Oleh: Zulaika
(Akademi Menulis Kreatif3)

Mediaoposisi.com- Aksi unjuk rasa yang dilakukan 70 ribu guru honorer di seberang Istana Merdeka itu berakhir sia-sia karena tidak mendapatkan jawaban dari pihak istana. Mereka terus berunjuk rasa hingga bermalam di sana beralaskan aspal dan beratapkan langit. Aksi kembali dilanjutkan keesokan harinya. Namun mereka terpaksa membubarkan aksi karena tanpa hasil. Padahal mereka hanya menuntut soal nasib para guru honorer yang telah lama mengabdi namun tidak kunjung diangkat sebagai PNS (Pegawai negri Sipil).

Menurut Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I), Titi Purwaningsih mengatakan, menurutnya  kebijakan pemerintah saat ini tidak sesuai dengan janji pemerintah dulu. Sebab, pemerintah hanya membuka kesempatan guru honorer yang bisa mengikuti tes CPNS (Calon Pegawai Negri Sipil) adalah yang berusia dibawah umur 35 tahun. Padahal banyak guru honorer yang sudah berusia diatas itu. Pembatasan umur yang diberlakukan pemerintah adalah kebijakan yang tidak adil karena guru yang sudah mengabdi cukup lama justru tidak mempunyai peluang untuk menjadi PNS (Kompas.co).

Lagi-lagi pemerintah ingkar janji untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya terutama guru. Kebijakan pemerintah terkait pengangkatan guru honorer menjadi PNS dibawah usia 35 tahun dinilai dzalim karena mengabaikan guru honorer yang cukup lama mengabdi namun tidak berpeluang menjadi PNS. Padahal guru adalah ujung tombak dalam mencetak generasi pengisi peradaban masa depan bangsa bahkan dunia. Banyak hal yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan saat ini.

Diantaranya adalah amoral pelajar yang semakin parah, minimnya kesejahteraan guru honorer bahkan banyaknya sekolah-sekolah yang jauh dari kata layak dari segi fasilitas. Kebijakan rezim sekuler saat ini terhadap guru membuat guru pontang-panting mencari dana atau usaha tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga guru hanya mengajar sekenanya karena banyak administrasi yang menanti untuk diselesaikan.

Belum lagi kontrol pemerintah terhadap kebebasan bermedia sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya hingga siswa-siswi yang bertindak asusila seperti banyaknya siswa yang terpapar video porno, kehamilan yang tidak diinginkan, terkuaknya grup WhatsApp "Allstars"  dan lain sebagainya. Bertambahlah tugas guru  namun pemerintah tidak mengapresiasi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan berkurangnya tugas pokok dan fungsi guru sebagai pendidik generasi.

Menjadi guru ideal adalah dambaan bagi setiap pendidik sejati. Naluri sebagai guru sudah pasti menggebu untuk memberikan yang terbaik dalam profesi yang digelutinya. Bukan hanya transfer ilmu tapi juga membersamai peserta didik untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul baik secara intelektual maupun budi pekertinya. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi dari berbagai komponen.

Komponen utama yang paling besar pengaruhnya adalah pemerintah atau negara. Negara berkewajiban menyelenggarakan atmosfer pendidikan yang kondusif baik sarana maupun prasarana, memberikan fasilitas terbaik tanpa pandang bulu, memblokir seluruh konten-konten negatif yang ada di media sosial maupun televisi. Negara juga harus menjamin kesejahteraan para guru dengan upah yang layak hingga fokus mereka hanya mengajar dan mendidik saja.

Sistem Islam memandang ilmu adalah hal yang wajib dipelajari, menjadikan Daulah Islam bersungguh-sungguh untuk memfasilitasi. Mengkader para guru yang berkepribadian Islam dan memiliki kapabilitas yang tinggi sehingga mampu mencetak para ilmuwan yang mumpuni tidak hanya di satu bidang keilmuan saja melainkan banyak ilmu cabang yang dikuasai. Kualitas guru, output yang dihasilkan juga fasilitas "wah" yang ada tentu tidak muncul Serta merta.

Utamanya adalah perihal pembiayaan. Upah para guru maupun anggaran untuk fasilitas sarana dan prasarana, luar biasanya telah tuntas tanpa kendala berarti di dalam sistem Islam. Pada masa Khalifah Al Ma'mun, misalnya, seorang pengajar diberi gaji 50-200 Dinar setiap bulannya. Jika 1 Dinar setara dengan 4,25 gram emas, maka dapat kita bayangkan berapa gaji  guru pada masa kekhalifahan Islam? Maka dengan begitu, pendidik ideal akan sangat mudah terwujud dan masa depan generasi yang akan datang terjamin dari segi intelektualitas maupun budi pekertinya.[MO/sr]





Posting Komentar