Oleh : Arinal Haq
(Aktivis Mahasiswa Sidoarjo)

Mediaoposisi.com-Menjelang akhir tahun, permintaan pasar begitu besar. Para pedagang pasar memperkirakan bahwa harga pangan di pasar masih terus berpotensi naik hingga akhir tahun.

Donasi Save Muslim Uighur

Kenaikan harga tiap akhir tahun ini sudah dianggap wajar oleh masyarakat.

Padahal, kestabilan harga pasar merupakan tanggung jawab pemerintah dalam mengurusi rakyat karena kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok yang harus dijamin oleh pemerintah. Maka kenaikan yang terjadi setiap akhir tahun bukanlah kewajaran, tapi kedzaliman.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan bahwa hari ini pasar telah memasuki fase panjang kenaikan harga Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, harga akan naik pada puncaknya sekitar akhir tahun.

"Jadi gini setiap Natal dan Tahun Baru fasenya panjang, tanggal 20,21,22 pasti ada kenaikan (harga) karena mulai ada kenaikan permintaan ya. Top up harga pertama tanggal 25, lalu naik lagi pada puncaknya di akhir tahun," kata Abdullah saat dihubungi detikFinance, Sabtu (22/12/2018).

Pemerintah menganggap kenaikan harga seperti ini wajar dan rakyat harus mampu memahaminya. Lebih lanjut menurut Abdullah, menyarankan harusnya para konsumen berbelanja jauh-jauh hari sebelum Natal.

Pasalnya makin banyak yang berbelanja pada satu hari, makin naik harga di pasar. "Jauh jauh hari saya ingatkan, agar pembeli jangan membeli belanjaan dalam waktu yang bersamaan. Kalau bersamaan pasti akan ada tren kenaikan," ujar Abdullah.

Bukannya malah mengantisipasi jauh-jauh hari, pemerintah malah menyarankan agar masyarakat memiliki strategi sendiri dalam urusan ini.
Padahal seharusnya tugas negara dalam mengontrol kestabilan harga pasar. Tertera dalam pembukaan UUD 1945, bahwa negara bertugas untuk memajukan kesejahteraan rakyat.

Akan tetapi yang terjadi, pemerintah seperti acuh tak acuh bahkan membiarkan rakyat sendiri yang menyelesaikan permasalahan mereka. Inilah bukti rezim gagal dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
Inilah bukti rezim gagal memenuhi hak-hak rakyat dalam keberlangsungan hidupnya.

Berbeda dengan negara yang dimana Islam dijadikan sumber hukum di dalamnya. Kebutuhan pokok rakyat benar-benar harus terjamin. Kesejahteraan rakyat adalah yang paling utama.

Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, kita bisa melihat bagaimana seorang pemimpin memastikan rakyatnya dalam keadaan baik-baik saja. Ia rela menyusuri negeri tiap malam hari.

Merelakan waktu tidurnya untuk mengantarkan sekarung gandum ke gubuk kecil rakyatnya yang tengah kelaparan. Memasak dan menyediakan makanan tanpa takut jatuh wibawanya bahkan keluarga kecil itu diberi beberapa koin emas untuk keberlangsungan hidupnya.

Tak ada satupun yang luput dalam perhatian Khalifah Umar. Ia bahkan takut jika ada seekor keledai saja yang kelaparan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sungguh sikap pemimpin yang seperti ini hanya bisa kita temui di sistem Islam dalam naungan Khilafah Islam.

Seorang pemimpin sejati tanpa ada pencitraan publik. Tulus mengabdi tanpa berharap gaji. Oleh karena itu, tak ada lagi yang bisa kita harapkan dalam negeri ini selain menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan berbangsa dan bernegara.[MO/ge]

Posting Komentar