Oleh : Lita Lestiani
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban) 

Mediaoposisi.com-Itulah manusia dalam sekejap cinta bisa berubah menjadi benci. Kawan menjadi lawan. Opini seketika berganti tergantung siapa yang dihadapi. Dan ini bisa terjadi jika ikatan interaksi manusia hanya berlandaskan nafsu dunia bukan atas dasar keimanan demi menggapai ridho illahi.

Fenomena seperti ini bisa kita lihat tidak hanya dalam kehidupan keseharian  di masyarakat, tetapi juga dalam interaksi para elit politik di negeri ini. Realitas politik di alam demokrasi, politisi berpindah haluan sudah biasa terjadi.

Tetapi ada yang menarik terkait etika berpolitik para elit partai yang mewarnai hiruk pikuk pilpres saat ini. Salah satu yang ramai menuai perhatian publik baru-baru ini adalah beralihnya dukungan mantan ketua umum PSSI yang sekaligus eks politikus partai Gerindra La Nyalla Mattalitti.
Masih segar dalam ingatan bagaimana kasus mahar politik La Nyalla dengan Prabowo yang sempat menggegerkan jagat politik di tanah air.

Lalu apakah pengakuan La Nyalla terkait keterlibatan dirinya dalam kampanye hitam terhadap Jokowi lewat isu PKI sebagai bentuk balas dendam politik atau bukan entahlah. Hanya La Nyalla dan Tuhan yang tahu. Terlepas dari benar atau tidaknya isu ini,  yang pasti pengakuan dan permohonan maaf seorang La Nyalla kini telah membawanya berdiri tegak membela petahana.

Penulis  jadi teringat dengan kasus yang menjerat habib Bahar bin Smith dimana narasi dakwahnya diduga menghina Presiden Jokowi. Penulis pun berandai-andai tanpa bermaksud apapun. Seandainya habib mau meminta maaf pada Jokowi meskipun apa yang dilakukannya belum jelas dimana letak kesalahannya. Mungkinkah beliau juga akan terbebas dari jerat hukum? 

Yang jelas hal ini membuat kita semakin memahami  realita  politik demokrasi . Tidak ada dukungan abadi dalam demokrasi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Dimana kaki dipijak disitulah tuan disanjung. Seseorang bisa melakukan berbagai cara demi meraih apa yang ingin dicapainya. Ini potret bahwa demi sebuah jabatan dan kekuasaan dalam demokrasi orang bisa menghalalkan segala cara. Memutar balikan fakta demi sebuah dukungan suara adalah keniscayaan.

Dari sini saja kita bisa menilai baik tidaknya etika berpolitik seperti ini. Tetapi itulah konsekuensi dari sebuah ideologi yang mengabaikan syariat agama dalam kehidupan termasuk dalam berpolitik. Karena sejatinya, baik tidaknya sebuah proses politik tergantung kepada ideologi yang diembannya.
Demokrasi sekuler sendiri telah meniscayakan kebebasan berperilaku dalam kehidupan termasuk dalam hal politik. Maka bukan hal aneh, sikap politik bunglon atau kutu loncat mewarnai alam politiknya.

Hal seperti ini tidak akan terjadi dalam politik Islam yang menjadikan syariat sebagai panduannya. Kecintaan, kebencian dan dukungan terhadap sesuatu tentu hanya boleh didasarkan pada syariat saja. Dimana halal dan haram menjadi standar dalam perbuatannya.

Sehingga segala perilaku tentu tidak akan keluar dari aturan yang sudah di tetapkan oleh Islam. Meskipun manusia fitrahnya tak luput dari salah dan khilaf. Tetapi dengan Aqidah Islam moralitas dan akhlaqnya akan terjaga dengan baik.

Posting Komentar