalam sistem kehidupan bernegara. Sebagaimana yang sudah di contohkan oleh rasul dalam memimpin Madinah dan menyebarkan islam keseluruh penjuru negeri.

Setelah rasul wafat sistem islam yang dipimpin rasul dilanjutkan oleh para khulafa'.

Rasulullah bersabda: “Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” (HR Muslim)

Begitu pula dengan pendapat para ulama klasik yang terpercaya keilmuannya. Syeikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan, “Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib…” (Lihat, Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, Juz V/416).

Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, Juz XII/205).

Sejarah mencatat bahwa sistem khilafah islamiyah adalah institusi resmi dalam islam selama kurang dari 14 abad lamanya.

Khilafah adalah institusi negara yang menerapkan syariat islam secara menyeluruh. Mengikuti metode kenabian. Khilafah merupakan ajaran islam yang tak boleh di tinggalkan. Semua perundang-undangan dalam sistem khilafah adalah bentuk ijtihad. Diambil dari Qur'an dan sunnah yang jelas tidak melanggar syariat.

Sekalipun mayoritas islam mempimpin, bahkan aturannya dijadikan sebagai sumber sistem bernegara. Tidak lantas menjadikannya diktator dan bengis seperti yang di gaungkan kaum pembenci islam.

Sebab dalam khilafah, tidak ada paksaan bagi kafir masuk islam. Hal ini sudah di buktikan oleh para pemimpin islam sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih ketika menaklukkan Konstantinopel. Al-Fatih memberikan kebebasan beragama bagi mereka. Membiarkan rumah ibadah mereka. Memberikan keamanan pada wanita dan anak-anak mereka.

Sekalipun Al-Fatih merupakan generasi yang jauh sekali dengan para sahabat dan kenabian. Namun pemimpin islam itu tetap menerapkan syariat islam sebagaiman firman Allah:

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama  Islam" ( 2: 256)

Begitulah sejatinya islam mampu memberikan keamanan dan kenyamanan. Sesuatu yang berasal dari syariat islam tentu mendatangkan kebaikan dan manfaat. Maka wajarlah bila secara historis, keberadaan khilafah sangat berpengaruh dan merupakan sejarah keemasan dunia.

Pada masanya, khilafah mampu melahirkan ilmuwan yang menjadi rujukan penemu masa kini. Tidak hanya itu, khilafah juga mampu menjaga keberagaman. Memberikan hak-hak minoritas kafir dzimmi tanpa membedakannya dengan muslim. Kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, keamanan dan beragama telah diberikan negara kepada rakyatnya. Semua itu tidak akan terwujud hanya jika negara tersebut menerapkan aturan islam dalam bingkai khilafah.

Maka hendaknya seorang muslim mengembalikan seluruh penyelesaian hidupnya dengan syariat islam. Kapan pun dan dimanapun. Sebagaimana para pendahulu kita. Mengembalikan urusan negara dengan syariat islam. Tanpa tergoda dengan ajaran selain dari islam. Sebab islam adalah solusi atas seluruh masalah kehidupan. Aturan yang berasal dari pecipta manusia dan seluruh alam semesta.

Tidak layak bahkan tidak akan berkah kehidupan bernegara bila mengambil demokrasi dalam mengatur kehidupan.

Allah mengingatkan kita, "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" ( 5: 50)

Beriman pada Allah, maka konsekuensinya adalah beriman pada seluruh aturan Allah. Menerapkan semua aturan Allah, termasuk dalam menerapkan khilafah.

Takutlah kepada Allah bukan kepada mereka yang mengajak pada langkah-langkah syaithon. Yakni mengajak untuk meninggalkan islam. Menjauhkan penerapan islam dalam kehidupan bernegara. Sebab khilafah adalah ajaran islam yang akan membawa kita pada keberkahan dan rahmat bagi seluruh alam.

Jangan terkecoh oleh gelar ulama. Lihatlah apa yang dia bawa. Bila bertentangan dengan syariat islam, tinggalkan! Bila membawa dan menyeru syariat islam, ambil dan ikutilah!

Sebab ulama adalah mereka yang membawa kita pada jalan yang lurus. Mereka adalah cahaya yang menerangi kegelapan.[MO/an]



Posting Komentar