Oleh:Yeni Mulyani
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-JAKARTA, - Jutaan warga dari berbagai wilayah terus berdatangan sejak malam tadi ke Monumen Nasional (Monas) untuk mengikuti acara Reuni Akbar 212, Ahad (2/12) dini hari.
DAKTA.COM


Peserta Reuni Akbar 212 mulai mengikuti rangkaian kegiatan mulai pukul 03.00 WIB dari sholat tahajud bersama, subuh berjamaah, dilanjutkan dengan dzikir dan istighotsah Kubro, hingga waktu Zuhur tiba.Jumlah massa yang mengikuti reuni 212 datang dari sejumlah elemen masyarakat, lembaga, dan ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI).

Massa umat Muslim datang dengan membawa atribut bertuliskan kalimat tauhid dan bendera merah putih, ada yang menarik disini ketika aksi damai ini diawali pada tahun 2016 lalu dan ini yang ke 3kalinya, namun kehadiran peserta bukannya semakin surut malah makin bertambah banyak luar biasa.

Kalau dulu ketika aksi 212 ditahun 2016, awalnya masyarakat muslim khususnya tidak Ridho atas penistaan agama yang dilakukan ahok ketika masih menjabat gubernur DKI kala itu, nah kali ini pun umat sama tergerak untuk hadir dan berkumpul di monas karena satu perasaan yang sama yaitu umat tidak Ridho atas beberapa kejadian yang menistakan dan menghina ajaran islam puncaknya adalah pembakaran bendera tauhid yang dilakukan kelompok banser beberapa waktu lalu.

Belum lagi, dengan menyaksikan bagaimana hukum tidak bisa bertindak adil terhadap kaum muslimin, sebagai contoh ketika pembakar bendera tauhid ditangkap dan diadili ternyata hanya dijatuhi hukuman 10 hari penjara dan denda sebesar 2000 rupiah.

Sungguh, ini benar-benar sangat menyakitkan dan menghinakan Islam, dari sinilah umat Islam diberbagai kota tergerak hatinya datang berbondong-bondong menuju Jakarta untuk memperlihatkan semangatnya membela kalimat tauhid.

Inilah fakta yang nyata dan dapat kita saksikan bersama bahwa kalimat tauhid adalah lambang pemersatu umat yang akan menyatukan umat dari berbagai golongan, kalangan, maupun organisasi,
Kalimat “Laa Illaha Illallah” mempunyai kedudukan amat mulia dalam ajaran Islam. Kalimat yang merupakan pondasi tertinggi dan inti sari ajaran Islam. Inilah yang menjadikan kalimat tauhid bukan kalimat sembarangan. Karena kalimat ini adalah sebuah kalimat suci yang mampu mengantarkan seorang Muslim masuk surga; yang dapat memberatkan timbangan amal; yang dapat menghalau jilatan api neraka; serta kalimat yang menjadi syarat Islamnya seseorang.

Sebagaimana yang diketahui bahwa kalimat tauhid yang berbunyi “Laa illahha illallah Muhammadar Rasulullah”, merupakan sebuah kalimat suci dan mulia bagi umat Muslim. Kalimat yang berisi makna kecintaan tertinggi pada Allah dan Rasul-Nya. Dan sudah pasti setiap Muslim yang mencintai sepenuh hati Rabb dan Rasul-Nya tidak akan pernah terima jika kalimat ini dilecehkan. Akan sangat marah jika hal yang sangat dicintai diusik hingga dihinakan. Tak salah jika muncul ghiroh (rasa cemburu) luar biasa di hati seluruh Muslim, yang berujung pada kemarahan dan kecaman keras atas pelecehan terhadap kalimat tauhid. Buya Hamka pernah berkata, “Jika diam saat agamamu dihina, maka gantilah bajumu dengan kain kafan.[MO/an]






Posting Komentar